Rabu, 13 Juni 2012

Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Pemberian ASI Ekslusif

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal (Depkes, 1992). Visi pembangunan kesehatan sebagaimana dirumuskan dalam Visi Indonesia Sehat 2010 adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia  (Depkes, 1999).

Masih tingginya Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia yaitu sebesar 46/1000 kelahiran hidup (SDKI, 2002) dan penurunannya yang lambat merupakan masalah prioritas yang belum teratasi. Penanganan masalah ini tidaklah mudah, karena faktor yang melatarbelakangi kematian bayi sangat kompleks (Depkes, 2002). Tingginya AKB antara lain disebabkan oleh kejadian diare dan infeksi saluran pernafasan. Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya kejadian diare dan infeksi saluran pernafasan adalah penghentian Air Susu Ibu (ASI) sebelum waktunya, karena pemberian makanan atau zat tambahan lain sebelum waktunya akan mengganggu kekebalan alami yang dimiliki bayi (Depkes, 2002).
Untuk mewujudkan penurunan angka kematian dan kesakitan bayi dapat dimulai dengan peran serta ibu dalam menyusui, dengan menyusui merupakan cara pemberian Air Susu Ibu guna pemenuhan nutrisi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi.  Di dalam ASI terkandung faktor pertahanan tubuh seperti laktoferin, lizozim, imunologi dan zat-zat hidup lain, juga mengandung gizi yang sempurna yang tidak terdapat dalam susu formula   (Tjokronegoro, 1992).
Pemberian ASI eksklusif kepada bayi selama enam bulan pertama terbukti menurunkan angka kematian pada anak balita.  Selain itu ASI juga memberikan keuntungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi dan terbukti dapat mencegah berbagai penyakit akut dan menahun.  Menurut laporan World Health Organization (WHO) tahun 2000, lebih kurang 1,5 juta anak meninggal karena pemberian makanan yang tidak benar.  Kurang dari 15 persen bayi di seluruh dunia diberi ASI eksklusif selama enam bulan dan seringkali pemberian makanan pendamping ASI tidak sesuai dan tidak aman.  Hampir 90 persen kematian anak balita terjadi di negara berkembang.  Dari jumlah itu, 40 persen lebih kematian disebabkan diare dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan pemberian ASI eksklusif (Kompas, 2004).
ASI  sebagai makanan alamiah adalah makanan terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu kepada anak yang baru dilahirkannya.  Selain komposisinya sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan serta kebutuhan bayi pada setiap saat, ASI juga mengandung zat pelindung yang dapat menghindari bayi dari berbagai penyakit infeksi.  Pemberian ASI juga mempunyai pengaruh emosional luar biasa, yang mempengaruhi hubungan batin ibu dan anak serta perkembangan jiwa si anak kelak (Suradi, 2002).
Sebagai makanan terbaik bagi bayi, ASI harus diberikan sedini mungkin yaitu 30 menit segera setelah persalinan (inisiasi ASI dini).  Pemberian ASI dini memberikan keuntungan dan merupakan kunci keberhasilan menyusui selanjutnya.  Keuntungan bagi bayi yaitu lebih cepat mendapat kolostrum yang banyak mengandung anti bodi dan bagi ibu memperkecil terjadinya perdarahan setelah pesalinan, mempercepat rangsangan pada payudara untuk mengeluarkan ASI dan menambah rasa percaya diri ibu bahwa ia mampu untuk menyusui (Suradi, 2003).  Bagi negara pemberian ASI dapat menghemat devisa negara dan bagi keluarga mengurangi pengeluaran untuk membeli susu, (Roesli, 2002).
ASI adalah nutrisi terbaik bagi bayi dengan kandungan gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal.  Menurut Williams (2006) yang terdapat pada situs Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, menyebutkan ASI mengandung sedikitnya 100 macam zat yang tidak terdapat dalam susu formula.  Pemberian ASI Eksklusif dari berbagai segi akan sangat menguntungkan.  Selain bagi bayi, ASI bagi ibu dapat mengurangi resiko perdarahan setelah melahirkan, mempercepat pemulihan kesehatan ibu, menunda kehamilan, dan mengurangi resiko terkena kanker payudara.  Lebih daripada itu dari sudut pandang psikologis, ASI adalah sarana pendekat hubungan ibu dan bayi yang paling efektif, (http://64.203.71.11/kompas-cetak/0412/13/swara/1426091 ).
WHO (World Health Organization) merekomendasikan agar bayi baru lahir mendapat ASI Eksklusif (tanpa tambahan apa-apa) selama 6 bulan. Bahkan, WHO mengeluarkan kode etik yang mengatur agar bayi wajib diberi ASI ekslusif sampai usia minimum 6 bulan.  WHO pun menyarankan, pemberian ASI dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan dilengkapi makanan tambahan (Depkes, 2002).
Pemerintah Indonesia pun mengeluarkan keputusan Menkes sebagai penerapan kode etik WHO.  Dalam keputusan itu dicantumkankan soal pemberian ASI ekslusif (Permenkes nomor 450/Menkes/SK/IV/2004). 
UNICEF (United Nation Children’s Fund) menyatakan, sebanyak 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia setiap tahunnya dapat dicegah melalui pemberian ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak kelahiran, tanpa harus memberikan makanan atau minuman tambahan pada bayi.  Meskipun manfaat memberikan ASI eksklusif dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan anak telah diketahui secara luas, namun kesadaran para ibu untuk memberikan ASI eksklusif di Indonesia baru sekitar 14%, itu pun diberikan hanya sampai bayi berusia empat bulan.  Menurut UNICEF dalam Anggraini (2006) menyebutkan bahwa bayi yang diberikan susu formula memiliki kemungkinan untuk meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya.  Peluang itu 25 kali lebih tinggi dibandingkan bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif.  Banyaknya kasus kurang gizi  pada anak-anak berusia dibawah dua tahun dapat diminimalisir melalui pemberian ASI eksklusif.  Oleh sebab itu, sudah sewajarnya ASI eksklusif dijadikan sebagai prioritas program di negara kita yang sedang berkembang.  UNICEF menyebutkan bahwa ketidaktahuan ibu tentang pentingnya ASI, cara menyusui dengan benar, serta pemasaran yang dilancarkan secara agresif oleh para produsen susu formula merupakan faktor penghambat bagi terbentuknya kesadaran orang tua dalam memberikan ASI eksklusif (Anggraini, 2006).
Menurut hasil Survey Demografi dan Kesehatan Dunia (SDKI) tahun 2002-2003, didapati data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi dibawah usia dua bulan hanya mencakup 64% dari total bayi yang ada. Persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi.  Yakni, 46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-5 bulan, yang lebih memprihatinkan, 13% bayi dibawah dua bulan telah diberi susu formula (Media Indonesia Online, 2005).
         Pemberian ASI ekslusif di Provinsi Lampung pada tahun 2006 sebesar 40,62% dari target pencapaian sebesar 80%  (Dinkes Provinsi Lampung, 2006),  sedangkan untuk Kota Bandar Lampung pencapaian ASI eksklusif pada tahun 2006 sebesar 78,66% dari target pencapaian sebesar 80%, sedangkan pada tahun 2007 mengalami penurunan yaitu sebesar 59,40% dari target pencapaian sebesar 80%  (Dinkes Kota Bandar Lampung, 2002).
         Puskesmas Kemiling merupakan salah satu puskesmas di Kota Bandar Lampung. Pada tahun 2007 di wilayah kerja Puskesmas Kemiling terdapat 5 kasus kematian bayi yaitu 3 karena BBLR dan 2 karena kelainan congenital. Sementara di Puskesmas Kemiling pemberian ASI eksklusif menunjukan dari jumlah 766 bayi yang mendapatkan ASI eksklusif hanya 536 bayi atau 69,97%  dari target 80%. Dari 3 kelurahan yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Kemiling, yaitu Kelurahan Langkapura, Kelurahan Sumberejo dan Kelurahan ZZZ, cakupan ASI eksklusif yang paling rendah ada di Kelurahan ZZZ yaitu 52,4% (Puskesmas Kemiling, 2008).
         Hasil pre survei yang dilakukan di Kelurahan ZZZ oleh peneliti terhadap 30 ibu yang menyusui ditemukan 10 orang (33,3%) yang memberikan ASI secara eksklusif dan 20 orang (66,7%) yang tidak memberikan ASI secara eksklusif. Hal ini dikarenakan adanya pendapat (sebanyak 60%) yang menyatakan bahwa anak harus diberi makanan selain ASI sedini mungkin agar lebih cepat besar.     
         Berdasarkan fenomena yang ada, yaitu masih rendahnya cakupan perilaku ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor–faktor yang berhubungan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ tahun 2008.

1.2.   Identifikasi dan Perumusan Masalah
1.2.1 Identifikasi Masalah
Dari uraian terdahulu, identifikasi masalah yang dapat disusun adalah :
1.2.1.1.     Angka kematian bayi masih tinggi yaitu 46/1000 kelahiran hidup dari target 40/1000 kelahiran hidup.
1.2.1.2.     Pencapaian cakupan ASI eksklusif di Provinsi Lampung dan di Kota Bandar Lampung masih kurang dari target yaitu sebesar 80%,.
1.2.1.3.     Di Puskesmas Kemiling  kasus kematian bayi pada tahun 2007 sebesar 5 kasus yang tergolong cukup tinggi, begitu pula dengan cakupan ASI eksklusif yang masih rendah yaitu hanya sebesar 69,97%.
1.2.1.4.     Cakupan ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ merupakan yang paling rendah dari seluruh kelurahan yang ada di Puskesmas Kemiling yaitu 52,4%, dan berdasarkan pre survei yang dilakukan peneliti terhadap 30 orang ibu menyusui diketahui bahwa cakupan ASI eksklusif hanya sebesar 33,3%. 

1.2.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas maka perumusan masalah yang dapat diajukan adalah: “Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ tahun 2008”.

1.3.   Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1. Tujuan Penelitian
1.3.1.1. Tujuan Umum
         Diketahuinya faktor–faktor yang berhubungan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ tahun 2008.
1.3.1.2. Tujuan Khusus
a)     Diketahuinya gambaran perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ.
b)     Diketahuinya gambaran umur ibu menyusui di Kelurahan ZZZ.
c)     Diketahuinya gambaran tingkat pendidikan ibu menyusui di Kelurahan ZZZ.
d)    Diketahuinya gambaran jenis pekerjaan ibu menyusui di Kelurahan ZZZ.
e)     Diketahuinya gambaran tingkat pengetahuan ibu menyusui di Kelurahan ZZZ.
f)      Diketahuinya gambaran budaya ibu menyusui di Kelurahan ZZZ.
g)     Diketahuinya gambaran sikap ibu menyusui di Kelurahan ZZZ.
h)     Diketahuinya gambaran dukungan keluarga ibu menyusui di Kelurahan ZZZ.
i)       Diketahuinya gambaran dukungan tenaga kesehatan terhadap ibu menyusui di Kelurahan ZZZ.
j)       Diketahuinya hubungan umur ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ.
k)     Diketahuinya hubungan tingkat pendidikan ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ.
l)       Diketahuinya hubungan jenis pekerjaan ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ Kecamatan Kota Bandar Lampung.
m)   Diketahuinya hubungan pengetahuan ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ.
n)     Diketahuinya hubungan budaya dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ.
o)     Diketahuinya hubungan sikap ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ.
p)     Diketahuinya hubungan dukungan keluarga terhadap ibu dalam pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ.
q)     Diketahuinya hubungan dukungan tenaga kesehatan terhadap ibu dalam pemberian ASI eksklusif di Kelurahan ZZZ.

1.3.2.  Manfaat Penelitian
1.3.2.1. Untuk Puskesmas ZZZ
a)      Meningkatkan kepedulian tenaga kesehatan/petugas puskesmas dalam hal penyuluhan tentang ASI ekslusif pada ibu menyusui dan dapat dijadikan bahan masukan untuk peningkatan pengetahuan tentang ASI 
b)      Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan terhadap peningkatan pemberian ASI ekslusif dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan
1.3.2.2. Untuk STIKES ZZZ
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan dalam memberikan mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian ini.
1.3.2.3. Untuk Penulis
Sebagai syarat dalam menyelesaikan pendidikan Sarjana Kesehatan Masyarakat dan sekaligus merupakan tambahan wawasan dalam bidang gizi khususnya masalah ASI eksklusif.

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg