Jumat, 13 Januari 2012

Gambaran Pengetahun Ibu Hamil Tentang Asi Eksklusif

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Pada bulan Juli 1984 dua organisasi non pemerintah PERINASIA dan BKPP ASI mengorganisasi suatu lokakarya mengenai ASI. Telah dihasilkan suatu rekomendasi tentang kebijakan dan aktifitas tentang pendidikan dan pelatihan serta promosi penggunaan ASI. Salah satu hasil Workshop dalam Invitational Asian Lactation Management Workshop juli 1988 di Bali yang diselenggarakan PERINASIA dan Wellsstart San Deigo Lactation Program dilakukan oleh  alumni Wellsstart adalah perluasan usaha peningkatan penggunaan ASI. (Sarwono ,2005:264)


Survei Demografi dan kesehatan Indonesia 1997, memperlihatkan hanya 52 persen ibu yang menyusui bayinya. Itupun rata-rata hanya selama 1,7 bulan. Bahkan menurut data Unicef, hanya 3persen ibu yang memberikan ASI secara eksklusif. Dipastikan presentase tersebut jauh menurun bila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. 15 tahun yang lalu, sebuah penelitian terhadap 460 bayi rawat gabung di Rumah Sakit RSCM memperlihatkan bahwa 71,1 persen ibu memberi ASI sampai bayinya berusia 2 bulan, 20,2 persen diantaranya memberi ASI secara eksklusif. (http://Pusdiknakes.or.od/)


 Di Indonesia  ibu yang memberi ASI eksklusif selama empat hingga lima bulan sebanyak 18 persen. Persentase itu jauh dari target nasional 80 persen. Konselor Laktasi Kemang Medical Care, Esthetika Wulandari dalam talk show yang diselenggarakan PT Unilever Tbk di Jakarta, baru-baru ini mengatakan, angka 18 persen itu merupakan hasil survei demografi dan kesehatan pada tahun 2007. Persentase itu meningkat dibanding tahun 2002-2003 sebesar 14 persen (http://www.litbang.depkes.go.id)

Mengingat pentingnya pemberian ASI bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasannya, maka perlu perhatian agar dapat terlaksana dengan benar. Oleh karena itu yang perlu banyak perhatian adalah bagaimana ibu yang bekerja dapat tetap memberikan ASI kepada bayinya secara ekskluisf sampai umur 6 (enam) bulan dan dapat dilanjutkan sampai umur 2 (dua) tahun. Pada ibu yang bekerja, singkatnya masa cuti hamil/melahirkan mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI Eksklusif berakhir sudah harus kembali bekerja. Hal ini mengganggu upaya pemberian ASI Eksklusif. Dari berbagai penelitian menunjukkan banyak alasan seperti faktor sosial budaya, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang belum mendukung Peningkatan pemberian ASI (PP-ASI), gencarnya promosi susu formula, dan ibu bekerja untuk menghentikan ASI dengan jumlah yang bervariasi: 13 persen (1982), 18,2 persen (Satoto 1979), 48 persen (Suganda 1979), 28 persen (Surabaya 1992), 47 persen (Columbia), 6% (New dehli). (http://botelifia.com)

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 86 responden yang memiliki pengetahuan yang cukup tentang ASI eksklusif sebanyak 34 responden (39,5 persen) dan 52 responden (60,4 persen) pengetahuannya masih kurang tentang ASI eksklusif. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif kurang baik. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah tingkat pendidikan yang dimiliki responden dimana responden yang tergolong pendidikan tinggi lebih sedikit dibandingkan dengan responden yang memiliki pendidikan rendah. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat pendidikan sangat mempengaruhi pengetahuan yang dimiliki oleh responden, karena semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya dan semakin rendah tingkat pendidikan seseorang maka semakin rendah pula tingkat pengetahuannya. (Ridwan Amiruddin, 2007)

Pemberian ASI Ekslusif masih belum seperti yang diharapkan. Menurut hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 presentase anak dibawah usia 6 bulan yang mendapatkan ASI Eksklusif adalah 39,5 persen. Pendidikan ibu yang masih sangat relative kurang dianggap dapat menurunkan  perilaku pemberian ASI Eksklusif. Penelitian di lakukan di Kabupaten Krawang, Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pengamatan dan wawancara mendalam kepada sejumlah 30 informant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu sudah mempunyai pengetahuan tentang ASI/Menyusui yang relative baik. Namun pengetahuan ibu mengenai ASI Eksklusif rendah. (WWW.litbang.DepKes.go.id)
Di Propinsi Lampung data pemberian ASI Eksklusif pada umur 0-6 bulan mencapai 24,68 persen pada tahun 2007, masih banyaknya bayi yang belum  mendapatkan ASI Ekskluisf. Menurut laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sendiri pemberian ASI Eksklusif mencapai 67.04 persen, sedangkan targetnya adalah 74 persen. (Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, 2008).

Berdasarkan hasil dari pra survey dan wawancara tentang pengetahuan ibu hamil yang peneliti lakukan berjumlah 143 orang sebesar 14,3 persen responden menjawab belum begitu paham tentang ASI Eksklusif.

1.2  Identifikasi Masalah

Dari latar belakang di atas penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1.2.1         Menurut data Unicef, hanya 3 persen ibu yang memberikan ASI secara eksklusif tahun 1997.
1.2.2        Di  Indonesia ibu memberi ASI eksklusif selama empat hingga lima bulan sebanyak 18 persen. Persentase itu jauh dari target nasional 80 persen pada tahun 2007.
1.2.3        Di Propinsi Lampung pemberian ASI secara Eksklusif  24,68 persen tahun 2007.
1.2.4        Menurut laporan tahunan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung sendiri pemberian ASI Eksklusif mencapai 67,04 persen, sedangkan targetnya adalah 74 persen. Pada tahun 2008.
1.2.5        Dari 10 ibu di Rumah Bersalin ZZZ, sebanyak 8 ibu hamil tidak begitu paham tentang ASI Eksklusif.
1.2.6        Beberapa Penelitian menunjukkan bahwa sebagian ibu sudah mempunyai pengetahuan tentang ASI/Menyusui yang relative baik, namun pengetahuan ibu mengenai ASI Eksklusif rendah.

1.3  Perumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan sebagai berikut:
1.3.1        Masalah
Rendahnya pengetahuan ibu hamil tentang ASI Eksklusif.
1.3.2        Permassalahan
1.3.2.1  Bagaimana pengetahuan ibu hamil  tentang ASI Eksklusif di Rumah Bersalin ZZZ pada bulan Mei tahun 2009.

1.4  Tujuan Penelitian
1.4.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil tentang ASI Eksklusif di Rumah Bersalin ZZZ tahun 2009.

1.4.2        Tujuan khusus
1)      Ingin mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang pengertian  ASI  eksklusif di Rumah Bersalin ZZZ pada bulan Mei tahun 2009.
2)      Ingin mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang manfaat ASI eksklusif di Rumah Bersalin ZZZ pada bulan Mei tahun 2009.
3)      Ingin mengetahui gambaran pengetahuan Ibu hamil tentang keuntungan ASI Eksklusif  di Rumah Bersalin ZZZ pada bulan Mei tahun 2009.
4)      Ingin mengetahui gambaran pengetahuan Ibu hamil tentang dampak tidak diberikan ASI Eksklusif  di Rumah Bersalin ZZZ pada bulan Mei tahun 2009.

1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Institusi Kesehatan,
         Sebagai data yang dapat diperoleh untuk meningkatkan upaya tentang ASI Eksklusif kepada masyarakat terutama ibu-ibu sehingga dapat meningkatkan cakupan ASI Eksklusif.
1.5.2 Bagi Institusi Pendidikan,
      Sebagai bahan bacaan dan menambah wawasan sehingga dapat dijadikan sebagai sarana dalam belajar dan dapat dijadikan data dasar dalam penelitian selanjutnya.
1.5.3 Bagi Peneliti,
Untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan serta sebagai sarana belajar dengan mengaplikasikan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah kedalam permasalahan yang ada ditengah masyarakat dan untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.
1.5.4 Bagi Rumah Bersalin ZZZ,
         Sebagai masukan untuk dapat meningkatkan program ASI Eksklusif dan turut serta dalam mensukseskan dalam program ASI Eksklusif.

1.6  Ruang Lingkup Penelitian
1.6.1 Jenis Penilitian      : Deskriptif
1.6.2 Subjek Penelitian  : Ibu Hamil.
1.6.3 Objek Penelitian   :  Pengetahuan Ibu Hamil  Tentang   ASI Eksklusif
1.6.4 Tempat Penelitian : Rumah Bersalin ZZZ.
1.6.5 Waktu Penelitian   : Bulan Mei Tahun 2009.
 
 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg