Kamis, 12 Januari 2012

Karakteristik Ibu Menyusui Yang Memberikan ASI Eksklusif

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Sejak empat dekade yang lalu hingga saat ini jumlah wanita yang memilih menyusui sendiri bayinya mulai berkurang.  Jumlah terendah terjadi di tahun-tahun awal tujuh puluhan ketika kurang dari 40% yang memilih Air Susu Ibu (ASI), dan pada minggu keenam setelah melahirkan, kurang dari 20% memberikan ASI kepada bayinya.  Sejak itu kemudian ada kecenderungan untuk kembali memberikan ASI, khususnya diantara wanita kelas menengah, dan sekarang 75% wanita mulai menyusui bayinya, dan 35% masih menyusui 3 bulan kemudian (Jones, Derek Llewellyn, 2005).

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics, menunjukkan bahwa ASI dapat memberikan perlindungan bagi bayi dalam menurunkan risiko untuk terjadinya diare, infeksi telinga dan radang selaput otak (meningitis) juga mampu melindungi terhadap diabetes, kegemukan dan asthma. Pada penelitian sebelumnya, juga disebutkan manfaat ASI dalam mencegah terjadinya sepsis (infeksi berat) pada bayi yang lahir dengan berat badan rendah.  Bukan hanya itu saja, sang ibu juga memperoleh manfaat yang tidak kalah besarnya. Menyusui mampu menurunkan risiko untuk menderita kanker indung telur dan kanker payudara, serta menurunkan risiko terjadinya patah tulang panggul dan osteoporosis (keropos tulang) saat menopause nantinya. Penelitian sebelumnya juga menyebutkan akan perlindungan pada ibu dalam menurunkan risiko untuk menderita Rematoid Arthritis hingga 30% (baby-kids.blogspot.com, 2005).
Hal tersebut didukung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta dimana pemberian ASI berarti memberikan makanan bernilai gizi tinggi untuk bayi secara tepat memenuhi kebutuhan bayi. Disamping itu dapat memberikan zat perlindungan terhadap penyakit, sehingga bayi jarang sakit. Menyusui sendiri memberikan kontak penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, kasih sayang antara ibu dengan bayinya serta memberikan ikatan psikologis yang juga dibutuhkan oleh bayi di dalam tumbuh kembangnya (www.menegpp.go.id, 2005).
Pada peringatan Hari Ibu ke-62 tanggal 22 Desember 1990, pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian ASI di Indonesia melalui pernyataan “Dengan ASI Kaum Ibu Mempelopori Peningkatan Kualitas Manusia Indonesia Seutuhnya” Pemerintah saat itu menghimbau agar ibu-ibu mulai melaksanakan program ASI secara eksklusif pada bayi sampai umur 4 – 6 bulan, sesuai dengan rekomendasi WHO Depkes RI (2003) dalam Afriana (2004).
Kemudian dalam rangka meningkatkan percepatan perbaikan derajat kesehatan masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010, pemerintah menetapkan program perbaikan gizi menjadi prioritas kedua dari 10 program unggulan.  Perbaikan derajat kesehatan ibu dan anak melalui perbaikan gizi ini diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia baik fisik maupun non fisik Depkes RI (2003) dalam Afriana (2004).
Program peningkatan penggunaan air susu ibu (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif merupakan program prioritas, karena dampaknya yang luas terhadap status gizi dan kesehatan balita.  Program prioritas ini berkaitan juga dengan kesepakatan global, antara lain: Deklarasi Inocenti (Italia) tahun 1990 tentang perlindungan promosi dan dukungan terhadap penggunaan ASI, melalui Deklarasi Innocenti yang berisi rekomendasi jangka waktu pemberian ASI eksklusif adalah selama enam bulan.  Kemudian pada tanggal 2 Agustus 1999 oleh pemerintah melalui Presiden RI telah dicanangkan kembali gerakan masyarakat peduli ASI pada peringatan Pekan ASI sedunia tahun 1999 (Roesli, 2000).
Alasan kebijakan pemerintah mendukung hal tersebut karena praktek menyusui secara eksklusif dinegara berkembang telah berhasil menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi per tahun.  Atas dasar tersebut WHO merekomendasikan untuk hanya memberikan ASI eksklusif sampai dengan bayi berusia 4 – 6 bulan Depkes RI (2002) dalam Afriana (2004).
Pemberian ASI eksklusif merupakan dasar pemberian makanan bayi yang benar. Dengan pemberian ASI eksklusif bayi akan memperoleh selain masukan nutrisi terbaik juga mendapatkan perlindungan terhadap berbagai penyakit infeksi dan interaksi psikologis, yang sangat penting untuk pertambahan dan perkembangan anak selanjutnya.
Dalam penelitian Nutrition & Health Surveilance System (NSS) yang merupakan hasil kerjasama antara Balitbangkes dan Hellen Keller Internasional (2002).  Penelitian ini dilakukan di kota Jakarta, Semarang, Surabaya dan Makassar dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 1.1  Persentase Pemberian ASI eksklusif di Daerah Perkotaan

Lama Pemberian ASI eksklusif
Tertinggi
Terendah
1 – 3 bulan
Surabaya (45%)
Jakarta (25%)
4 – 5 bulan
Makassar (12%)
Jakarta ( 4% )
5 – 6 bulan
Makassar (12%)
Jakarta ( 1% )
Sumber:  Hellen Keller Worlwide, Jakarta 2002.
Pada tahun 2004 di Propinsi Lampung persentase bayi usia 0 – 6 bulan yang menerima ASI eksklusif sebanyak 43,8% dan meningkat menjadi 74,2% pada tahun 2005, hingga tahun 2006 secara keseluruhan berjumlah 88,6% dari target 90%.  Sedangkan di Lampung Timur pada tahun 2004 didapatkan jumlah bayi usia 0 – 6 bulan yang menerima ASI eksklusif sebanyak 64,3% dan meningkat menjadi 86,2% pada tahun 2005, hingga tahun 2006 secara keseluruhan berjumlah 76,3% dari target 90% (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2006).
Berdasarkan hasil Laporan PWS KIA Puskesmas Batang Hari Kecamatan Batang Hari Kabupaten Lampung Timur tahun 2008, diketahui bahwa jumlah sasaran atau target pemberian ASI Eeksklusif  baru mencapai 152 ibu (61,8%) dari jumlah keseluruhan ibu menyusui sebanyak 242 ibu, sedangkan target yang diharapkan yaitu sebesar 80,15% (Profil Puskesmas Batang Hari, 2009).
Hasil penelitian Purwanti, SW (2005) terdapat beberapa karakteristik ibu menyusui yang dapat mendukung dan mempengaruhi dalam pemberian ASI ekslusif diantaranya adalah usia, pendidikan, pekerjaan, ekonomi atau penghasilan keluarga.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang Karakteristik Ibu Menyusui yang Memberikan ASI Eksklusif di Kelurahan ZZZ.

1.2   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu: masih rendahnya proporsi ibu yang memberika ASI secara eksklusif di Kelurahan ZZZ.

1.3   Rumusan Masalah

Bagaimanakah karakteristik Ibu Menyusui yang Memberikan ASI Eksklusif di Kelurahan ZZZ?

1.4  Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui Karakteristik Ibu Menyusui yang Memberikan ASI Eksklusif di Kelurahan ZZZ.

1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Ingin mengetahui karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif berdasarkan usia di Kelurahan ZZZ.
1.4.2.2  Ingin mengetahui karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif berdasarkan pendidikan di Kelurahan ZZZ.
1.4.2.3  Ingin mengetahui karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif berdasarkan pekerjaan di Kelurahan ZZZ.
1.4.2.4  Ingin mengetahui karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif berdasarkan ekonomi/penghasilan di Kelurahan ZZZ.

1.5  Manfaat Penelitian

1.5.1        Sebagai bahan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan kebidanan tentang pemberian ASI dan untuk penelitian lebih lanjut.
1.5.2        Dapat dijadikan bahan masukan bagi petugas Puskesmas khususnya bagian KIA dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif oleh ibu menyusui.
1.5.3        Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian di tempat lain yang berkaitan dengan penelitian ini.

1.6   Ruang Lingkup Penelitian

1.6.1           Jenis penelitian                    :    Deskriptif
1.6.2           Subyek yang akan diteliti   :    Ibu menyusui yang memberikan ASI eksklusif
1.6.3           Obyek penelitian                 :    Karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif
1.6.4           Lokasi penelitian                 :    Kelurahan ZZZ
1.6.5           Waktu                                 :    April – Mei 2009
 
 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg