Minggu, 22 April 2012

Hubungan Tingkat Pengetahuan Penderita Hipertensi Dengan Kepatuhan Diet Hipertensi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tekanan darah mencerminkan resistensi yang dihasilkan setiap saat jantung berdenyut dan mengirimkan aliran darah melalui arteri. Catatan tertinggi tekanan yang di timbulkan oleh kontraksi ini disebut tekanan sistolik (angka pertama dalam catatan tekanan darah). Antar denyut jantung istirahat dan tekanan darah turun. Sedangkan catatan paling rendah disebut tekanan diastolik (angka kedua dalam catatan tekanan darah). Catatan tekanan darah yang normal bagi orang dewasa adalah 120 untuk sistolik dan 80 pada diastolik (Lovastatin, 2006).


Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg), dimana rentang tekanan darah normal bagi orang dewasa adalah 120/80 mmHg (Joint National Conference dan World Health Organization, 2008).

Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah, yang cukup banyak mengganggu kesehatan masyarakat. Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu Hipertensi Primer atau esensial yang penyebabnya tidak diketahui dan Hipertensi Sekunder yang dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung gangguan anak ginjal, dan lain-lain. Tercatat 90% dari seluruh penderita hipertensi masuk kategori hipertensi primer atau esensial yang penyebabnya belum diketahui. Sisa 10% adalah penderita hipertensi sekunder yang disebabkan penyakit ginjal, endokrin, jantung, gangguan anak ginjal, dan sebagainya. Hipertensi seringkali tidak menunjukkan gejala, sementara tekanan darah yang terus menerus tinggi dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu, hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, yang dapat dilakukan pada waktu check-up kesehatan atau saat periksa kedokter. Hipertensi menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal (Sudarsono,2003).

Di dunia, hampir 1 milyar orang atau 1 dari 4 orang dewasa menderita tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi merupakan penyakit kronis serius yang bisa merusak organ tubuh. Setiap tahun darah tinggi menjadi penyebab 1 dari setiap 7 kematian (7 juta per tahun) disamping menyebabkan kerusakan jantung, mata, otak dan ginjal (Irfan arief,2007). Di Amerika Serikat, 20% dari populasinya menderita hipertensi dan tiap tahunnya ada dua juta penderita hipertensi baru. Sementara WHO mencatat, dari 50% penderita hipertensi yang terdeteksi, hanya 25% mendapat pengobatan dan 12,5% bisa diobati dengan baik (http// www.Inilah.com, 2009).

Penyakit hipertensi merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Bahkan diprediksi akan meningkat jadi 1,6 milyar orang menjelang tahun 2025. Keberadaan penyakit hipertensi seringkali tidak disadari oleh si penderita sehingga ia dikenal juga sebagai the silent killer. Yang lebih memprihatinkan, pengetahuan dan pemahaman masyarakat mengenai penyakit ini masih sangat rendah sehingga penanganan / pengobatannya seringkali dilakukan dengan cara yang tidak tepat atau tidak memadai (Wanda Harahap (2008) dalam http// www.id. Novartis.com).

Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia sebesar 26,3%. Sedangkan data kematian di rumah sakit tahun 2005 sebesar 16,7%. Faktor resiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah adalah hipertensi, di samping hiperkolesterolemia dan diabetes melitus (http://www.depkes.go.id, 2008)

Hipertensi adalah faktor risiko utama penyakit-penyakit kardiovaskular yang merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Data penelitian Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2003 menunjukkan hipertensi dan penyakit kardiovaskular masih cukup tinggi dan bahkan cenderung meningkat seiring dengan gaya hidup yang jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat, mahalnya biaya pengobatan hipertensi, disertai kurangnya sarana dan prasarana penanggulangan hipertensi (http://www.depkes.go.id, 2008).

Menurut Data Riskesdas (2007) juga disebutkan prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 30% dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskular lebih banyak pada perempuan (52%) dibandingkan laki-laki (48%) (http://www.depkes.go.id, 2008).

Hipertensi dapat diperparah dengan pola makan makanan yang mengandung lemak, protein, dan garam tinggi tetapi rendah serat pangan (dietary fiber), membawa konsekuensi terhadap berkembangnya penyakit degeneratif (jantung, DM, kanker, dan osteoporosis). Hipertensi dapat dikendalikan dengan pengaturan menu bagi pederita Hipertensi dapat dilakukan dengan empat cara. Cara pertama adalah diet rendah garam, yang terdiri dari diet ringan (konsumsi garam 3,75-7,5 gram per hari), menengah (1,25-3,75 gram per hari), dan berat (kurang dari 1,25 gram per hari). Cara kedua, diet rendah kolesterol dan lemak terbatas. Cara ketiga, diet tinggi serat dan cara keempat dengan diet rendah energi (Astawan, 2005).

Untuk mengendalikan hipertensi, diperlukan kepatuhan diet dari penderita hipertensi. Menurut Sackett (1976) dalam Niven (2000), kepatuhan adalah kesadaran seseorang untuk melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Pada penderita hipertensi diperlukan kepatuhan menjalankan diet agar dapat mengendalikan hipertensi.  Diet yang diberikan untuk penderita hipertensi adalah diet rendah garam dan mengurangi makanan yang mengandung kolesterol.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi ZZZ tahun 2007 di dapatkan data sepuluh besar penyakit di provinsi ZZZ hipertensi termasuk penyakit terbanyak di Provinsi ZZZ dan menduduki peringkat ke 10 setelah penyakit keracunan makanan. Dengan jumlah 8.315 kasus (5,49%). Sedangkan data 10 besar penyakit yang ada di puskesmas penyakit hipertensi menduduki peringkat ke 3 setelah penyakit diare dengan jumlah 52.147 kasus (9,87 %). Berdasarkan data yang diperoleh dari ruang poli jantung Rumah Sakit Umum Daerah ZZZ (RSZZZ) Provinsi ZZZ tahun 2007 sebanyak 14843 orang, sedangkan jumlah pasien hipertensi sebanyak 3696 orang (24,90 %), dengan pembagian hipertensi esensial sebanyak 1839 kasus (49,75 %), dan hipertensi sekunder 1857 kasus (50,25 %), dengan pasien baru 832 orang (22,51 %), dan pasien lama atau kunjungan ulang 2864 orang (77,49 %). Bedasarkan laporan rekam medik RSZZZ penyakit hipertensi merupakan penyakit peringkat pertama di ruang poli jantung.

Berdasarkan laporan rekam medik yang diperoleh  pada tahun 2008 jumlah pasien di ruang poli jantung Rumah Sakit Umum Daerah ZZZ (RSZZZ) Provinsi ZZZ sebanyak 8.707 orang, dengan pembagian hipertensi sekunder sebanyak 2.081 kasus (23,90 %), hipertensi esensial 1.861 kasus (21,37 %), jantung dengan hipertensi (15,7 %), Angina pektoris stabil 1.367 kasus (15,70 %), Regurgitas mitral 731 kasus (8.39 %), Ginjal dengan hipertensi 542 kasus (6,22 %), Aritmia 422 kasus (4,85 %), jantung dengan komplikasi 409 kasus (4,69 %), ASD 398 kasus (4,57 %), MS 389 kasus (4,46 %).Berdasarkan laporan rekam medik RSZZZ penyakit hipertensi merupakan penyakit peringkat pertama di poli jantung tahun 2008. 

Berdasarkan presurvey yang peneliti lakukan di Poli Jantung Rumah Sakit Umum Daerah ZZZ (RSZZZ) pada 3 april 2009, didapatkan data bahwa terdapat 10(100 %) pasien yang sedang berobat karena hipertensi. Dari jumlah tersebut didapatkan hasil lima orang (50%) berjenis kelamin laki-laki, lima orang (50%) berjenis kelamin perempuan, enam orang (60%) berusia 50-60 tahun, empat orang (40%) berusia lebih dari 60 tahun. Tujuh orang (70%) berpengetahuan kurang baik tentang diet hipertensi dan masih mengkonsumsi makanan yang asin, tiga orang (30%) berpengetahuan baik tentang diet hipertensi dan sudah mengurangi makanan yang asin.

Berdasarkan fenomena tersebut diatas peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan penderita hipertensi dengan kepatuhan diet hipertensi di Poli Jantung RSUD Dr. H. ZZZ tahun 2009.

1.2        Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas maka peneliti dapat mengidentifikasi masalah:
1.2.1        Di dunia, hampir 1 milyar orang atau 1 dari 4 orang dewasa menderita tekanan darah tinggi.
1.2.2        Di Amerika Serikat, 20% dari populasinya menderita hipertensi dan tiap tahunnya ada dua juta penderita hipertensi baru. Sementara WHO mencatat, dari 50% penderita hipertensi yang terdeteksi, hanya 25% mendapat pengobatan dan 12,5% bisa diobati dengan baik (http// www.Inilah.com, 2009).
1.2.3        Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia sebesar 26,3%. Sedangkan data kematian di rumah sakit tahun 2005 sebesar 16,7%. Faktor resiko utama penyakit jantung dan pembuluh darah adalah hipetensi, di samping hiperkolesterollemia dan diabetes melitus (http://www.depkes.go.id, 2008).
1.2.4        Menurut Data Riskesdas (2007) juga disebutkan prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 30% dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskular lebih banyak pada perempuan (52%) dibandingkan laki-laki (48%) (http://www.depkes.go.id, 2008).
1.2.5        Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi ZZZ tahun 2007 di dapatkan data sepuluh besar penyakit di provinsi ZZZ hipertensi termasuk penyakit terbanyak di Provinsi ZZZ dan menduduki peringkat ke 10 setelah penyakit keracunan makanan. Dengan jumlah 8.315 kasus (5,49%). Sedangkan data 10 besar penyakit yang ada di puskesmas penyakit hipertensi menduduki peringkat ke 3 setelah penyakit diare dengan jumlah 52.147 kasus (9,87 %). Berdasarkan data yang diperoleh dari ruang poli jantung Rumah Sakit Umum Daerah ZZZ (RSZZZ) Provinsi ZZZ tahun 2007 sebanyak 14843 orang, sedangkan jumlah pasien hipertensi sebanyak 3696 orang (24,90 %), dengan pembagian hipertensi esensial sebanyak 1839 kasus (49,75 %), dan hipertensi sekunder 1857 kasus (50,25 %), dengan pasien baru 832 orang (22,51 %), dan pasien lama atau kunjungan ulang 2864 orang (77,49 %). Bedasarkan laporan rekam medik RSZZZ penyakit hipertensi merupakan penyakit peringkat pertama di ruang poli jantung.
1.2.6        Berdasarkan laporan rekam medik yang diperoleh  pada tahun 2008 jumlah pasien di ruang poli jantung Rumah Sakit Umum Daerah ZZZ (RSZZZ) Provinsi ZZZ sebanyak 8.707 orang, dengan pembagian hipertensi sekunder sebanyak 2.081 kasus (23,90 %), hipertensi esensial 1.861 kasus (21,37 %), jantung dengan hipertensi (15,7 %), Angina pektoris stabil 1.367 kasus (15,70 %), Regurgitas mitral 731 kasus (8.39 %), Ginjal dengan hipertensi 542 kasus (6,22 %), Aritmia 422 kasus (4,85 %), jantung dengan komplikasi 409 kasus (4,69 %), ASD 398 kasus (4,57 %), MS 389 kasus (4,46 %).Berdasarkan laporan rekam medik RSZZZ penyakit hipertensi merupakan penyakit peringkat pertama di poli jantung tahun 2008.
1.2.7        Berdasarkan presurvey yang peneliti lakukan di Poli Jantung Rumah Sakit Umum Daerah ZZZ (RSZZZ) pada 3 april 2009, didapatkan data bahwa terdapat 10(100 %) pasien yang sedang berobat karena hipertensi. Dari jumlah tersebut didapatkan hasil lima orang (50%) berjenis kelamin laki-laki, lima orang (50%) berjenis kelamin perempuan, enam orang (60%) berusia 50-60 tahun, empat orang (40%) berusia lebih dari 60 tahun. Tujuh orang (70%) berpengetahuan kurang baik tentang diet hipertensi dan masih mengkonsumsi makanan yang asin, tiga orang (30%) berpengetahuan baik tentang diet hipertensi dan sudah mengurangi makanan yang asin.  
1.3        Perumusan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas dapat dirumuskan bahwa permasalahnya penelitiannya yaitu bagaimana hubungan antara  tingkat pengetahuan pasien hipertensi dengan kepatuhan diet hipertensi di Poli Jantung RSUD Dr. H. ZZZ Tahun 2009.

1.4        Tujuan Penelitian
1.4.1  Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara Tingkat pengetahuan pasien Hipertensi dengan Kepatuhan Diet Hipertensi di Poli Jantung RSUD Dr. H. ZZZ Tahun 2009.


1.4.2  Tujuan Khusus
1.4.2.1  Mengetahui tingkat pengetahuan pasien hipertensi tentang diet hipertensi di Poli Jantung RSUD Dr. H. ZZZ Tahun 2009.
1.4.2.2  Mengetahui kepatuhan pasien hipertensi terhadap diet hipertensi di Poli Jantung RSUD Dr. H. ZZZ Tahun 2009.
1.4.2.3  Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan pasien hipertensi dengan kepatuhan diet hipertensi di Poli Jantung RSUD Dr. H. ZZZ Tahun 2009.

1.5        Manfaat Penelitian
1.5.1        Bagi RSZZZ
            Penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh institusi pelayanan kesehatan sebagai bahan masukan dalam melakukan promosi kesehatan tentang gaya hidup sehat bagi penderita Hipertensi maupun bagi masyarakat sehat.
1.5.2        Bagi Institusi Poltekkes Depkes Prodi Keperawatan
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat mendukung penelitian-penelitian yang sudah pernah dilakukan dalam lingkup gaya hidup yang hubungannya dengan hipertensi dan diharapkan dapat menambah khasanah Ilmu Keperawatan yang selalu berkembang.
1.5.3        Manfaat Bagi Peneliti
            Peneliti dapat lebih memahami bagaimana hubungan antara Tingkat pengetahuan pasien hipertensi dengan kepatuhan diet hipertensi, sekaligus sebagai aplikasi mata kuliah Penulisan Karya Tulis Ilmiah dan Metodologi Riset.

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg