Jumat, 13 Januari 2012

Gambaran Pengetahuan Ibu Post Partum (0-3 Hari) Tentang Sindrom Baby Blues

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dewasa ini semakin tampak adanya fenomena perubahan prilaku menyimpang atau sejenisnya yang  ada pada masyarakat kita. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berhubungan erat dengan kondisi biologis, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar. Salah satu faktor yang banyak disinyalir oleh para ahli sebagai pengaruh terkuat adanya perubahan perilaku tersebut adalah pesatnya media elektronik yang semakin mudah untuk diakses oleh anak-anak hingga orang dewasa bahkan lanjut usia. Bicara perihal perubahan perilaku, berarti berbicara perihal yang berkaitan erat dengan masalah psikologi.(Suryani, 2008)


Akhir-akhir ini pembuangan bayi di seluruh dunia makin marak. Tragedi kemanusiaan tersebut, jelas terpicu oleh bebasnya pergaulan dan sulitnya kehidupan. Sayangnya, vonis masyarakat selalu hanya dilimpahkan ke atas bahu si ibu, tanpa mempertanyakan aspek biologis yang membuat seorang ibu tega menelantarkan bayinya. Depresi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang didominasi oleh kemurungan. Depresi akan timbul bila kadar zat-zat dan hormon-hormon tersebut berada di bawah batas normal. Sejalan dengan naik-turunnya kadar estrogen, depresi dapat timbul sebelum haid dan sewaktu hamil. Dalam 24 jam pasca melahirkan, kadar estrogen dan hormon kelenjar gondok turun secara drastis. Gangguan keseimbangan hormonal ini menimbulkan depresi, dengan gejala-gejala: sedih, malu, merasa berdosa, dan tidak berdaya, sering menangis, gelisah, sukar tidur, tidak bergairah, menyendiri, sukar berkonsentrasi, serta sakit kepala dan otot-otot. (http:/ 1/spnews/News/2009/01/18/index.html )

Kumpulan gejala-gejala di atas disebut baby blues. Baby blues yang berlangsung tidak lebih dari dua minggu, tidak memerlukan pengobatan (sembuh spontan). Depresi pasca melahirkan harus diwaspadai bila baby blues berlangsung lebih dari dua minggu, dan disertai peningkatan gejala-gejala seperti ingin bunuh diri, timbul rasa benci dan ingin mencederai si jabang bayi.Pada titik rawan inilah ibu dapat tega membuang bayinya.(http:/1/spnews/News/2009/01/18/index.html )

Post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pasca-salin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan, dan ditandai dengan gejala-gejala seperti : reaksi depresi /sedih/disforia, menangis , mudah tersinggung (iritabilitas), cemas, labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur dan gangguan nafsu makan. Gejala-gejala ini mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun pada beberapa minggu atau bulan kemudian, bahkan dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat.(http://bana2.dagdigdug.com/2008/11/10/post-partum-blues)

Dalam penelitian yang dipimpin Jane Morrell dari Universitas Sheffield, Inggris bagian utara melakukan uji coba yang dipublikasikan pada The British Medical Journal (BMJ) mengidentifikasi 701 ibu hamil di Ontario, Kanada, yang diestimasikan berisiko berkembangnya depresi pasca melahirkan. Dengan mendapat dukungan dari sesama ibu, risiko terkena depresi pada 12 minggu setelah melahirkan berkurang. ”Uji coba ini menambah adanya bukti bahwa depresi pasca melahirkan dapat secara efektif diatasi bahkan memungkinkan untuk dicegah,” kata koordinator peneliti Cindy-Lee Dennis dari Universitas Toronto menjelaskan Sayangnya, para perempuan sering mengabaikan sindrom baby blues dan mengingkarinya ( http://www.klikdokter.com/article/detail/517).    

 

Khusus di Indonesia kurangnya perhatian terhadap masalah baby blues. Tidak sedikit orang yang menganggap baby blues syndrom hanya dialami orang wanita-wanita di luar Indonesia. Serta masih kentalnya tradisi membantu kerabat yang baru melahirkan, semakin memperkuat keyakinan kalau wanita Indonesia ‘kebal’ terhadap baby blues syndrome. Padahal hasil penelitian yang dilakukan di Jakarta oleh dr. Irawati Sp.Kj menunjukkan 25% dari 580 ibu yang menjadi respondennya mengalami sindroma ini.(http://sehat-itu-healthy.blogspot.com/2008/11/baby-blues-tak-boleh-dianggap-enteng.html)


Dalam riset ilmiah yang dilakukan pakar kehamilan diberitakan bahwa 70-80% wanita yang pertama kali melahirkan  (baru jadi ibu) mengalami sindrom ”Baby Blues” (perasaan sedih, gelisah, takut terkait lengan bayi yang baru dilahirkannya). Gejala sindrom Baby Blues ini mulai tampak pada hari kedua atau ketiga persalinan(Husain, 2008 :157). Lebih dari 80% Ibu baru mengalami baby blues. Baby blues muncul sekitar 3 hingga 5 hari setelah persalinan. Penyebabnya adalah perubahan kadar hormon yang terjadi dengan cepat dalam tubuh Ibu. Selain itu, ada rasa khawatir yang berlebihan pada diri Ibu terhadap kemampuannya mengurus dan merawat bayinya.  Baby blues yang Ibu alami tergolong ringan, biasanya akan hilang dengan sendirinya (dalam hitungan hari atau minggu). Namun jika tergolong serius, dan dari hari kehari bertambah parah, harus dikonsultasikan pada dokter atau psikolog.(Bernardus.2008)


Perubahan hormonal yang bertalian dengan kehamilan dan persalinan diduga sebagai penyebab dari yang dinamakan depresi pasca  melahirkan. Kondisi yang mempengaruhi 80% wanita itu biasanya muncul 10 hari sesudah melahirkan. Walaupun  belum pernah ada bukti bahwa hormonal yang menjadi penyebabnya, tetapi estrogen diketahui juga memiliki sifat anti-depresan lunak, dan rendahnya kadar estrogen mempengaruhi suasana hati (Indiarti,2007:70).

Buku dan materi tentang baby blues bisa banyak dicari googling, ini penting untuk para suami supaya tahu bahwa ada kondisi semacam itu yang bisa menyertai kelahiran seorang anak. Dan penting juga untuk para ibu hamil supaya mengerti bahwa jika mereka mengalami suasana jiwa seperti itu, pengetahuan mereka tentang baby blues bisa mencegah mereka terlalu larut dalam kesedihan dan kekecewaan yang tidak beralasan.(http://hadirman.com/2008/10/12/post-partum)

Dari penelusuran pustaka, masih terdapat beberapa ibu postpartum yang mengalami sindrom baby blues pasca melahirkan, hal ini dilihat dari penelitian pendahuluan yang dilakukan di Rumah Sakit ZZZ tahun 2009 terdapat 305 ibu postpartum, dari hasil wawancara  dan observasi kepada 15 ibu postpartum didapatkan hasil 53% ibu  post partum belum mengetahui tentang sindrom baby blues terutama pada ibu primigavida.

Berdasarkan latar belakang dan fenomena yang ada, peneliti tertarik  untuk meneliti tentang “Gambaran pengetahuan ibu post partum tentang sindrom baby blues di Rumah Sakit ZZZ tahun 2009”.

1.2        Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.2.1        Berdasarkan penelitian yang dilakukan  di Jakarta oleh dr. Irawati Sp.Kj menunjukkan 25% dari 580 ibu yang menjadi respondennya mengalami sindrom baby blues.
1.2.2        Dari hasil wawancara dan pengamatan terhadap 15 ibu post partum didapatkan 53% ibu post partum terutama pada ibu primigravida di Rumah Sakit ZZZ belum mengetahui tentang sindrom baby blues pasca persalinan.

1.3        Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Gambaran pengetahuan ibu post partum (0-3 hari) tentang sindrom baby blues di Rumah Sakit ZZZ Selama Bulan Mei Bandar Lampung tahun 2009.

1.4        Tujuan Penelitian
1.4.1        Tujuan Umum
Penelitian secara umum bertujuan mengetahui gambaran pengetahuan ibu post partum (0-3 hari) tentang sindrom baby blues di Rumah Sakit ZZZ.

1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu post partum  tentang pengertian sindrom baby blues.
1.4.2.2  Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu post partum tanda-tanda terjadinya Sindrom baby blues.
1.4.2.3 Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu tentang faktor-faktor terjadinya Sindrom baby blues.

1.5        Manfaat Penelitian
1.5.1    Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman serta wawasan dalam melakukan penelitian selanjutnya serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama dibangku kuliah.

1.5.2    Bagi  Instansi Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan dalam memberikan mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian ini.
1.5.2        Bagi Ibu In Partu
Sebagai bahan pengetahuan dan gambaran tentang sindrom baby blues.
1.5.3        Bagi Tenaga Kesehatan
Sebagai masukan, bahwa perlunya memberi pengetahuan tentang sindrom baby blues kepada ibu-ibu antepartum maupun in partu sehingga ibu dapat mengetahuinya.

1.5      Ruang Lingkup Penelitian
1.6.1        Jenis Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian bersifat deskriptif untuk mengetahui  gambaran sejauh mana pengetahuan ibu post partum tentang   Sindrom baby blues.
1.6.2        Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Sindrom Baby blues.
1.6.3        Subjek Penelitian
Subjek Penelitian ini adalah Ibu Post Partum di Rumah Sakit ZZZ.
1.6.4        Tempat Penelitian
Ruang ZZZ.
1.6.5        Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Bulan Mei.

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg