BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak empat dekade yang lalu hingga saat ini jumlah
wanita yang memilih menyusui sendiri bayinya mulai berkurang. Jumlah terendah terjadi di tahun-tahun awal
tujuh puluhan ketika kurang dari 40% yang memilih Air Susu Ibu (ASI), dan pada
minggu keenam setelah melahirkan, kurang dari 20% memberikan ASI kepada
bayinya. Sejak itu kemudian ada
kecenderungan untuk kembali memberikan ASI, khususnya diantara wanita kelas
menengah, dan sekarang 75% wanita mulai menyusui bayinya, dan 35% masih
menyusui 3 bulan kemudian (Jones, Derek Llewellyn, 2005).
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics,
menunjukkan bahwa ASI dapat memberikan perlindungan bagi bayi dalam menurunkan
risiko untuk terjadinya diare, infeksi
telinga dan radang selaput otak (meningitis) juga mampu melindungi
terhadap diabetes, kegemukan
dan asthma.
Pada penelitian sebelumnya, juga disebutkan manfaat ASI dalam mencegah
terjadinya sepsis (infeksi berat) pada bayi yang lahir dengan berat badan
rendah. Bukan hanya itu saja, sang ibu
juga memperoleh manfaat yang tidak kalah besarnya. Menyusui mampu menurunkan
risiko untuk menderita kanker indung telur dan kanker
payudara, serta menurunkan risiko terjadinya patah tulang panggul
dan osteoporosis
(keropos tulang) saat menopause nantinya. Penelitian sebelumnya juga
menyebutkan akan perlindungan pada ibu dalam menurunkan risiko untuk menderita Rematoid
Arthritis hingga 30% (baby-kids.blogspot.com, 2005).
Hal tersebut didukung oleh Menteri Pemberdayaan
Perempuan Meutia Hatta dimana pemberian ASI berarti memberikan makanan bernilai
gizi tinggi untuk bayi secara tepat memenuhi kebutuhan bayi. Disamping itu
dapat memberikan zat perlindungan terhadap penyakit, sehingga bayi jarang
sakit. Menyusui sendiri memberikan kontak penglihatan, pendengaran, penciuman,
perabaan, kasih sayang antara ibu dengan bayinya serta memberikan ikatan
psikologis yang juga dibutuhkan oleh bayi di dalam tumbuh kembangnya (www.menegpp.go.id, 2005).
Pada peringatan Hari Ibu ke-62 tanggal 22 Desember
1990, pemerintah mencanangkan Gerakan Nasional Peningkatan Pemberian ASI di
Indonesia melalui pernyataan “Dengan ASI Kaum Ibu Mempelopori Peningkatan
Kualitas Manusia Indonesia Seutuhnya” Pemerintah saat itu menghimbau agar
ibu-ibu mulai melaksanakan program ASI secara eksklusif pada bayi sampai umur 4
– 6 bulan, sesuai dengan rekomendasi WHO Depkes RI (2003) dalam Afriana (2004).
Kemudian dalam rangka meningkatkan percepatan perbaikan
derajat kesehatan masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010, pemerintah menetapkan
program perbaikan gizi menjadi prioritas kedua dari 10 program unggulan. Perbaikan derajat kesehatan ibu dan anak
melalui perbaikan gizi ini diharapkan akan dapat meningkatkan kualitas sumber
daya manusia di Indonesia
baik fisik maupun non fisik Depkes
RI (2003) dalam Afriana (2004).
Program peningkatan
penggunaan air susu ibu (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif merupakan program
prioritas, karena dampaknya yang luas terhadap status gizi dan kesehatan
balita. Program prioritas ini berkaitan
juga dengan kesepakatan global, antara lain: Deklarasi Inocenti (Italia) tahun 1990 tentang perlindungan promosi
dan dukungan terhadap penggunaan ASI, melalui Deklarasi Innocenti yang berisi rekomendasi jangka waktu pemberian
ASI eksklusif adalah selama enam bulan.
Kemudian pada tanggal 2 Agustus 1999 oleh pemerintah melalui Presiden RI
telah dicanangkan kembali gerakan masyarakat peduli ASI pada peringatan Pekan
ASI sedunia tahun 1999 (Roesli, 2000).
Alasan kebijakan pemerintah mendukung hal tersebut
karena praktek menyusui secara eksklusif dinegara berkembang telah berhasil
menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi per tahun.
Atas dasar tersebut WHO merekomendasikan untuk hanya memberikan ASI
eksklusif sampai dengan bayi berusia 4 – 6 bulan Depkes RI
(2002) dalam Afriana (2004).
Pemberian ASI eksklusif merupakan dasar pemberian
makanan bayi yang benar. Dengan pemberian ASI eksklusif bayi akan memperoleh
selain masukan nutrisi terbaik juga mendapatkan perlindungan terhadap berbagai
penyakit infeksi dan interaksi psikologis, yang sangat penting untuk
pertambahan dan perkembangan anak selanjutnya.
Dalam penelitian Nutrition
& Health Surveilance System (NSS) yang merupakan hasil kerjasama antara
Balitbangkes dan Hellen Keller Internasional (2002). Penelitian ini dilakukan di kota Jakarta,
Semarang, Surabaya dan Makassar dengan hasil sebagai berikut:
Tabel
1.1 Persentase Pemberian ASI eksklusif
di Daerah Perkotaan
|
Lama
Pemberian ASI eksklusif
|
Tertinggi
|
Terendah
|
|
1
– 3 bulan
|
Surabaya (45%)
|
Jakarta (25%)
|
|
4
– 5 bulan
|
Makassar (12%)
|
Jakarta ( 4% )
|
|
5
– 6 bulan
|
Makassar (12%)
|
Jakarta ( 1% )
|
Sumber: Hellen Keller Worlwide, Jakarta 2002.
Pada tahun 2004 di Propinsi Lampung persentase bayi
usia 0 – 6 bulan yang menerima ASI eksklusif sebanyak 43,8% dan meningkat
menjadi 74,2% pada tahun 2005, hingga tahun 2006 secara keseluruhan berjumlah
88,6% dari target 90%. Sedangkan di Lampung
Timur pada tahun 2004 didapatkan jumlah bayi usia 0 – 6 bulan yang menerima ASI
eksklusif sebanyak 64,3% dan meningkat menjadi 86,2% pada tahun 2005, hingga
tahun 2006 secara keseluruhan berjumlah 76,3% dari target 90% (Profil Kesehatan
Propinsi Lampung, 2006).
Berdasarkan hasil Laporan PWS KIA Puskesmas Batang
Hari Kecamatan Batang Hari Kabupaten Lampung Timur tahun 2008, diketahui bahwa
jumlah sasaran atau target pemberian ASI Eeksklusif baru mencapai 152 ibu (61,8%) dari jumlah keseluruhan ibu menyusui sebanyak 242 ibu, sedangkan target yang diharapkan yaitu
sebesar 80,15% (Profil Puskesmas Batang Hari, 2009).
Hasil penelitian
Purwanti, SW (2005) terdapat beberapa karakteristik ibu menyusui yang dapat
mendukung dan mempengaruhi dalam pemberian ASI ekslusif diantaranya adalah
usia, pendidikan, pekerjaan, ekonomi atau penghasilan keluarga.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, peneliti
sangat tertarik untuk meneliti tentang Karakteristik Ibu Menyusui yang
Memberikan ASI Eksklusif di Kelurahan ZZZ.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis
mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu: masih
rendahnya proporsi ibu yang memberika ASI secara eksklusif di Kelurahan ZZZ.
1.3 Rumusan Masalah
Bagaimanakah karakteristik Ibu Menyusui yang
Memberikan ASI Eksklusif di Kelurahan ZZZ?
1.4 Tujuan
Penelitian
1.4.1
Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui Karakteristik Ibu
Menyusui yang Memberikan ASI Eksklusif di Kelurahan ZZZ.
1.4.2
Tujuan Khusus
1.4.2.1 Ingin mengetahui
karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif berdasarkan usia di Kelurahan
ZZZ.
1.4.2.2 Ingin mengetahui
karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif berdasarkan pendidikan
di Kelurahan ZZZ.
1.4.2.3 Ingin mengetahui
karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif berdasarkan pekerjaan di
Kelurahan ZZZ.
1.4.2.4 Ingin mengetahui
karakteristik ibu menyusui yang memberikan ASI Eksklusif berdasarkan ekonomi/penghasilan
di Kelurahan ZZZ.
1.5 Manfaat
Penelitian
1.5.1
Sebagai bahan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
kebidanan tentang pemberian ASI dan untuk penelitian lebih lanjut.
1.5.2
Dapat dijadikan bahan masukan bagi petugas Puskesmas
khususnya bagian KIA dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif oleh
ibu menyusui.
1.5.3
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan
pertimbangan untuk melakukan penelitian di tempat lain yang berkaitan dengan
penelitian ini.
1.6 Ruang Lingkup Penelitian
1.6.1
Jenis penelitian : Deskriptif
1.6.2
Subyek yang akan diteliti : Ibu menyusui yang
memberikan ASI eksklusif
1.6.3
Obyek penelitian : Karakteristik ibu menyusui yang memberikan
ASI Eksklusif
1.6.4
Lokasi penelitian : Kelurahan ZZZ
1.6.5
Waktu : April – Mei 2009







0 comments:
Poskan Komentar