Jumat, 06 Januari 2012

Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Pencarian Pengobatan Penderita TB Paru

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru) merupakan salah satu penyakit infeksi kronis menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat diseluruh dunia secara global. Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2013, diperkirakan ada 19 juta pasien TB Paru dan 13 juta kematian TB Paru diseluruh dunia. Diperkirakan 95%  kasus TB dan 98% kematian akibat TB Paru di dunia, terjadi pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia.


Laporan TB Paru dunia oleh World Health Organization (WHO) yang terbaru pada tahun 2006, masih menempatkan Indonesia sebagai penyumbang          TB Paru terbesar nomor tiga di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539.000 dan jumlah kematian sekitar 101.000 per tahun. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, menempatkan TB Paru sebagai penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan, dan merupakan nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Hasil survei prevalensi TB Paru di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka prevalensi TB Paru BTA positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk. Secara regional, prevalensi TB Paru BTA positif di wilayah Sumatera adalah 160 per 100.000 penduduk. Mengacu pada hasil survei prevalensi tahun 2004, diperkirakan penurunan insiden TB Paru BTA positif secara nasional 3-4% setiap tahunnya.
Pada awal tahun 1990-an WHO dan International Union Agains Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD) telah mengembangkan strategi penanggulangan TB Paru yang dikenal sebagai strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Untuk menanggulangi masalah TB Paru di Indonesia, sejak tahun 1995 WHO merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB Paru. Strategi ini harus diekspansi dan diakselerasikan pada seluruh unit pelayanan kesehatan, terutama Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang diintegrasikan dalam  pelayanan kesehatan dasar. Sejak tahun 2000 strategi DOTS dilaksanakan secara nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas. Sampai tahun 2005, program penanggulangan TB Paru dengan strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas, sementara Rumah Sakit dan BP4/RSP baru sekitar 30%. (Depkes,2008).

Program penanggulangan penyakit TB Paru yang dikembangkan dan dilaksanakan di tingkat Puskesmas bertujuan untuk menurunkan insiden dan memutuskan mata rantai penularan Penyakit TB Paru. Untuk mencapai tujuan program tersebut dibutuhkan penerapan teknologi kesehatan dan petugas kesehatan sebagai pelaksana serta  dukungan dan peran serta masyarakat. Peran serta masyarakat dapat dicapai apabila masyarakat tahu, mengerti, paham pencegahan, dan pengobatan penyakit TB Paru. Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap penyakit TB Paru perlu dilakukan sistem edukasi yang komprehensif dan berkesinambungan.

Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai TB Paru di masyarakat masih rendah. Dari mereka yang menyatakan tahu cara penularan dan pencegahan TB Paru, hanya 26 persen yang menjawab dengan betul. Proporsi kecil dari masyarakat (19 persen) yang mengetahui pemberian obat anti TB Paru gratis. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan pula estimasi prevalensi angka kesakitan di Indonesia sebesar 8 per 1000 penduduk berdasarkan gejala tanpa pemeriksaan laboratorium. (Depkes, 2007).

Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyakit TB Paru masih banyak ditemukan diberbagai wilayah termasuk di di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ Kecamatan Way Serdang Kabupaten Tulang Bawang. Puskesmas Bukoposo merupakan salah satu Puskesmas yang ada di Kabupaten Tulang Bawang dengan jumlah penduduk 36.659 jiwa, dan sebagian besar masyarakat disekitar wilayah kerja Puskesmas bekerja sebagai Petani karet dan kelapa sawit. Berdasarkan data demografi dari Desa, menunjukkan bahwa mayoritas penduduk memiliki jenjang pendidikan yang masih rendah yaitu Sekolah Dasar, sehingga ada relevansi terhadap kesenjangan pengetahuan terhadap berbagai hal termasuk penyakit TB Paru.

Berdasarkan survei awal yang di lakukan pada tanggal 11 Februari 2009 di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ terhadap Penderita TB Paru yang sedang dalam masa pengobatan dan Penderita TB Paru yang telah sembuh, 14 Penderita TB Paru melakukan pengobatan awal di Bidan/Mantri, dan 3 penderita berobat kedokter. Hal tersebut menunjukkan masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan penyakit TB Paru di di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

Data hasil evaluasi pelaksanaan program penanggulangan TB Paru di Puskesmas Bukoposo tahun 2008, menunjukkan bahwa angka penemuan kasus pasien baru BTA positif (Case Detection Rate = CDR) hanya sebesar 40% atau 28 penderita pertahun. Jumlah tersebut jauh dibawah target CDR program penanggulangan Tuberkulosis Nasional yaitu minimal 70%. Penjaringan penderita TB Paru secara pasif yang dilakukan di Puskesmas disertai tingkat pengetahuan yang rendah dari masyarakat, menjadi faktor-faktor penyebab rendahnya CDR di di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

Uraian di atas menunjukkan  bahwa masih rendahnya pengetahuan masyarakat dalam pencarian pengobatan penyakit yang diderita (TB Paru) dan perlu di telusuri kemana para penderita TB Paru tersebut mencari pengobatan sampai akhirnya berobat ke Puskesmas, sehingga penyakit TB Paru yang di derita dapat di sembuhkan. Hal tersebut yang membuat Penulis tertarik untuk melakukan penelitian “Hubungan Pengetahuan Dengan Perilaku Pencarian Pengobatan Penderita TB Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ”

1.2  Identifikasi dan Perumusan Masalah

1.2.1.   Identifikasi Masalah
Masalah adalah kesenjangan antara harapan dengan kenyataan,                 dari pengertian masalah dan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1)      WHO pada tahun 2006 memperkirakan setiap tahun terjadi 539.000 kasus baru TB Paru dengan kematian sekitar 101.000 orang pertahun.
2)      Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai TB Paru di masyarakat masih rendah. Dari mereka yang menyatakan tahu cara penularan dan pencegahan TB Paru, hanya 26 persen yang menjawab dengan betul. Proporsi kecil dari masyarakat (19 persen) yang mengetahui pemberian obat anti TB Paru gratis.
3)      Data hasil evaluasi pelaksanaan program penanggulangan TB Paru di Puskesmas Bukoposo tahun 2008 Angka kasus TB Paru yang semakin meningkat pada tahun 2003 sampai 2009 sebagai mana data yang didapat dari Puskesmas ZZZ.
4)      Angka penemuan kasus pasien baru BTA positif pada tahun 2008 (Case Detection Rate = CDR) hanya sebesar 40%. Jumlah tersebut jauh dibawah target CDR program penanggulangan Tuberkulosis Nasional yaitu minimal 70%.

1.2.2.      Perumusan Masalah
Dari identifikasi masalah diatas penulis merumuskan masalah “Seberapa besarkah hubungan pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan Penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ”

1.3   Tujuan Penelitian

1.3.1.       Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku pencarian pengobatan penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ tahun 2009.

1.3.2.      Tujuan Khusus
1.      Diketahuinya pengetahuan penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
2.      Diketahuinya perilaku pencarian pengobatan TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.4    Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini menggunakan analisa data kuantitatif yang dilaksanakan di di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ dengan menggunakan pedoman wawancara dan kuesioner untuk dapat mendeskrepsikan perilaku Penderita TB Paru dalam mencari pengobatan penyakit yang di derita, data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder dari hasil penelitian yang dilaksanakan di lapangan.

1.5.  Manfaat Penelitian

1.5.1        Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat menjadi masukan bagi institusi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Masyarakat zzz sebagai umpan balik dalam penelitian terhadap mutu pendidikan.

1.5.2        Bagi Peneliti
a.       Dapat mengetahui secara luas dan mendalam hubungan pengetahuan, dan perilaku dengan pencarian pengobatan penderita TB Paru didi Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ Kabupaten zzz.
b.      Sebagai aplikasi dari teori-teori yang telah diperoleh selama di bangku kuliah pada peminatan Promosi Kesehatan.
c.       Untuk memenuhi syarat dalam rangka menyelesaikan pendidikan di STIKES zzzjurusan kesehatan masyarakat peminatan Promosi Kesehatan.
1.5.3        Bagi Puskesmas
Sebagai masukan untuk meningkatkan pelayanan dalam mensosialisasikan pengobatan penyakit TB Paru di wiayah kerja Puskesmas ZZZ

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

1 comments:

Sulaiman muko mengatakan...

Kunjungan pertama nih, Terimakasih banyak atas beritanya.

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg