BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada bulan Juli 1984 dua organisasi non pemerintah
PERINASIA dan BKPP ASI mengorganisasi suatu lokakarya mengenai ASI. Telah
dihasilkan suatu rekomendasi tentang kebijakan dan aktifitas tentang pendidikan
dan pelatihan serta promosi penggunaan ASI. Salah satu hasil Workshop dalam Invitational Asian Lactation Management
Workshop juli 1988 di Bali yang diselenggarakan PERINASIA dan Wellsstart
San Deigo Lactation Program dilakukan oleh
alumni Wellsstart adalah perluasan usaha peningkatan penggunaan ASI.
(Sarwono ,2005:264)
Survei Demografi dan kesehatan Indonesia 1997,
memperlihatkan hanya 52 persen ibu yang menyusui bayinya. Itupun rata-rata
hanya selama 1,7 bulan. Bahkan menurut data Unicef, hanya 3persen ibu yang
memberikan ASI secara eksklusif. Dipastikan presentase tersebut jauh menurun
bila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. 15 tahun yang lalu, sebuah
penelitian terhadap 460 bayi rawat gabung di Rumah Sakit RSCM memperlihatkan
bahwa 71,1 persen ibu memberi ASI sampai bayinya berusia 2 bulan, 20,2 persen
diantaranya memberi ASI secara eksklusif.
(http://Pusdiknakes.or.od/)
Di Indonesia ibu yang memberi ASI eksklusif selama empat
hingga lima bulan sebanyak 18 persen. Persentase itu jauh dari target nasional
80 persen. Konselor Laktasi Kemang Medical Care, Esthetika Wulandari dalam talk
show yang diselenggarakan PT Unilever Tbk di Jakarta, baru-baru ini mengatakan,
angka 18 persen itu merupakan hasil survei demografi dan kesehatan pada tahun
2007. Persentase itu meningkat
dibanding tahun 2002-2003 sebesar 14 persen (http://www.litbang.depkes.go.id)
Mengingat pentingnya pemberian ASI bagi tumbuh
kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasannya, maka perlu
perhatian agar dapat terlaksana dengan benar. Oleh karena itu yang perlu banyak
perhatian adalah bagaimana ibu yang bekerja dapat tetap memberikan ASI kepada
bayinya secara ekskluisf sampai umur 6 (enam) bulan dan dapat dilanjutkan
sampai umur 2 (dua) tahun. Pada ibu yang bekerja, singkatnya masa cuti hamil/melahirkan
mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI Eksklusif berakhir sudah harus kembali
bekerja. Hal ini mengganggu upaya pemberian ASI Eksklusif. Dari berbagai
penelitian menunjukkan banyak alasan seperti faktor sosial budaya, pelayanan
kesehatan dan petugas kesehatan yang belum mendukung Peningkatan pemberian ASI
(PP-ASI), gencarnya promosi susu formula, dan ibu bekerja untuk menghentikan
ASI dengan jumlah yang bervariasi: 13 persen (1982), 18,2 persen (Satoto 1979),
48 persen (Suganda 1979), 28 persen (Surabaya 1992), 47 persen (Columbia), 6%
(New dehli). (http://botelifia.com)
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa
dari 86 responden yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang ASI eksklusif
sebanyak 34 responden (39,5 persen) dan 52 responden (60,4 persen)
pengetahuannya masih kurang tentang ASI eksklusif. Hal ini menunjukkan bahwa
pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif kurang baik. Salah satu faktor yang
menyebabkan hal tersebut adalah tingkat pendidikan yang dimiliki responden
dimana responden yang tergolong pendidikan tinggi lebih sedikit dibandingkan
dengan responden yang memiliki pendidikan rendah. Hal ini menggambarkan bahwa
tingkat pendidikan sangat mempengaruhi pengetahuan yang dimiliki oleh responden,
karena semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat
pengetahuannya dan semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka semakin
rendah pula tingkat pengetahuannya. (Ridwan Amiruddin, 2007)
Pemberian ASI Ekslusif masih belum seperti yang
diharapkan. Menurut hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2002-2003 presentase anak dibawah usia 6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif
adalah 39,5 persen. Pendidikan ibu yang masih sangat relative kurang dianggap
dapat menurunkan perilaku pemberian ASI
Eksklusif. Penelitian di lakukan di Kabupaten Krawang, Jawa Barat. Penelitian
ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pengamatan dan
wawancara mendalam kepada sejumlah 30 informant. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar ibu sudah mempunyai pengetahuan tentang ASI/Menyusui yang
relative baik. Namun pengetahuan ibu mengenai ASI Eksklusif rendah. (WWW.litbang.DepKes.go.id)
Di Propinsi Lampung data pemberian ASI Eksklusif
pada umur 0-6 bulan mencapai 24,68 persen pada tahun 2007, masih banyaknya bayi
yang belum mendapatkan ASI Ekskluisf. Menurut
laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sendiri pemberian ASI
Eksklusif mencapai 67.04 persen, sedangkan targetnya adalah 74 persen. (Laporan
Tahunan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, 2008).
Berdasarkan hasil dari pra survey dan wawancara
tentang pengetahuan ibu hamil yang peneliti lakukan berjumlah 143 orang sebesar
14,3 persen responden menjawab belum begitu paham tentang ASI Eksklusif.
1.2 Identifikasi Masalah
Dari latar
belakang di atas penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1.2.1
Menurut data
Unicef, hanya 3 persen ibu yang memberikan ASI secara eksklusif tahun 1997.
1.2.2
Di Indonesia ibu memberi ASI eksklusif selama
empat hingga lima bulan sebanyak 18 persen. Persentase itu jauh dari target nasional 80 persen
pada tahun 2007.
1.2.3
Di
Propinsi Lampung pemberian ASI secara Eksklusif 24,68 persen tahun 2007.
1.2.4
Menurut
laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sendiri pemberian ASI
Eksklusif mencapai 67,04 persen, sedangkan targetnya adalah 74 persen. Pada
tahun 2008.
1.2.5
Dari
10 ibu di Rumah Bersalin ZZZ, sebanyak 8 ibu hamil tidak begitu paham tentang
ASI Eksklusif.
1.2.6
Beberapa
Penelitian menunjukkan bahwa sebagian ibu sudah mempunyai pengetahuan tentang
ASI/Menyusui yang relative baik, namun pengetahuan ibu mengenai ASI Eksklusif
rendah.
1.3 Perumusan Masalah
Dari latar
belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan sebagai berikut:
1.3.1
Masalah
Rendahnya pengetahuan ibu hamil tentang ASI Eksklusif.
1.3.2
Permassalahan
1.3.2.1
Bagaimana pengetahuan ibu hamil tentang ASI Eksklusif di Rumah Bersalin ZZZ
pada bulan Mei tahun 2009.
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1
Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang ASI Eksklusif di Rumah
Bersalin ZZZ tahun 2009.
1.4.2
Tujuan khusus
1)
Ingin mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang
pengertian ASI eksklusif di Rumah Bersalin ZZZ pada bulan
Mei tahun 2009.
2)
Ingin mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang
manfaat ASI eksklusif di Rumah Bersalin ZZZ pada bulan Mei tahun 2009.
3)
Ingin mengetahui gambaran pengetahuan Ibu hamil tentang
keuntungan ASI Eksklusif di Rumah
Bersalin ZZZ pada bulan Mei tahun 2009.
4)
Ingin mengetahui gambaran pengetahuan Ibu hamil tentang
dampak tidak diberikan ASI Eksklusif di Rumah
Bersalin ZZZ pada bulan Mei tahun 2009.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Institusi Kesehatan,
Sebagai data yang dapat diperoleh untuk
meningkatkan upaya tentang ASI Eksklusif kepada masyarakat terutama ibu-ibu
sehingga dapat meningkatkan cakupan ASI Eksklusif.
1.5.2 Bagi Institusi Pendidikan,
Sebagai
bahan bacaan dan menambah wawasan sehingga dapat dijadikan sebagai sarana dalam
belajar dan dapat dijadikan data dasar dalam penelitian selanjutnya.
1.5.3 Bagi Peneliti,
Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan serta sebagai sarana belajar
dengan mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah kedalam
permasalahan yang ada ditengah masyarakat dan untuk menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan.
1.5.4 Bagi Rumah Bersalin ZZZ,
Sebagai
masukan untuk dapat meningkatkan program ASI Eksklusif dan turut serta dalam
mensukseskan dalam program ASI Eksklusif.
1.6 Ruang Lingkup Penelitian
1.6.1 Jenis
Penilitian : Deskriptif
1.6.2 Subjek Penelitian : Ibu Hamil.
1.6.3 Objek
Penelitian : Pengetahuan Ibu Hamil Tentang
ASI Eksklusif
1.6.4 Tempat Penelitian : Rumah Bersalin ZZZ.
1.6.5 Waktu Penelitian : Bulan Mei Tahun 2009.







0 comments:
Poskan Komentar