Jumat, 13 Januari 2012

Gambaran Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Pemberian Kolostrum

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pada tahun 2007 lalu, Badan Kesehatan Dunia WHO dan UNICEF mengatakan, bahwa jumlah ibu menyusui banyak di negara – negara berkembang dan kalau dibicarakan mengenai penurunan jumlah ibu menyusui, banyak hal yang mempengaruhi beban hidup atau stress yang dialami oleh banyak wanita (Depkes RI, 2008).

Para ahli kesehatan telah banyak melakukan penelitian untuk menjabarkan data umum secara ilmiah. Para ahli dengan berbagai penelitian telah membuktikan kebenarannya, sehingga akhirnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) termasuk seluruh Departemen Kesehatan di dunia pun sangat menganjurkan para ibu memberi ASI kepada bayinya sesegera mungkin setelah bayi lahir agar dapat tumbuh kembang dan menjadi generasi yang cerdas (dr. Ruskandi, 2008).
Di Indonesia menurut hasil survei penelitian 15 tahun lalu pada bayi dengan rawat gabung (Rooming In) di RSCM memperlihatkan bahwa 71,1% dari 460 ibu tidak memberi ASI kepada bayinya, sedangkan menurut Survei Demografi Kesehatan  Indonesia (SDKI) tahun 1997 memperlihatkan hanya 52% dari 5000 ibu yang memberikan ASI kepada Bayinya. Dipastikan  persentase tersebut menurun hingga 20,2% diantaranya memberiakan ASI eksklusif (Pos persi, 2004).
Menurut hasil Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Lampung tahun 2005 bahwa salah satu manfaat ASI bagi sang bayi yang diberikan oleh ibu pada saat bayi berusia 0-2 tahun adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi terutama infeksi Gastrointestinal, pernapasan dan virus. Di Lampung persentasi jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif sudah cukup tinggi yaitu 70,33% atau 2.190 bayi dari jumlah bayi keseluruhan yaitu berjumlah 3.114 bayi (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Penyebab utama ibu-ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya yang pertama karena ibu sakit mencapai 18,6% di kota, sedangkan di desa mencapai hingga 46,7%; ASI tidak keluar juga menjadi penyebab bahkan mencapai 49,6% di kota, 40% di desa, dan berubahnya bentuk tubuh ibu yaitu 17,34%. Kemudian dari ibu bekerja di kota mencapai 19,5% sedang didesa 33,3% (G.J Ebrahim. 1986). Ada juga sumber yang menyebutkan penyebab tidak di berikannya ASI pada bayi karena ibu takut payudaranya akan melorot, adanya perubahan bentuk badan dan alasan kosmetik lainnya (Suara Merdeka, 9/9/06)
Menurut Roesli Utami (2004) seharusnya proses pemberian susu pada bayi melibatkan tiga hubungan insani. ibu yang memberikan ASI, si anak yang diberikan dan ayah sebagai penyeimbang hubungan. Namun pada kenyataannya banyak kaum ayah yang merasa tidak terlibat dalam proses sosial ini cenderung menyerahkan segala urusan pemberian ASI anak pada ibunya saja, dan merasa tidak perlu ikut campur dalam proses ini. “Padahal keterlibatan seorang ayah dalam proses ini akan memberi motivasi ibu untuk menyusui. Jika ibu sudah memiliki motivasi dan optimistis bisa menyusui, air susu-pun akan berhamburan”. Kemudian ia menambahkan, banyak kondisi produksi ASI seorang ibu dikarenakan oleh kondisi emosi seorang ibu. Pada tahap inilah keterlibatan seorang ayah berperan. Hingga apabila seorang ayah mampu memperlihatkan rasa sayang dan perhatian terhadap ibu dan anak, bisa mengakibatkan seorang ibu merasa lebih nyaman dan menghasilkan ASI yang berlimpah. Namun kenyataan yang ada sekarang ini justru malah kebalikannya. “Banyak ibu sekarang tidak menyusui bayinya karena merasa ASI yang diproduksinya tidak cukup banyak, encer, atau malah tidak merasa keluar sama sekali”.  Padahal menurutnya, bila mengutip dari penelitian WHO (1999), hanya ada satu dari 1.000 orang ibu yang tidak menyusui.
Ada penyebab lain yang tidak kalah penting yang menyebabkan ibu tidak mau memberi ASI diantaranya adalah puting susu ibu yang lecet, ibu mengeluh payudaanya terlalu penuh dan terasa sakit (Bendungan ASI) serta mastitis, sedangkan persentasi yang lebih banyak adalah masalah puting susu lecet 57% (soetjiningsih, 1997).
Inisiasi Menyusu Dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini, sejak disadari bayi baru lahir dapat merangkak kearah payudara, menemukan putting susu, kemudian menyusu sendiri, kelompok bayi yang lahir normal tanpa obat-obatan, tetapi langsung dipisahkan dari ibunya untuk ditimbang, diukur, dan dibersihkan, hasilnya 50% bayi tidak dapat menyusu sendiri. Bayi yang dilahirkan dengan obat-obatan atau tindakkan, segera setelah lahir diletakkan di dada ibu dengan kontak kulit ke kulit, hasilanya tidak semua dapat menyusu sendiri. Yang mencapai payudara ibunya pun, umumnya menyusui dengan lemah (Roesli Utami, 2005).
Terdapat beberapa pengertian yang salah mengenai kolostrum, yang diperkirakan ASI yang kotor, sehingga tidak patut diberikan pada bayi. Ternyata kolostrum sebagai pembuka jalan agar bayi dapat menerima ASI penuh. Kolostrum  banyak mengandung antibodi dan anti-infeksi serta dapat menumbuh kembangkan flora dalam usus bayi, untuk siap menerima ASI (Manuaba, 2003).
Hasil semantara prasurvey dari 42 ibu menyusui di Desa ZZZ Kabupaten Pesawaran, terdapat 28 (66,7%) ibu menyusui yang memberikan kolostrum segera setelah lahir, dan 14 (33,3%) ibu menyusui tidak memberikan kolostrum. Dari 42 ibu menyusui ada 30 (71,4%) ibu menyusui yang tidak mengerti tentang manfaat dan kandungan kolostrum, dan 12 (28,6%) ibu menyusui yang mengerti tentang manfaat dan kandungan kolostrum . Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Pemberian Kolostrum di Desa ZZZ Kabupaten Pesawaran”.

1.2   Identifikasi masalah
1.2.1        Menurut hasil Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Lampung tahun 2005 bahwa salah satu manfaat ASI bagi sang bayi yang diberikan oleh ibu pada saat bayi berusia 0-2 tahun adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi terutama infeksi Gastrointestinal, pernapasan dan virus. Di Lampung persentasi jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif sudah cukup tinggi yaitu 70,33% atau 2.190 bayi dari jumlah bayi keseluruhan yaitu berjumlah 3.114 bayi (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
1.2.2        Penyebab utama ibu-ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya yang pertama karena ibu sakit mencapai 18,6% di kota, sedangkan di desa mencapai hingga 46,7%; ASI tidak keluar juga menjadi penyebab bahkan mencapai 49,6% di kota, 40% di desa, dan berubahnya bentuk tubuh ibu yaitu 17,34%. Kemudian dari ibu bekerja di kota mencapai 19,5% sedang didesa 33,3% (G.J Ebrahim. 1986).
1.2.3        Hasil prasurvei dari 42 ibu menyusui di Desa ZZZ, terdapat 28(66,6%) ibu menyusui yang memberikan kolostrum segera setelah lahir dan 14(33,3%) ibu menyusui yang tidak memberikan kolostrum. Dan dari 42 ibu menyusui ada 30(71,4%) ibu menyusui yang tidak mengerti tentang manfaat dan kandungan kolostrum, dan 12(28,6%) ibu menyusui yang mengerti tentang manfaat dan kandungan kolostrum.

1.3  Rumusan Masalah dan Permasalahan
1.3.1  Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka diperoleh rumusan masalah dalam penelitian yaitu “Bagaimanakah pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum di Desa ZZZ Kabupaten Pesawaran?”.
1.3.2  Permasalahan
1.3.2.1        Bagamana pengetahuan ibu menyusui tentang pengertian kolostrum?
1.3.2.2        Bagaimana pengetahuan ibu menyusui tentang manfaat kolostrum?
1.3.2.3        Bagaimana pengetahuan ibu menyusui tentang waktu pemberian kolostrum?

1.4  Tujuan Penelitian
1.4.1  Tujuan Umum
         Tujuan umum adalah untuk memperoleh gambaran tentang pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum di Desa ZZZ.
1.3.1  Tujuan khusus
1.3.1.1        Distribusi frekwensi gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pengertian kolostrum di desa Mada Jaya.
1.3.1.2        Distribusi frekwensi gambaran bagaimana pengetahuan ibu  menyusui tentang manfaat kolostrum di desa Mada Jaya.
1.3.1.3        Distribusi frekwensi gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang waktu pemberian kolostrum di desa Mada Jaya
1.3.1.4        Distribusi frekwensi gambaran pemberian kolostrum oleh ibu menyusui di Desa Mada Jaya.

1.5  Manfaat Penelitian
Bagi ibu menyusui di Desa ZZZ
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan evaluasi dalam pengetahuan ibu menyusui tentang manfaat dan pemberian kolostrum.
1.5.1        Bagi Desa Mada Jaya
sebagai bahan masukan tentang pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum di Desa ZZZ.

1.5.2        Bagi peneliti
Sebagai penerapan dan perkuliahan yang telah didapat di Prodi Kebidanan ZZZ, serta untuk mendapat informasi yang jelas mengenai penetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum sehingga dapat memberikan informasi untuk penelitian lebih lanjut.
1.5.3        Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai bahan awal dalam melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum, sehingga pengetahuan dan wawasan dalam bidang penelitian serta sebagai penerapan ilmu yang didapat selama studi.
1.5.4        Bagi tenaga kesehatan
Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan, sehingga dapat membantu meningkatkan pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum.
                                                            Bagi Prodi Kebidanan Adila Bandar Lampung
Sebagai dokumen dan bahan tambahan sumber bacaan bagi mahasiswi Prodi Kebidanan ZZZ.

1.4  Ruang Lingkup Penelitian
Adapun yang menjadi ruang lingkup dari penelitian tentang pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum ini adalah :
1.4.1   Jenis Penelitian                       :  Deskriptif
1.4.2   Objek Penelitian                     : Pengetahuan ibu menyusui tentang pengetahuan pemberian kolostrum
1.4.3   Subjek Penelitian                   : Ibu menyusui di Desa ZZZ
1.4.4   Lokasi Penelitian                    : Desa ZZZ
1.4.5   Waktu Penelitian                    :  27 April – 30 Mei 2009

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

1 comments:

nursing agency mengatakan...

This is very fine blog. I got meaningful information from this. Keep it up.
nursing agency

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg