BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
belakang
Derajat
kesehatan dapat diukur dengan menggunakan berbagai indikator diantaranya adalah
angka kematian bayi. Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia menunjukan kecendrungan
menurun dari tahun ke tahun, pada angka kematian bayi dari 51 per 1000
kelahiran hidup menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian balita
(AKBA) dari 82,6 per 1000 kelahiran hidup menjadi 46 per 1000 kelahiran hidup.
(Depkes, 2008 ).
Menurut para
pakar imunisasi dunia, sedikitnya sebanyak 10 juta jiwa dapat diselamatkan pada
tahun 2006 melalui kegiatan imunisasi, bahkan diperkirakan tahun 2015 sedikit
banyaknya 70 juta jiwa anak-anak di negara miskin dapat diselamatkan dari
penyakit-penyakit infeksi yang umumnya menjangkiti mereka.(Depkes, 2006). Program
imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan dengan hasil guna yang sangat
tinggi, namun hal ini harus didukung oleh mutu vaksin dan teknik vaksinnasi
yang baik selain peranan kader dalam penggerakan masyarakat dan penyuluhan oleh
tenaga kesehatan, oleh karena itu dalam penyelenggaraanya diperlukan
perencanaan yang cermat, kemampuan manegerial dari penyelenggaraan dan
tersedianya fasilitas yang cukup memadai disamping peran serta yang tinggi dari
masyarakat khususnya peran ibu-ibu balita. (Depakes RI, 1994).
Adapun tanggung
jawab keluarga teutama para ibu terhadap status imunisasi pada bayi sangat
memegang peranan penting sehingga diperoleh suatu manfaat terhadap keberhasilan
imunisasi serta peningkatan kesehatan anak. Pemanfaatan pelayanan kesehatan
dipengaruhi oleh komponen-komponen pendorong yang menggambarkan faktor individu
secara tidak langsung berhubungan dengan berbagai faktor yaitu faktor
pengetahuan ibu terhadap status lengkap imunisasi dasar pada bayi, komponen
pendukung antar lain kemampun individu menggunakan pelayanan kesehatan yang
diperkirakan berdasrkan pendidikan, pengetahuan, sumber pandapatan atau
penghasilan.(Depkes RI, 2000)
Agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
berbagai usaha dilakukan oleh pamerintah antara lain meningkatkan pelayanan
imunisasi yang merupakan salah satu bentuk tindakan preventif terhadap penyakit
infeksi.(Depkes RI, 2004), diketahui bahwa lebih dari 10 juta balita meninggal
tiap tahun ,dan kurang lebih 2,5 juta meninggal akibat penyakit yang dapat di
cegah dengan vaksin yang kini ada maupun terbaru. Oleh karena itu sangat jelas
bahwa imunisasi sangat penting untuk mengurangi seluruh kematian anak. Dalam
era globalisasi dan komunikasi tanpa
batas, berdampak pada peningkatan kerentanan dalam penyebaran penyakit, membuat
peran imunisasi semakin vital. (Depkes
RI, 2006). Imunisasi merupakan
suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan yang terdapat suatu penyakit dengan
cara memasukan kuman atau produk kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan
kedalam tubuh. Tujuan imunisasi secara umum yaitu memberikan kekebalan pada
bayi dan anak dengan maksud menurunkan angka kematian dan kesakitan serta
mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Hingga kini program imunisasi masih menjadi andalan
dalam mengendalikan penyebaran berbagai penyakit infeksi khususnya penyakit
yang banyak menjangkit anak-anak, berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah Indonesia
untuk menurunkan angka kematian bayi dan pencegahan yang efektif adalah
imunisasi, namun kecendrungan ibu jarang mengimunisasikan bayinya karena masih
banyaknya ketidaktahuan tentang pentingnya imunisasi dan ketidakinginan dalam
mengimunisasikan bayinya masih menjadi masalah yang berpengaruh dalam
menurunkan angka kematian bayi di Indonesia. (Gianfranco Rotigliano, DPM news, 2008).
Angka
kematian bayi (AKB) di Propinsi Lampung menunjukkan kecenderungan perbaikan
yang cukup berarti. Perkiraan pada tahun 2000 berdasarkan proyeksi penduduk BPS
menjadi 49 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami penurunan jika
dibandingkan tahun 2001 yaitu sebesar 41 perseribu kelahiran hidup. Dan pada
tahun 2002 mengalami sedikit peningkatan yaitu 42 perseribu kelahiran hidup
sedangkan tahun 2003 AKB meningkat menjadi 55 perseribu kelahiran hidup.
Berdasarkan hasil proyeksi angka kematian bayi pada tahun 2005 sebesar 28
kemudian sedikit meningkat pada tahun 2006 sebesar 28,5. Hasil ini belum
mencapai yang ditargetkan yaitu 42 per 1.000 KH, dan target Lampung Sehat 2010
yaitu 40 per 1.000 KH. Pada grafik dibawah ini belum representatif
menggambarkan trend/kecenderungan kematian bayi di Provinsi Lampung karena
sumber datanya berbeda.(Profil Kesehatan Lampung).
Keberhasilan imunisasi di Provinsi Lampung tahun 2008
adalah sebagai berikut HB-0=4,3 % BCG
=7,8%, DPT 1 =8,2 %, DPT 2 = 8,2 %, DPT
3 = 8,3 %. Polio 1 = 8,2 %, Polio 2 = 8,1 %, Polio 3 = 8,2 %, Polio 4 = 8,2%, Campak = 8,3 %. Tingkat keberhasilan
imunisasi baru mencapai 77,6% dari target 100%. (Profil Kesehatan Lampung).
Di
Bandar Lampung kasus kematian bayi pada tahun 2007 sebanyak 2,87 per 1.000
Kelahiran Hidup dan Angka Kematian Balita / AKABA (0-<5 tahun) sebanyak 1,54
per 1000 kelahiran hidup. AKABA menggambarkan tingkat permasalahan kesehatan
anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita
seperti gizi, sanitasi penyakit infeksi. (Profil Kesehatan Lampung )
Dalam imunisasi,
pemberian vaksin berguna untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu, vaksin
merupakan suatu obat yang diberikan untuk membantu tubuh menghasilkan anti bodi
yang berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar
anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang
timbul pada masa kanak-kanak, serta keuntungan perlindungan yang di berikan
vaksin jauh lebih besar dari pada efek samping
yang di timbulkan.(Http:// Mypijar.Blogspot.Com / 2005). Yang dimaksud
imunisasi lengkap yaitu bila bayi telah mendapatkan satu kali imunisasi BCG, 3
kali DPT, 4 kali POLIO dan 1 kali CAMPAK. Agar sasaran tersebut dapat dicapai
maka pelayanan imunisasi harus dilaksanakan secara merata. Pada saat ini
imunisasi dianggap sebagai salah satu cara utama yang berdaya guna dalam upaya
pelangsungan hidup anak. Keberhasilan imunisasi di Bandar Lampung. dilihat dari
pencapaian UCI (universal child immunization). Yang meliputi BCG, DPT 1,2,3.
POLIO 1,2,3,4 . CAMPAK. Adapun cakupan yang dicapai di Bandar Lampung dari
bulan januari sampai september 2008 adalah sebagai berikut BCG = 68,0 % , DPT 1 =76,3 %,DPT 2 = 75,4 %, DPT 3 = 73,8 %.
Polio 1 = 77,0 %, Polio 2 = 76,2 %,Polio
3 = 76,0 %,Polio 4 = 75,5 %.Campak = 76,5 %. Dari data yang didapat masih ada
yang tidak mendapat status imunisasi lengkap sebesar 19% dari keseluruhan bayi
yang ada.
Dari data yang di peroleh di Puskekmas Rawat Inap Kota Karang
Teluk Betung Barat mengenai keberhasilan imunisasi pada bulan desember 2008 meliputi BCG = 9,2 %
POLIO 1 = 10,2 %, DFT/HB 1 = 10,2 %, POLIO 1 = 11,5 %, DPT/HB 2 = 11,5 %, POLIO
3 = 11,0 %, PPT/ HB 3 = 11,0 %. POLIO 4 = 10,3 %, CAMPAK = 10,7 %di ketahui dari
jumlah sasaran 472 bayi di kelurahan
kota karang yang masih ada yang tidak mendapat status imunisasi lengkap sebesar
16% dari seluruh bayi yang ada. Berdasarkan
kajian di atas penulis bermaksud untuk melakukan penelitian tentang : Hubungan
Pengetahuan Ibu Terhadap Status Imunusasi Pada Bayi Di Puskesmas ZZZ.
1.2. Identifikasi
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, peneliti mengambil identifikasi masalah sebagai
berikut :
1.
Di Indonesia, bahwa lebih dari 10 juta balita meninggal
tiap tahun, dan kurang lebih 2,5 juta meninggal akibat penyakit yang dapat di
cegah dengan vaksin yang kini ada maupun terbaru
2.
Keberhasilan imunisasi di Provinsi Lampung tahun 2008
adalah sebagai berikut HB-0=4,3 % BCG
=7,8%, DPT 1 =8,2 %, DPT 2 = 8,2 %, DPT
3 = 8,3 %. Polio 1 = 8,2 %, Polio 2 = 8,1 %, Polio 3 = 8,2 %, Polio 4 = 8,2%, Campak = 8,3 %, keberhasilan imunisasi di
provinsi Lampung baru mencapai 77.6 % dari target 100%.
3.
Di Bandar Lampung dari bulan januari sampai september
2008 adalah sebagai berikut BCG = 68,0 %
, DPT 1 =76,3 %,DPT 2 = 75,4 %, DPT 3 =
73,8 %. Polio 1 = 77,0 %, Polio 2 = 76,2
%,Polio 3 = 76,0 %,Polio 4 = 75,5 %.Campak = 76,5 %. Dari data yang didapat
masih ada yang tidak mendapat status imunisasi lengkap sebesar 19% dari
keseluruhan bayi yang ada.
4.
Di Puskekmas Rawat Inap Kota Karang, Teluk Betung Barat
pada bulan desember 2008, bayi yang mendapat status imunisasi tidak lengkap
dikelurahan kota karang sebesar 16% dari seluruh bayi yang ada.
1.3. Perumusan
Masalah
Dari uraian latar
belakang diatas, masih rendahnya status lengkapnya imunisasi di Puskesmas ZZZ, maka
peneliti merumuskan masalah : “ Adakah Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Status
Imunisasi Lengkap Pada Bayi di Puskesmas ZZZ Tahun 2009 ? “
1.4. Tujuan Penelitian
1.4.1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pengetahuan ibu terhadap status imunisasi lengkap pada bayi
di lingkungan Puskesmas ZZZ tahun 2009 ?
1.4.2. Tujuan Khusus
a.
Diketahui distribusi pengetahuan ibu tentang status
imunisasi lengkap pada bayi di Puskesmas
ZZZ tahun 2009.
b.
Diketahui distribusi
kelengkapan imunisasi pada bayi
di Puskesmas ZZZ tahun 2009.
1.5. Manfaat
Penelitian
1.5.1. Bagi
Institusi Pendidikan
Sebagai masukan dan bahan bacaan dalam memberikan sumber dan pengembangan
ilmu pengetahuan untuk penelitian selanjutnya di bidang kesehatan.
1.5.2.
Bagi Puskesmas
Dapat menambah masukan dalam kelancaran progam kesehatan dan indikator
keberhasilan program yang diajukan oleh Dinas Kesehatan Republik Indonesia.
1.5.3. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pengalaman berharga dan meningkatkan
kemampuan dalam menganalisa permasalahan dengan mempergunakan ilmu yang telah
diterima selama menempuh pendidikan DIII Kebidanan di Akademi ZZZ.
1.6. Ruang
Lingkup
Berdasarkan pada
permasalahan diatas maka ruang lingkup dalam penulisan ini sebagai berikut :
Jenis Penelitian : Analitik
Objek Penelitian :
Ibu yang mempunyai bayi .
Subyek
penelitian : Puskesmas ZZZ
Lokasi :
Puskesmas ZZZ.
Waktu Penelitian :
Mei 2009
Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang







0 comments:
Poskan Komentar