Kamis, 29 Maret 2012

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Akseptor KB Pil Tidak Mau Beralih Ke IUD

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian terpadu dari pembangunan nasional yaitu mempunyai tujuan untuk mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin sehingga mewujudkan derajat kesehatan yang tinggi. Untuk mewujudkan derajat kesehatan maka perlu dilakukan upaya penurunan angka kesakitan dan angka kelahiran (Depkes 2002).

Pembangunan kesehatan yang optimal dapat tercapai perlu indikator kesehatan yaitu indikator umum dan lingkungan, indikator derajat kesehatan, indikator upaya kesehatan serta indikator pembiayaan dan tenaga kesehatan. Salah satu indikator derajat kesehatan yaitu rendahnya angka kematian dan menurunnya angka kelahiran yaitu dengan cara mengikuti program Keluarga Berencana (KB) (Hartanto, 2003).
Sasaran Keluarga Berencana ditujukan pada pasangan usia subur yang tujuannya untuk menunda atau menjarangkan kelahiran dan dalam program Keluarga Berencana menyarankan pasangan usia subur agar tidak melahirkan pada usia sebelum 18 tahun dan sesudah 35 tahun, karena wanita pada usia kurang dari 18 tahun masih dalam masa pertumbuhan sehingga panggul relative masih kecil secara biologis sudah siap tetapi secara psikologis belum matang. Untuk umur diatas 35 tahun tidak dianjurkan melahirkan karena masalah kesehatan seperti hipertensi, diabetes dan penyakit kronis lain yang bisa menyebabkan kecacatan pada anak yang akan dilahirkannya (Hartanto, 2003).

Data BKKBN Pusat terkini (2007) menyebutkan, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 224.9 juta dan merupakan keempat terbanyak di dunia, hasil sementara Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 menyebutkan, saat ini sebanyak 39 persen wanita Indonesia usia produktif yang tidak menggunakan kontrasepsi dengan sebaran 40 persen di pedesaan dan 37 persen di perkotaan (www.google.com).
Program KB memasuki tahapan baru yaitu peningkatan kualitas dan akses pelayanan. Peningkatan kualitas dan akses pelayanan KB merupakan pekerjaan rumah yang harus ditangani bersama. Kecenderungan penggunaan alat kontrasepsi di Indonesia belum berbasis pada pertimbangan rasionalitas, efektivitas dan efisiensi. Masih rendahnya peserta KB vasektomi dan tubektomi serta makin menurunnya peserta IUD dan meningkatnya penggunaan pil dan suntik serta animu yang tinggi terhadap implant merupakan salah satu bukti kesertaan masyarakat ber-KB belum mempertimbangkan ketiga hal tersebut (BKKBN Pusat, 2004).
Memilih cara kontrasepsi yang diinginkan oleh pasangan suami istri di Indonesia dianjurkan menurut sistem cafetaria yaitu akseptor KB bebas menentukan jenis kontrasepsi yang diinginkan yang sesuai dengan pilihannya, namun demikian yang dianjurkan adalah yang mempunyai efektifitas tinggi, manjur, aman, murah dan praktis. Alat kontrasepsi KB suntik di Indonesia semakin banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya praktis, harganya relative murah dan aman (Mochtar, 1998).
Program KB nasional dalam kurun waktu tiga dasawarsa, telah mencapai keberhasilan yang cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan semakin diterimanya norma keluarga kecil sebagai bagian dari tata kehidupan masyarakat, yang tercermin dari semakin meningkatnya angka kesertaan ber KB, mengecilnya rata-rata jumlah anak yang dimiliki keluarga, menurunnya angka kematian ibu, bayi dan anak, serta menurunnya angka pertumbuhan penduduk. Berdasarkan hasil sensus penduduk (SP) 1990 dan 2000 jumlah penduduk Indonesia adalah 179,4 juta dan 206,2 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49 % pada periode 1990-2000, atau lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk periode 1970-1980 (2,32 %) dan periode 1980-1990 (1,97%).
Laju pertumbuhan penduduk yang terus menurun juga diikuti dengan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, seperti usia harapan hidup meningkat dari 60 tahun pada tahun 1990 menjadi 66,2 tahun pada tahun 2000 dan angka kematian bayi menurun dari 71 (1990) menjadi 48 (2000) menjadi per 1000 kelahiran hidup. Bahkan hasil survey kesehatan dan demografi Indonesia menunjukkan angka kematian bayi yang semakin menurun, yaitu 29 per 1000 kelahiran hidup. Hal ini antara lain didukung oleh makin meningkatnya proporsi kelahiran yang ditolong oleh  tenaga kesehatan terlatih, dari sekitar 40 % pada tahun 1992 menjadi sekitar 70 % pada tahun 2008 (SDKI 2008).
Keberhasilan dalam pengendalian pertumbuhan penduduk ditunjukkan dengan menurunnya tingkat kelahiran yang cukup bermakna. Pada tahun 1971, Total Fertility Rate (TFR) diperkirakan 5,6 anak per wanita usia reproduksi, dan saat ini telah turun lebih dari 50 % menjadi 2,6 anak (SDKI 2008). Penurunan TFR ini pada umumnya sebagai akibat dari meningkatnya pemakaian alat kontrasepsi (prevalensi) pada pasangan usia subur. Pada tahun 1971, angka prevalensi kurang dari 5 %, meningkat menjadi 26 % pada tahun 1980, 48 % pada tahun 1987, 57 % tahun 1997 dan saat ini diperkirakan sebesar 60 % (SDKI 2008).

Kepala BKKBN Bandar Lampung, dr. Sugiri Syarief,MPA mengatakan saat ini, pasangan usia subur yang menggunakan metode kontrasepsi terus meningkat mencapai 61,4%. Pola pemakaianan kontrasepsi terbesar yaitu suntik sebesar 31,6%, pil sebesar 13,2%, IUD 4,8%, implant 2,8%,kondom sebesar 1,3%,kontap wanita (Medis Operasi Wanita – MOW) sebesar 0.3% dan kontap pria (Media Operasi Pria-MOP) sebesar 0,2%.
Sasaran Program KB Nasional di Propinsi Lampung dijabarkan dalam indikator kinerja program pada tahun 2008 yaitu cakupan pelayanan KB sebesar 71.89% dari PUS 1.461.956. peserta KB Baru sebanyak 309.800. peserta IUD sejumlah 2.14%, IMPLAN sejumlah 6.5%, MOW sejumlah 0.25%, suntik sejumlah 47.9%, MOP sejumlah 0.12%, Pil sejumlah 39.13%, kondom sejumlah 3.8% (BKKBN Lampung 2008).
Kontrasepsi pil banyak diminati oleh masyarakat di Indonesia. Angka ini setiap tahun bisa bertambah atau berkurang, dengan demikian petugas kesehatan khususnya petugas puskesmas yang bertanggungjawab untuk memberikan penyuluhan tentang program KB kepada masyarakat agar lebih selektif dan mengerti tentang pemilihan alat kontrasepsi. Karena dari masing-masing kontrasepsi mempunyai kelebihan dan kekurangan yang berdampak pada akseptor KB itu sendiri.
Berdasarkan studi pendahuluan di BPS ZZZ didapat jumlah KB pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2008 sebanyak 3054 akseptor dengan data sebagai berikut: kontrasepsi suntik 2620 orang (85,8%), kontrasepsi pil 421 orang (13,8%), kontrasepsi IUD 61 orang (0,2%), kontrasepsi Implant 18 orang (0,06%).
Melihat dari uraian diatas masalah yang ada adalah tingginya penggunaan alat kontrasepsi pil sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi akseptor KB Pil tidak mau beralih ke IUD di BPS ZZZ.
1.2  Perumusan  Masalah
Peserta KB Baru sebanyak 309.800. peserta IUD sejumlah 2.14%, IMPLAN sejumlah 6.5%, MOW sejumlah 0.25%, suntik sejumlah 47.9%, MOP sejumlah 0.12%, Pil sejumlah 39.13%, kondom sejumlah 3.8%. Studi pendahuluan di BPS ZZZ didapat jumlah KB pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2008 sebanyak 3054 akseptor dengan data sebagai berikut: kontrasepsi suntik 2620 orang (85,8%), kontrasepsi pil 421 orang (13,8%), kontrasepsi IUD 61 orang (0,2%), kontrasepsi Implant 18 orang.
Berdasarkan identifikasi masalah diatas penulis dapat merumuskan masalah  penelitian ini yaitu: faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi akseptor KB Pil tidak mau beralih ke IUD di BPS ZZZ?
1.3  Tujuan Penelitian
     1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi akseptor KB Pil tidak mau beralih ke IUD di BPS ZZZ.
   2. Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui faktor usia dari akseptor KB pil yang tidak mau beralih ke IUD di BPS ZZZ
b.      Untuk mengetahui faktor dukungan suami/keluarga akseptor KB Pil yang tidak mau beralih ke IUD di BPS ZZZ
c.       Untuk mengetahui pengetahuan akseptor KB Pil yang tidak mau beralih ke IUD di BPS ZZZ

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi BPS ZZZ
Diharapkan hasil penelitian  dapat digunakan sebagai acuan dalam memberikan pelayanan terhadap akseptor  KB khususnya meningkatkan kemampuan konseling dan penyuluhan terhadap macam-macam alat kontrasepsi KByang efektif.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Untuk menambah referensi bagi mahasiswa di institusi pendidikan khususnya penelitian tentang pengetahuan akseptor KB mengenai metode kontrasepsi
1.4.3 Bagi BKKBN
Untuk dapat memberikan gambaran tentang jumlah alat kontrasepsi KB pil dan dapat dijadikan sebagai salah satu pengambilan kebijakan berkaitan dengan sosialisasi petugas BKKBN dalam memberikan penyuluhan tentang macam-macam alat kontrasepsi KB yang lebih efektif selain alkon pil KB.

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg