Kamis, 12 Januari 2012

Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Makanan Selama Hamil Dengan Anemia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Pembangunan Nasional mencakup upaya peningkatan semua segi kehidupan bangsa. Agar penduduk dapat berfungsi sebagai modal pembangunan dan merupakan sumberdaya manusia yang efektif dan produktif maka perlu ditingkatkan kualitas fisik dan nonfisik.  Salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan dalam mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia adalah gizi. Pentingnya gizi dalam pembangunan kualitas hidup didasarkan pada beberapa hal yaitu: pertama keadaan gizi erat hubungannya dengan tingginya angka kesakitan dan angka kematian; kedua meningkatnya keadaan gizi penduduk merupakan sumbangan yang besar dalam mencerdaskan bangsa; ketiga lebih baiknya status gizi dan kesehatan akan memperbaiki tingkat produktifitas kerja penduduk (Rasmaliah, 2004).

Tingginya kasus kesakitan dan kematian dibanyak negara berkembang, terutama disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan, eklampsi, sepsis dan komplikasi keguguran. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui upaya pencegahan yang efektif, beberapa negara berkembang dan hampir semua negara maju berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu ketingkat yang sangat rendah (Waspodo, Djoko, dkk, 2007).
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2002/2003 adalah sebesar 307/100 ribu kelahiran hidup (SDKI, 2002/2003).  Angka tersebut telah mengalami penurunan pada tahun 2005 menjadi 290,8/ 100 ribu kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI, 2005). Target yang diharapkan pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu (AKI) menjadi 125/100 ribu kelahiran hidup melalui pelaksanaan MPS (Making Pregnancy Safer) dengan salah satu pesan kunci yaitu setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat (Depkes RI, 2007). Sementara hasil SDKI tahun 2007 menyebutkan AKI di Indonesia sebesar 228/100 ribu kelahiran hidup (Depkes RI, 2008).
Penyebab kematian ibu di Indonesia menurut Manuaba (1998) adalah perdarahan, infeksi, dan gestosis dimana perdarahan menjadi penyebab terbesar hingga mencapai 30-35%.
Perdarahan merupakan salah satu akibat dari terjadinya anemia saat kehamilan.  Anemia berdampak memberatkan tumbuh kembang janin dalam rahim diantaranya abortus, prematuritas, BBLR, lahir dengan anemia, mudah infeksi, pertumbuhan setelah lahir mengalami hambatan.  Untuk ibunya dapat terjadi persalinan lama, distosia yang memerlukan tindakan operatif, perdarahan post partum dan akhirnya mudah mendapatkan infeksi post partum (Manuaba, 2002).
Angka anemia pada kehamilan di Indonesia cukup tinggi, sekitar 67% dari semua ibu hamil.  Sekitar 10-15% tergolong anemia berat yang sudah tentu akan mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam rahim dan sebagian besar anemia ibu hamil tergolong  kekurangan gizi (Manuaba, 2002).  Seorang wanita hamil yang memiliki Hb kurang dari 10 g barulah disebut anemia dalam kehamilan (Sarwono, 1999).
Pada dasarnya masalah gizi timbul karena perilaku gizi seseorang yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi gizi ibu hamil dan kecukupan gizi anaknya yaitu bila konsumsi selalu kurang atau sebaliknya jika konsumsi gizi ibu lebih dan akibatnya timbul penyakit yang menyertai penderita gizi kurang atau gizi lebih.  Masalah gizi tidak hanya terdapat di beberapa negara maju, tetapi gejalanya mulai nampak juga dibanyak negara berkembang termasuk Indonesia (Supariasa I Dewa Nyoman, et al, 2001).
Kebutuhan gizi ibu hamil pada tiga bulan pertama bila tidak mencukupi untuk pertumbuhan dan perkembangan bagi janin, maka ibu akan kekurangan gizi atau nutrisi yang lama-kelamaan akan menyebabkan mudahnya timbul berbagai penyakit dan risiko tinggi pada ibu hamil seperti anemia, resiko tinggi, hipertensi dan sebagainya (Manuaba, 1998).
Menurut Ahmad Syafiq, dkk (2008) pada kelompok dewasa, anemia terjadi pada wanita usia reproduksi, terutama wanita hamil dan wanita menyusui karena mereka banyak yang mengalami defisiensi Fe.  Secara keseluruhan, anemia terjadi pada 45% wanita dinegara berkembang dan 13% dinegara maju.  Persentase wanita hamil dari keluarga miskin terus meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan (8% anemia di trimester I, 12% anemia di trimester II, dan 29% anemia pada trimester III). 
Banyak ibu hamil yang menderita anemia, hal ini karena pada kehamilan tiga bulan pertama (Trimester I) nafsu makan ibu berkurang, mual, dan ingin muntah, akibatnya makanan yang dimakan tidak mencukupi kebutuhan ibu dan janin yang dikandungnya, terutama zat besi yang banyak terdapat dalam sayuran hijau dan kacang (kacang-kacangan), di samping itu zat besi jauh lebih besar dari sebelum hamil (Depkes RI, 1996)
Hasil Susenas 2004 di Provinsi Lampung tercatat 70,4% ibu hamil telah minum pil besi. Namun demikian masih terdapat 29,6% yang tidak minum pil besi selama kehamilan. Ibu hamil yang minum pil besi banyak ditemukan di daerah perkotaan (77%) dibandingkan pedesaan (68,5%). Pemberian zat besi kepada ibu hamil yang dianjurkan adalah minimal 90 butir selama kehamilannya dan pemberian ini biasanya diberikan secara bertahap serta paling baik diberikan pada trimester 3 (umur kandungan >7 bulan). Di provinsi Lampung persentase ibu hamil yang minum pil besi sesuai anjuran ternyata relatif kecil yaitu hanya sekitar 18,8%.  Sedangkan status anemia gizi pada ibu hamil menurut Kota/Kabupaten tahun 2005 tertinggi adalah Kabupaten Lampung Utara 83,2% dan terendah 58,7% yaitu Kota Metro sementara Bandar Lampung 60,9% (Dinkes Provinsi Lampung, 2007).
Menurut hasil Laporan PWS KIA di Puskesmas Sukamaju Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung tahun 2008 diketahui bahwa kegiatan K1 baru mencapai 58,1% sedangkan kegiatan K4 sebesar 53,6% dari masing-masing target sebanyak 595 ibu hamil. Data ini juga menunjukkan bahwa belum tercapainya jumlah kunjungan K1 dan K4 selama bulan Februari disebabkan kurangnya informasi petugas mengenai kapan waktu pemberian Fe1 dan F3 kepada ibu hamil, sehingga sebagian besar ibu hamil tidak mengerti dan mengetahui tentang makanan yang baik harus dikonsumsi selama masa hamil.  Untuk itu bidan sebagai salah satu tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan obstetrik, salah satunya dengan melakukan ANC terhadap ibu hamil dengan memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan dengan tujuan agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan, nifas dengan baik hendaknya selalu memberikan penjelasan dan motivasi mengenai gizi untuk ibu hamil.  Dengan demikian pengetahuan yang baik dapat membuat orang mengetahui bagaimana menggunakan sumber yang ada dan juga meningkatkan status gizi dan diharapkan juga dapat mencegah terjadinya anemia pada kehamilan dapat menyebabkan komplikasi kehamilan dan persalinan yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi. 
Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Makanan Selama Hamil Dengan Anemia Di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.2   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1.2.1        Di Provinsi Lampung persentase ibu hamil yang minum pil besi sesuai anjuran ternyata relatif kecil yaitu hanya sekitar 18,8%.
1.2.2        Status anemia gizi pada ibu hamil menurut Kota/Kabupaten tahun 2005 tertinggi adalah Kabupaten Lampung Utara 83,2% dan terendah yaitu kota metro sebesar 58,7%.  Sementara di Bandar Lampung sebesar 60,9%.
1.2.3        Di Puskesmas ZZZ tahun 2008 diketahui bahwa kegiatan K1 baru mencapai 58,1% sedangkan kegiatan K4 sebesar 53,6% dari masing-masing target sebanyak 595 ibu hamil. Data ini juga menunjukkan bahwa belum tercapainya jumlah kunjungan K1 dan K4 selama tahun 2008.

1.3  Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah  belum diketahui apakah terdapat hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang makanan selama hamil dengan anemia di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ?

1.4  Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui “Hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang makanan selama hamil dengan kejadian anemia di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ

1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Diketahuinya distribusi pengetahuan ibu hamil tentang makanan selama hamil di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
1.4.2.2  Diketahuinya distribusi kejadian anemia pada ibu hamil di Sukamaju Bandar Lampung Tahun 2009.
1.4.2.3  Diketahuinya hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang makanan selama hamil dengan anemia di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.


1.5  Manfaat Penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1        Peneliti
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, dapat menjadi wawasan serta menambah informasi dan pengetahuan bagi peneliti khususnya mengenai makanan ibu hamil dengan kejadian anemia.
1.5.2        Bidang Keilmuan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan untuk ilmu pengetahuan tentang kehamilan yang berkaitan dengan gizi ibu hamil.
1.5.3        Puskesmas Sukamaju
Diharapkan dapat dijadikan masukan dalam upaya peningkatan penyuluhan kesehatan terhadap ibu hamil khususnya mengenai gizi/makanan selama hamil.

1.6   Ruang Lingkup Penelitian

1.6.1          Jenis penelitian                 :    Deskriptif Korelasi
1.6.2          Subyek yang akan diteliti   :    Pengetahuan ibu hamil tentang makanan selama hamil dengan anemia
1.6.3          Obyek penelitian           :    Hubungan pengetahuan ibu hamil tentang makanan selama hamil dengan anemia
1.6.4           Lokasi penelitian             :    Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ
1.6.5           Waktu                          :    April – Mei 2009

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

3 comments:

rostiasih mengatakan...

bisa liat lebih lengkap judul d atas.....

rostiasih mengatakan...

bisa lebih rinci gak liat materi kti itu ampe lengkap pleace......................

KTI-Skripsi mengatakan...

Tentu saja bisa, yang penting sudah pesan (Deal).

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg