BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan Nasional mencakup upaya peningkatan semua
segi kehidupan bangsa. Agar penduduk dapat berfungsi sebagai modal pembangunan
dan merupakan sumberdaya manusia yang efektif dan produktif maka perlu
ditingkatkan kualitas fisik dan nonfisik.
Salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan dalam mempengaruhi kualitas
sumberdaya manusia adalah gizi. Pentingnya gizi dalam pembangunan kualitas
hidup didasarkan pada beberapa hal yaitu: pertama keadaan gizi erat hubungannya
dengan tingginya angka kesakitan dan angka kematian; kedua meningkatnya keadaan
gizi penduduk merupakan sumbangan yang besar dalam mencerdaskan bangsa; ketiga
lebih baiknya status gizi dan kesehatan akan memperbaiki tingkat produktifitas
kerja penduduk (Rasmaliah, 2004).
Tingginya kasus
kesakitan dan kematian dibanyak negara berkembang, terutama disebabkan oleh
perdarahan pascapersalinan, eklampsi, sepsis dan komplikasi keguguran. Sebagian
besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut sebenarnya dapat
dicegah melalui upaya pencegahan yang efektif, beberapa negara berkembang dan
hampir semua negara maju berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu
ketingkat yang sangat rendah (Waspodo, Djoko, dkk, 2007).
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia pada tahun
2002/2003 adalah sebesar 307/100 ribu kelahiran hidup (SDKI, 2002/2003). Angka tersebut telah mengalami penurunan pada
tahun 2005 menjadi 290,8/ 100 ribu kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI,
2005). Target yang diharapkan pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu (AKI)
menjadi 125/100 ribu kelahiran hidup melalui pelaksanaan MPS (Making Pregnancy Safer) dengan salah
satu pesan kunci yaitu setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat
pelayanan yang adekuat (Depkes RI, 2007). Sementara hasil SDKI tahun 2007
menyebutkan AKI di Indonesia sebesar 228/100 ribu kelahiran hidup (Depkes RI,
2008).
Penyebab kematian ibu di Indonesia menurut Manuaba
(1998) adalah perdarahan, infeksi, dan gestosis dimana perdarahan menjadi
penyebab terbesar hingga mencapai 30-35%.
Perdarahan merupakan salah satu akibat dari terjadinya
anemia saat kehamilan. Anemia berdampak
memberatkan tumbuh kembang janin dalam rahim diantaranya abortus, prematuritas,
BBLR, lahir dengan anemia, mudah infeksi, pertumbuhan setelah lahir mengalami
hambatan. Untuk ibunya dapat terjadi
persalinan lama, distosia yang memerlukan tindakan operatif, perdarahan post
partum dan akhirnya mudah mendapatkan infeksi post partum (Manuaba, 2002).
Angka anemia pada
kehamilan di Indonesia cukup tinggi, sekitar 67% dari semua ibu hamil. Sekitar 10-15% tergolong anemia berat yang
sudah tentu akan mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam rahim dan sebagian
besar anemia ibu hamil tergolong
kekurangan gizi (Manuaba, 2002).
Seorang wanita hamil yang memiliki Hb kurang dari 10 g barulah disebut
anemia dalam kehamilan (Sarwono, 1999).
Pada dasarnya masalah gizi timbul karena perilaku
gizi seseorang yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi gizi ibu
hamil dan kecukupan gizi anaknya yaitu bila konsumsi selalu kurang atau sebaliknya
jika konsumsi gizi ibu lebih dan akibatnya timbul penyakit yang menyertai
penderita gizi kurang atau gizi lebih.
Masalah gizi tidak hanya terdapat di beberapa negara maju, tetapi
gejalanya mulai nampak juga dibanyak negara berkembang termasuk Indonesia (Supariasa
I Dewa Nyoman, et al, 2001).
Kebutuhan gizi ibu hamil pada tiga bulan pertama bila
tidak mencukupi untuk pertumbuhan dan perkembangan bagi janin, maka ibu akan
kekurangan gizi atau nutrisi yang lama-kelamaan akan menyebabkan mudahnya
timbul berbagai penyakit dan risiko tinggi pada ibu hamil seperti anemia,
resiko tinggi, hipertensi dan sebagainya (Manuaba, 1998).
Menurut Ahmad Syafiq, dkk (2008) pada kelompok dewasa,
anemia terjadi pada wanita usia reproduksi, terutama wanita hamil dan wanita
menyusui karena mereka banyak yang mengalami defisiensi Fe. Secara keseluruhan, anemia terjadi pada 45%
wanita dinegara berkembang dan 13% dinegara maju. Persentase wanita hamil dari keluarga miskin
terus meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan (8% anemia di trimester I,
12% anemia di trimester II, dan 29% anemia pada trimester III).
Banyak ibu hamil yang menderita anemia, hal ini
karena pada kehamilan tiga bulan pertama (Trimester I) nafsu makan ibu
berkurang, mual, dan ingin muntah, akibatnya makanan yang dimakan tidak
mencukupi kebutuhan ibu dan janin yang dikandungnya, terutama zat besi yang
banyak terdapat dalam sayuran hijau dan kacang (kacang-kacangan), di samping
itu zat besi jauh lebih besar dari sebelum hamil (Depkes RI, 1996)
Hasil Susenas 2004 di Provinsi Lampung tercatat 70,4%
ibu hamil telah minum pil besi. Namun demikian masih terdapat 29,6% yang tidak
minum pil besi selama kehamilan. Ibu hamil yang minum pil besi banyak ditemukan
di daerah perkotaan (77%) dibandingkan pedesaan (68,5%). Pemberian zat besi
kepada ibu hamil yang dianjurkan adalah minimal 90 butir selama kehamilannya
dan pemberian ini biasanya diberikan secara bertahap serta paling baik
diberikan pada trimester 3 (umur kandungan >7 bulan). Di provinsi Lampung
persentase ibu hamil yang minum pil besi sesuai anjuran ternyata relatif kecil
yaitu hanya sekitar 18,8%. Sedangkan
status anemia gizi pada ibu hamil menurut Kota/Kabupaten tahun 2005 tertinggi
adalah Kabupaten Lampung Utara 83,2% dan terendah 58,7% yaitu Kota Metro
sementara Bandar Lampung 60,9% (Dinkes Provinsi Lampung, 2007).
Menurut hasil Laporan
PWS KIA di Puskesmas Sukamaju Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung tahun
2008 diketahui bahwa kegiatan K1 baru mencapai 58,1% sedangkan kegiatan K4
sebesar 53,6% dari masing-masing target sebanyak 595 ibu hamil. Data ini juga
menunjukkan bahwa belum tercapainya jumlah kunjungan K1 dan K4 selama bulan
Februari disebabkan kurangnya informasi petugas mengenai kapan waktu pemberian
Fe1 dan F3 kepada ibu hamil, sehingga sebagian besar ibu hamil tidak mengerti
dan mengetahui tentang makanan yang baik harus dikonsumsi selama masa hamil. Untuk itu bidan sebagai salah satu tenaga
kesehatan yang memberikan pelayanan obstetrik, salah satunya dengan melakukan
ANC terhadap ibu hamil dengan memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala
yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan dengan
tujuan agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan, nifas dengan
baik hendaknya selalu memberikan penjelasan dan motivasi mengenai gizi untuk
ibu hamil. Dengan demikian pengetahuan
yang baik dapat membuat orang mengetahui bagaimana menggunakan sumber yang ada
dan juga meningkatkan status gizi dan diharapkan juga dapat mencegah terjadinya
anemia pada kehamilan dapat menyebabkan komplikasi kehamilan dan persalinan
yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi.
Berdasarkan latar
belakang dan fenomena tersebut di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti
tentang Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Makanan Selama Hamil Dengan
Anemia Di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis
mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1.2.1
Di Provinsi Lampung
persentase ibu hamil yang minum pil besi sesuai anjuran ternyata relatif kecil
yaitu hanya sekitar 18,8%.
1.2.2
Status anemia gizi pada ibu hamil menurut
Kota/Kabupaten tahun 2005 tertinggi adalah Kabupaten Lampung Utara 83,2% dan
terendah yaitu kota metro sebesar 58,7%.
Sementara di Bandar Lampung sebesar 60,9%.
1.2.3
Di Puskesmas ZZZ tahun 2008 diketahui bahwa kegiatan K1
baru mencapai 58,1% sedangkan kegiatan K4 sebesar 53,6% dari masing-masing
target sebanyak 595 ibu hamil. Data ini juga menunjukkan bahwa belum
tercapainya jumlah kunjungan K1 dan K4 selama tahun 2008.
1.3 Rumusan
Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah belum diketahui apakah terdapat hubungan
antara pengetahuan ibu hamil tentang makanan
selama hamil dengan anemia di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ?
1.4 Tujuan
Penelitian
1.4.1
Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui “Hubungan antara
pengetahuan ibu hamil tentang makanan selama
hamil dengan kejadian anemia di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ”
1.4.2
Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya
distribusi pengetahuan ibu hamil tentang makanan selama hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas ZZZ.
1.4.2.2 Diketahuinya
distribusi kejadian anemia pada ibu hamil di Sukamaju Bandar Lampung Tahun 2009.
1.4.2.3 Diketahuinya
hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang makanan selama hamil dengan
anemia di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
1.5 Manfaat
Penelitian
Diharapkan hasil
penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1
Peneliti
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, dapat menjadi
wawasan serta menambah informasi dan pengetahuan bagi peneliti khususnya
mengenai makanan ibu hamil dengan kejadian anemia.
1.5.2
Bidang
Keilmuan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan
untuk ilmu pengetahuan tentang kehamilan yang berkaitan dengan gizi ibu hamil.
1.5.3
Puskesmas Sukamaju
Diharapkan dapat dijadikan masukan dalam upaya peningkatan
penyuluhan kesehatan terhadap ibu hamil khususnya mengenai gizi/makanan selama
hamil.
1.6 Ruang Lingkup Penelitian
1.6.1 Jenis penelitian : Deskriptif Korelasi
1.6.2 Subyek yang akan diteliti : Pengetahuan ibu hamil
tentang makanan selama hamil dengan anemia
1.6.3
Obyek penelitian : Hubungan pengetahuan ibu hamil tentang
makanan selama hamil dengan anemia
1.6.4
Lokasi
penelitian : Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ
1.6.5
Waktu : April – Mei 2009







0 comments:
Poskan Komentar