BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kasus tetanus banyak dijumpai di sejumlah negara tropis dan negara yang
masih memiliki kondisi kesehatan rendah. Data organisasi kesehatan dunia WHO
menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih
tinggi dibanding negara maju. Tetanus adalah salah satu penyakit menular dan
paling berisiko mengakibatkan kematian (Depkes RI, 2008).
Pada
tahun 2007 jumlah kasus tetanus neonatorum di antara 8 negara ASEAN, tertinggi
terjadi di Filipina dan Indonesia. Jumlah penderita di kedua negara tersebut
melebihi 100 orang. Akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, angka
tertinggi kasus tetanus neonatorum terjadi di Kamboja, Indonesia justru berada
di urutan ke-5. Sedangkan Singapura dan Thailand merupakan negara dengan kasus
terendah, baik dari jumlah kasus maupun jika dibandingkan dengan jumlah
penduduk. Di Singapura dilaporkan tidak ada kasus tetanus neonatorum (Depkes
RI, 2008)
Pola penyebab kematian di Indonesia
menunjukkan bahwa proporsi penyebab kematian neonatal kelompok umur 0-7 hari
tertinggi adalah premature dan berat badan lahir rendah/LBW (35%), kemudian
asfiksia lahir (33,6%). Penyakit
penyebab kematian neonatal kelompok umur 8-28 hari tertinggi adalah infeksi
termasuk, sepsis, pneumonia, diare, tetanus neonatorum (57,1%) dan feeding
problem (14,3%).
Kejadian Tetanus Neonatorum
(TN) dapat dicegah dengan upaya pertolongan persalinan yang higienis ditunjang
dengan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) pada ibu hamil. Kasus tetanus neonatorum
yang terjadi di Indonesia pada tahun 2007 sebanyak 141 kasus dengan 74 orang
(52,48%) meninggal.
Kasus tetanus neonatorum di
Provinsi Lampung pada tahun 2007 sebanyak 12 kasus diantaranya (75%) meninggal dunia, dan diketahui
pula bahwa 10 diantaranya ditolong oleh dukun. Pada tahun 2008 didapatkan kasus
TN sebanyak 26 kasus (Data Rekam Medis RSUDAM Provinsi Lampung, 2008).
Di Desa Pancawarga Kecamatan Labuhan
Ratu Kabupaten Lampung Timur sepanjang tahun 2007 dan 2008 ditemukan kasus
kematian bayi sebanyak 3 kasus dimana 1 bayi meninggal akibat TN (33,3%) yang
ditangani oleh dukun. Kemudian pada awal tahun 2009 di Desa Pancawarga terdapat
1 kasus kematian akibat TN yang juga ditolong oleh dukun. Penyebab kematian
tersebut diketahui bahwa akibat adanya infeksi pada tali pusat, terlebih karena
ibu melahirkan bukan dengan tenaga kesehatan melainkan oleh dukun, sehingga
perawatan tali pusat tidak dilakukan.
Dari hasil pre survey yang
peneliti lakukan pada awal bulan Mei 2009 diketahui bahwa ibu-ibu yang bersalin
sudah diajarkan oleh bidan tentang perawatan tali pusat yang baik dan benar,
namun sangat disayangkan setelah pulang dari tempat bidan ibu-ibu tersebut
tidak melakukan perawatan tali pusat dengan baik dan benar yang sudah
diajarkan. Kemudian hasil pada saat yang
hampir bersamaan peneliti melakukan wawancara terhadap 10 orang ibu nifas di Desa
Pancawarga, dari 10 orang ibu nifas tersebut, 3 diantaranya (30%) bisa
menjelaskan kembali cara perawatan tali pusat yang baik dan benar sedangkan 7
orang (70%) tidak bisa menjelaskan kembali cara perawatan tali pusat.
Berdasarkan latar belakang
tersebut di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai “Gambaran Pengetahuan Ibu Nifas Tentang Perawatan Tali Pusat di RB ZZZ
tahun 2009.
1.2 Identifikasi
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mendeskripsikan data yang
merupakan identifikasi masalah,yaitu:
1.2.1
Di Provinsi Lampung pada tahun 2007 sebanyak 12
kasus diantaranya (75%) meninggal dunia,
dan diketahui pula bahwa 10 diantaranya ditolong oleh dukun. Pada tahun 2008 didapatkan kasus TN sebanyak 26
kasus
1.2.2
Di
desa Pancawarga Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur kasus TN pada
tahun 2007 sebanyak 3,6%. Pada awal tahun 2009 di desa Panca warga terdapat 1
kasus kematian TN yang ditolong oleh dukun.
1.2.3
Di ketahui bahwa dari 10 orang ibu nifas yang ditemui, 3
diantaranya (30%) bisa menjelaskan kembali cara perawatan tali pusat yang baik
dan benar sedangkan 7 orang (70%) tidak bisa menjelaskan kembali cara perawatan
tali pusat.
1.3 Rumusan
Masalah
Bagaimanakah pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat di RB ZZZ tahun
2009?
1.4 Tujuan
Penelitian
1.4.1
Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan
ibu tentang perawatan tali pusat di RB ZZZ tahun 2009.
1.4.2
Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahui gambaran
pengetahuan ibu nifas tentang pengertian perawatan tali pusat di RB ZZZ tahun
2009.
1.4.2.2 Diketahui gambaran
pengetahuan ibu nifas tentang tujuan perawatan tali pusat di Desa Pancawarga
Kecamatan Mataram Baru Kabupaten Lampung Timur tahun 2009.
1.4.2.3 Diketahui gambaran
pengetahuan ibu nifas tentang cara perawatan tali pusat di RB ZZZ tahun 2009.
1.4.2.4
Diketahui gambaran
pengetahuan ibu nifas tentang infeksi tali pusat di RB ZZZ tahun 2009.
1.5 Manfaat
Penelitian
1.5.1
Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
1.5.2
Bagi Petugas Kesehatan
Untuk menambah wawasan bagi petugas kesehatan, khususnya bidan dalam
memberikan informasi kepada ibu tentang pentingnya melakukan perawatan tali
pusat pada bayi dengan baik dan benar.
1.5.3
Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan pada
masyarakat khususnya ibu-ibu nifas mengenai pentingnya pengetahuan mengenai
perawatan tali pusat.
1.5.4
Bagi Penulis
Sebagai penerapan dalam mata
kuliah metode penelitian dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam
penelitian.
1.5.5
Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan awal dalam melakukan penelitian selanjutnya yang
berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat, sehingga
pengetahuan dan wawasan dalam bidang penelitian serta sebagai penerapan ilmu
yang telah didapat selama studi.







0 comments:
Poskan Komentar