BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa
ini semakin tampak adanya fenomena perubahan prilaku menyimpang atau sejenisnya
yang ada pada masyarakat kita. Hal ini
bisa disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal
adalah faktor yang berhubungan erat dengan kondisi biologis, sedangkan faktor
eksternal adalah faktor yang bersumber dari luar. Salah satu faktor yang banyak
disinyalir oleh para ahli sebagai pengaruh terkuat adanya perubahan perilaku
tersebut adalah pesatnya media elektronik yang semakin mudah untuk diakses oleh
anak-anak hingga orang dewasa bahkan lanjut usia. Bicara perihal perubahan
perilaku, berarti berbicara perihal yang berkaitan erat dengan masalah
psikologi.(Suryani, 2008)
Akhir-akhir ini pembuangan bayi
di seluruh dunia makin marak. Tragedi kemanusiaan tersebut, jelas terpicu oleh bebasnya
pergaulan dan sulitnya kehidupan. Sayangnya, vonis masyarakat selalu hanya
dilimpahkan ke atas bahu si ibu, tanpa mempertanyakan aspek biologis yang
membuat seorang ibu tega menelantarkan bayinya. Depresi adalah suatu keadaan
dimana mental seseorang didominasi oleh kemurungan. Depresi akan timbul bila
kadar zat-zat dan hormon-hormon tersebut berada di bawah batas normal. Sejalan
dengan naik-turunnya kadar estrogen, depresi dapat timbul sebelum haid dan
sewaktu hamil. Dalam 24 jam pasca melahirkan, kadar estrogen dan hormon
kelenjar gondok turun secara drastis. Gangguan keseimbangan hormonal ini
menimbulkan depresi, dengan gejala-gejala: sedih, malu, merasa berdosa, dan
tidak berdaya, sering menangis, gelisah, sukar tidur, tidak bergairah,
menyendiri, sukar berkonsentrasi, serta sakit kepala dan otot-otot. (http:/ 1/spnews/News/2009/01/18/index.html )
Kumpulan gejala-gejala di atas disebut baby blues. Baby blues
yang berlangsung tidak lebih dari dua minggu, tidak memerlukan pengobatan
(sembuh spontan). Depresi pasca melahirkan harus diwaspadai bila baby blues
berlangsung lebih dari dua minggu, dan disertai peningkatan gejala-gejala
seperti ingin bunuh diri, timbul rasa benci dan ingin mencederai si jabang
bayi.Pada titik rawan inilah ibu dapat tega membuang bayinya.(http:/1/spnews/News/2009/01/18/index.html )
Post-partum blues
sendiri sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun 1875 telah menulis
referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan
pasca-salin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala disforia
tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, post-partum blues
(PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues
dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam
minggu pertama setelah persalinan, dan ditandai dengan gejala-gejala seperti :
reaksi depresi /sedih/disforia, menangis , mudah tersinggung (iritabilitas),
cemas, labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur
dan gangguan nafsu makan. Gejala-gejala
ini mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam
waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun pada beberapa minggu atau
bulan kemudian, bahkan dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat.(http://bana2.dagdigdug.com/2008/11/10/post-partum-blues)
Dalam penelitian yang dipimpin Jane Morrell dari Universitas Sheffield, Inggris bagian utara melakukan uji coba yang dipublikasikan pada The British Medical Journal (BMJ) mengidentifikasi 701 ibu hamil di Ontario, Kanada, yang diestimasikan berisiko berkembangnya depresi pasca melahirkan. Dengan mendapat dukungan dari sesama ibu, risiko terkena depresi pada 12 minggu setelah melahirkan berkurang. ”Uji coba ini menambah adanya bukti bahwa depresi pasca melahirkan dapat secara efektif diatasi bahkan memungkinkan untuk dicegah,” kata koordinator peneliti Cindy-Lee Dennis dari Universitas Toronto menjelaskan Sayangnya, para perempuan sering mengabaikan sindrom baby blues dan mengingkarinya ( http://www.klikdokter.com/article/detail/517).
Khusus di Indonesia kurangnya perhatian terhadap masalah baby blues. Tidak sedikit orang yang menganggap baby blues syndrom hanya dialami orang wanita-wanita di luar Indonesia. Serta masih kentalnya tradisi membantu kerabat yang baru melahirkan, semakin memperkuat keyakinan kalau wanita Indonesia ‘kebal’ terhadap baby blues syndrome. Padahal hasil penelitian yang dilakukan di Jakarta oleh dr. Irawati Sp.Kj menunjukkan 25% dari 580 ibu yang menjadi respondennya mengalami sindroma ini.(http://sehat-itu-healthy.blogspot.com/2008/11/baby-blues-tak-boleh-dianggap-enteng.html)
Dalam riset ilmiah yang dilakukan pakar kehamilan
diberitakan bahwa 70-80% wanita yang pertama kali melahirkan (baru jadi ibu) mengalami sindrom ”Baby Blues” (perasaan sedih, gelisah,
takut terkait lengan bayi yang baru dilahirkannya). Gejala sindrom Baby Blues ini mulai tampak pada hari
kedua atau ketiga persalinan(Husain, 2008 :157). Lebih
dari 80% Ibu baru mengalami baby blues.
Baby blues muncul sekitar 3 hingga 5 hari setelah persalinan. Penyebabnya
adalah perubahan kadar hormon yang terjadi dengan cepat dalam tubuh Ibu. Selain
itu, ada rasa khawatir yang berlebihan pada diri Ibu terhadap kemampuannya
mengurus dan merawat bayinya. Baby
blues yang Ibu alami tergolong ringan, biasanya akan hilang dengan
sendirinya (dalam hitungan hari atau minggu). Namun jika tergolong serius, dan
dari hari kehari bertambah parah, harus dikonsultasikan pada dokter atau
psikolog.(Bernardus.2008)
Perubahan hormonal yang bertalian
dengan kehamilan dan persalinan diduga sebagai penyebab dari yang dinamakan
depresi pasca melahirkan. Kondisi yang
mempengaruhi 80% wanita itu biasanya muncul 10 hari sesudah melahirkan.
Walaupun belum pernah ada bukti bahwa
hormonal yang menjadi penyebabnya, tetapi estrogen diketahui juga memiliki
sifat anti-depresan lunak, dan rendahnya kadar estrogen mempengaruhi suasana
hati (Indiarti,2007:70).
Buku dan materi tentang baby blues bisa banyak dicari googling, ini penting untuk para
suami supaya tahu bahwa ada kondisi semacam itu yang bisa menyertai kelahiran
seorang anak. Dan penting juga untuk para ibu hamil supaya mengerti bahwa jika
mereka mengalami suasana jiwa seperti itu, pengetahuan mereka tentang baby blues bisa mencegah mereka terlalu
larut dalam kesedihan dan kekecewaan yang tidak beralasan.(http://hadirman.com/2008/10/12/post-partum)
Dari penelusuran pustaka, masih
terdapat beberapa ibu postpartum yang mengalami sindrom baby blues pasca melahirkan, hal ini dilihat dari penelitian
pendahuluan yang dilakukan di Rumah Sakit ZZZ tahun 2009 terdapat 305 ibu
postpartum, dari hasil wawancara dan
observasi kepada 15 ibu postpartum didapatkan hasil 53% ibu post partum belum mengetahui tentang sindrom baby
blues terutama pada ibu primigavida.
Berdasarkan latar belakang dan
fenomena yang ada, peneliti tertarik
untuk meneliti tentang “Gambaran pengetahuan ibu post partum tentang
sindrom baby blues di Rumah Sakit ZZZ tahun 2009”.
1.2
Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas
penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.2.1
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
di Jakarta oleh dr. Irawati Sp.Kj menunjukkan 25% dari 580 ibu yang
menjadi respondennya mengalami sindrom baby
blues.
1.2.2
Dari hasil wawancara dan pengamatan terhadap 15 ibu post partum didapatkan
53% ibu post partum terutama pada ibu primigravida di Rumah Sakit ZZZ belum
mengetahui tentang sindrom baby blues
pasca persalinan.
1.3
Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka
masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Gambaran pengetahuan ibu post
partum (0-3 hari) tentang sindrom baby
blues di Rumah Sakit ZZZ Selama Bulan Mei Bandar Lampung tahun 2009.
1.4
Tujuan Penelitian
1.4.1
Tujuan Umum
Penelitian secara
umum bertujuan mengetahui gambaran pengetahuan ibu post partum (0-3 hari) tentang
sindrom baby blues di Rumah Sakit ZZZ.
1.4.2
Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya gambaran pengetahuan
ibu post partum tentang pengertian sindrom baby blues.
1.4.2.2
Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu post partum tanda-tanda terjadinya Sindrom baby blues.
1.4.2.3 Diketahuinya gambaran pengetahuan ibu
tentang faktor-faktor terjadinya Sindrom baby
blues.
1.5
Manfaat Penelitian
1.5.1 Bagi Peneliti
Diharapkan dapat menambah
pengetahuan dan pengalaman serta wawasan dalam melakukan penelitian selanjutnya
serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama dibangku kuliah.
1.5.2 Bagi
Instansi Pendidikan
Hasil
penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan dalam memberikan mata kuliah yang
berkaitan dengan penelitian ini.
1.5.2
Bagi Ibu
In Partu
Sebagai
bahan pengetahuan dan gambaran tentang sindrom baby blues.
1.5.3
Bagi
Tenaga Kesehatan
Sebagai masukan, bahwa perlunya
memberi pengetahuan tentang sindrom baby
blues kepada ibu-ibu antepartum
maupun in partu sehingga ibu dapat mengetahuinya.
1.5
Ruang Lingkup Penelitian
1.6.1
Jenis Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian bersifat deskriptif
untuk mengetahui gambaran sejauh mana
pengetahuan ibu post partum tentang Sindrom baby blues.
1.6.2
Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Sindrom Baby blues.
1.6.3
Subjek Penelitian
Subjek Penelitian ini adalah
Ibu Post Partum di Rumah Sakit ZZZ.
1.6.4
Tempat Penelitian
Ruang ZZZ.
1.6.5
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada
Bulan Mei.







0 comments:
Poskan Komentar