Minggu, 11 Maret 2012

Pengetahuan dan Sikap Remaja Mengenai Pencegahan Bahaya Seks Bebas

BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang

Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata di seluruh wilayah Republik Indonesia.
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk menguatkan mutu sumber daya manusia yang sehat, cerdas dan produktif serta mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat dengan komitmen yang tinggi  terhadap kemanusiaan dan etika dan dilaksanakan dengan semangat pemberdayaan dan kemitraan yang tinggi (Depkes RI, 2005).

Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, sosial semata-mata bebas dari pengaruh dan kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi. Kesehatan reproduksi remaja sudah menjadi isu global pada saat ini. Berbagai upaya untuk membantu remaja agar memiliki pengetahuan, kesadaran sikap dan perilaku seksual yang bertanggung jawab telah banyak dikembangkan oleh berbagai negara dalam tingkatan yang berlainan. Pemahaman tentang perkembangan seksual remaja merupakan salah satu pemahaman yang penting diketahui sebab masa remaja merupakan masa peralihan dari perilaku seksual anak-anak menjadi perilaku seksual pada remaja amat merugikan bagi remaja sendiri termasuk keluarganya, sebab pada masa ini remaja mengalami perkembangan yang penting yaitu emosi, sosial dan seksual (Pangkahila, 2004).

Menurut Sarwono (2006), ada beberapa hal yang menyebabkan perilaku seksual remaja, yaitu meningkatnya libido seksual; didalam upaya mengisi peran sosial remaja yang baru, seorang remaja mendapatkan motivasinya dari meningkatnya energi seksual atau libido, penundaan usia perkawinan; faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah beban daan hambatan dalam perkawinan, tabu-larangan; tabunya pembicaraan mengenai seks disebabkan karena seks dianggap sebagai bersumber pada dorongan-dorongan naluri dalam ”id”, kurangnya informasi tentang seks; aktivitas seksual dikalangan remaja jauh lebih tinggi dipedesaan, sebab pengetahuan tentang seks tidak ada sama sekali, pergaulan yang makin bebas; kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja, kiranya dengan mudah bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dikota-kota besar.

Jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja antara lain adalah kehamilan, aborsi, Penyakit Menular Seksual (PMS), kekerasan seksual, serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan. Risiko ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berhubungan, yaitu tuntunan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan gender, kekerasan seksual dan pengaruh media masa maupun gaya hidup. Diseluruh dunia anak-anak remaja baik laki-laki maupun perempuan mengalami berbagai masalah kesehatan reproduksi remaja seperti kehamilan yang tidak diinginkan, Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan masalah kesehatan reproduksi serius lainnya (Dwiyanto, 1992).
Menurut WHO setengah dari infeksi HIV diseluruh dunia terjadi pada orang muda yang berusia di bawah 25 tahun. Beberapa penelitian menunjukan bahwa remaja Indonesia berisiko untuk terkena infeksi PMS/HIV/Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Survey surveilan perilaku yang diadakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK-UI) menunjukan bahwa 2,8% pelajar SMA wanita dan 7% dari pelajar SMA pria melaporkan adanya gejala-gejala PMS pada periode setahun lalu (Utomo dkk, 1998). Sebuah penelitian di Malang dan Manado dan sebuah penelitian di Bali menunjukan bahwa 26% dan 29% anak muda berusia 20 sampai 24 tahun telah aktif seksual. Jakarta merupakan Provinsi dengan kasus HIV/AIDS tertinggi (kumulatif) sampai dengan bulan Maret 2006, yaitu sebesar 3601 kasus (Cates dan McPheeters, 1997 dalam http://www.fhi.org; Dwiyanto, 1992).

Perilaku seksual remaja di Provinsi Lampung tampaknya juga sudah menjadi permasalahan yang serius. Betapa tidak dari need assessment (penjajakan kebutuhan) yang pernah dilakukan Tim Skala (Sentra Kawula Muda Lampung kelompok remaja binaan PKBI daerah Lampung) pada bulan Maret 1997 pada 100 orang remaja di Provinsi Lampung melakukan hubungan seksual dan ada sekitar 20% responden yang menyatakan hubungan seksual diluar nikah boleh-boleh saja. Ada sekitar 41% responden yang menyatakan bahwa alasan remaja melakukan hubungan seksual karena cinta (suka sama suka) dan merupakan kebutuhan biologis. Sedangkan 54% menyatakan bahwa aktivitas seksual tersebut terjadi karena kurangnya perhatian orangtua ataupun retaknya komunikasi antara orangtua dan anak khususnya remaja (PKBI Provinsi Lampung, 2007).

Kejadian hamil diluar nikah dan aborsi pada remaja di Provinsi Lampung meningkat. Pada tahun 2005 tercatat 36 kasus, tahun 2006 menjadi 42 kasus dan tahun 2007 menjadi 68 kasus (PKBI Provinsi Lampung, 2008). Di Kota Bandar Lampung pada tahun 2007 tercatat kejadian diluar nikah dan aborsi sebanyak 2 orang. Berdasarkan laporan dari Puskesmas Sukamaju pada tahun 2005 terdapat kasus pernikahan dini dan aborsi pada remaja sebanyak 2 kasus dan pada tahun 2006 menurun menjadi satu kasus, sedangkan tahun 2007 kembali meningkat menjadi 2 kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, 2008).

Pengetahuan remaja mengenai masalah kesehatan reproduksi masih relatif rendah. Baseline survey yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), pada tahun 1999 antara lain memperlihatkan bahwa hanya sekitar 55% responden  yang mengetahui dengan benar mengenai proses kehamilan. Padahal dilain pihak para remaja saat ini (baik di daerah pedesaan maupun daerah perkotaan) lebih toleran dengan hubungan seks sebelum menikah. Sekitar 42 persen yang mengetahui tentang Human Imunodeficiency Virus-Acquired Imunodeficiency Syndrome (HIV-AIDS) dan tidak lebih dari 24 persen yang mengetahui tentang penyakit menular seksual lainnya (WHO, 1992 dalam Depkes 2002).

Berdasarkan pra survei peneliti melalui wawancara terpimpin, pada 10 siswa/i kelas XI SMA Negeri 9 Bandar Lampung, didapatkan data sebagai berikut: sebanyak 10 orang (100%) mempunyai pengetahuan kurang baik tentang bahaya seks bebas, 6 orang (60%) tidak mengerti cara mencegah seks bebas, 10 orang (100%) tidak pernah menemukan adanya seks bebas di lingkungan sekolah, 6 orang (60%) mau memberikan pengertian dan motivasi untuk tidak terjerumus kembali, 10 orang (100%) menganggap penting pencegahan bahaya seks bebas, 10 orang (100%) percaya kegiatan positif dapat mengurangi pengaruh seks bebas dan 10 orang (100%) mengatakan bahwa tahu pengaruh dari bahaya seks bebas.
Berdasarkan fenomena diatas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengetahuan dan sikap remaja mengenai pencegahan bahaya seks bebas di SMA ZZZ Tahun 2009.

1.2    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu: masih ditemukan siswa/i yang belum tahu tentang pencegahan bahaya seks bebas dan belum diketahuinya bagaimanakah pengetahuan siswa/i tentang pencegahan bahaya seks bebas di SMA ZZZ Tahun 2009?

1.3    Tujuan Penelitian

1.3.1        Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan dan sikap remaja mengenai pencegahan bahaya seks bebas di SMA ZZZ Tahun 2009.

1.3.2        Tujuan Khusus
1.      Diketahui pengetahuan remaja mengenai pencegahan bahaya seks bebas di SMA ZZZ Tahun 2009.
2.      Diketahui sikap remaja mengenai pencegahan bahaya seks bebas di SMA ZZZ Tahun 2009.
1.4    Manfaat Penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.4.1        Peneliti
Sebagai penerapan dalam mata kuliah metode penelitian dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam penelitian.
1.4.2        Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

1.4.3        Bagi Tenaga Kesehatan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan berupa saran yang dapat terus ditingkatkan dan dikembangkan untuk diteruskan menjadi informasi khususnya mengenai kesehatan reproduksi remaja.

1.4.4        Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat khususnya kepada remaja siswa/i yang ada di SMA ZZZ.

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg