BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pada tahun 2007 lalu, Badan
Kesehatan Dunia WHO dan UNICEF mengatakan, bahwa jumlah ibu menyusui banyak di
negara – negara berkembang dan kalau dibicarakan mengenai penurunan jumlah ibu
menyusui, banyak hal yang mempengaruhi beban hidup atau stress yang dialami
oleh banyak wanita (Depkes RI, 2008).
Para ahli kesehatan telah
banyak melakukan penelitian untuk menjabarkan data umum secara ilmiah. Para
ahli dengan berbagai penelitian telah membuktikan kebenarannya, sehingga akhirnya
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) termasuk seluruh Departemen Kesehatan di dunia
pun sangat menganjurkan para ibu memberi ASI kepada bayinya sesegera mungkin
setelah bayi lahir agar dapat tumbuh kembang dan menjadi generasi yang cerdas (dr.
Ruskandi, 2008).
Di Indonesia menurut hasil
survei penelitian 15 tahun lalu pada bayi dengan rawat gabung (Rooming In) di RSCM memperlihatkan bahwa
71,1% dari 460 ibu tidak memberi ASI kepada bayinya, sedangkan menurut Survei
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
1997 memperlihatkan hanya 52% dari 5000 ibu yang memberikan ASI kepada Bayinya.
Dipastikan persentase tersebut menurun
hingga 20,2% diantaranya memberiakan ASI eksklusif (Pos persi, 2004).
Menurut hasil Laporan Dinas
Kesehatan Propinsi Lampung tahun 2005 bahwa salah satu manfaat ASI bagi sang
bayi yang diberikan oleh ibu pada saat bayi berusia 0-2 tahun adalah untuk
melindungi bayi terhadap infeksi terutama infeksi Gastrointestinal, pernapasan
dan virus. Di Lampung persentasi jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif sudah
cukup tinggi yaitu 70,33% atau 2.190 bayi dari jumlah bayi keseluruhan yaitu
berjumlah 3.114 bayi (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2005).
Penyebab utama ibu-ibu yang
tidak memberikan ASI kepada bayinya yang pertama karena ibu sakit mencapai
18,6% di kota, sedangkan di desa mencapai hingga 46,7%; ASI tidak keluar juga
menjadi penyebab bahkan mencapai 49,6% di kota, 40% di desa, dan berubahnya
bentuk tubuh ibu yaitu 17,34%. Kemudian dari ibu bekerja di kota mencapai 19,5%
sedang didesa 33,3% (G.J Ebrahim. 1986). Ada juga sumber yang menyebutkan
penyebab tidak di berikannya ASI pada bayi karena ibu takut payudaranya akan
melorot, adanya perubahan bentuk badan dan alasan kosmetik lainnya (Suara
Merdeka, 9/9/06)
Menurut
Roesli Utami (2004) seharusnya proses pemberian susu pada bayi melibatkan tiga
hubungan insani. ibu yang memberikan ASI, si anak yang diberikan dan ayah
sebagai penyeimbang hubungan. Namun pada kenyataannya banyak kaum ayah yang
merasa tidak terlibat dalam proses sosial ini cenderung menyerahkan segala
urusan pemberian ASI anak pada ibunya saja, dan merasa tidak perlu ikut campur dalam
proses ini. “Padahal keterlibatan seorang ayah dalam proses ini akan memberi
motivasi ibu untuk menyusui. Jika ibu sudah memiliki motivasi dan optimistis bisa menyusui, air susu-pun
akan berhamburan”. Kemudian ia menambahkan, banyak kondisi produksi ASI seorang
ibu dikarenakan oleh kondisi emosi seorang ibu. Pada tahap inilah keterlibatan
seorang ayah berperan. Hingga apabila seorang ayah mampu memperlihatkan rasa
sayang dan perhatian terhadap ibu dan anak, bisa mengakibatkan seorang ibu
merasa lebih nyaman dan menghasilkan ASI yang berlimpah. Namun kenyataan yang
ada sekarang ini justru malah kebalikannya. “Banyak ibu sekarang tidak menyusui
bayinya karena merasa ASI yang diproduksinya tidak cukup banyak, encer, atau
malah tidak merasa keluar sama sekali”.
Padahal menurutnya, bila mengutip dari penelitian WHO (1999), hanya ada
satu dari 1.000 orang ibu yang tidak menyusui.
Ada
penyebab lain yang tidak kalah penting yang menyebabkan ibu tidak mau memberi
ASI diantaranya adalah puting susu ibu yang lecet, ibu mengeluh payudaanya
terlalu penuh dan terasa sakit (Bendungan ASI) serta mastitis, sedangkan
persentasi yang lebih banyak adalah masalah puting susu lecet 57%
(soetjiningsih, 1997).
Inisiasi Menyusu Dini (early initiation) atau permulaan menyusu
dini, sejak disadari bayi baru lahir dapat merangkak kearah payudara, menemukan
putting susu, kemudian menyusu sendiri, kelompok bayi yang lahir normal tanpa
obat-obatan, tetapi langsung dipisahkan dari ibunya untuk ditimbang, diukur,
dan dibersihkan, hasilnya 50% bayi tidak dapat menyusu sendiri. Bayi yang
dilahirkan dengan obat-obatan atau tindakkan, segera setelah lahir diletakkan
di dada ibu dengan kontak kulit ke kulit, hasilanya tidak semua dapat menyusu
sendiri. Yang mencapai payudara ibunya pun, umumnya menyusui dengan lemah (Roesli
Utami, 2005).
Terdapat beberapa pengertian
yang salah mengenai kolostrum, yang diperkirakan ASI yang kotor, sehingga tidak
patut diberikan pada bayi. Ternyata kolostrum sebagai pembuka jalan agar bayi
dapat menerima ASI penuh. Kolostrum
banyak mengandung antibodi dan anti-infeksi serta dapat menumbuh
kembangkan flora dalam usus bayi, untuk siap menerima ASI (Manuaba, 2003).
Hasil semantara prasurvey dari
42 ibu menyusui di Desa ZZZ Kabupaten Pesawaran, terdapat 28 (66,7%) ibu menyusui
yang memberikan kolostrum segera setelah lahir, dan 14 (33,3%) ibu menyusui
tidak memberikan kolostrum. Dari 42 ibu menyusui ada 30 (71,4%) ibu menyusui yang
tidak mengerti tentang manfaat dan kandungan kolostrum, dan 12 (28,6%) ibu
menyusui yang mengerti tentang manfaat dan kandungan kolostrum . Berdasarkan
uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Pengetahuan Ibu
Menyusui Tentang Pemberian Kolostrum di Desa ZZZ Kabupaten Pesawaran”.
1.2
Identifikasi
masalah
1.2.1
Menurut
hasil Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Lampung tahun 2005 bahwa salah satu
manfaat ASI bagi sang bayi yang diberikan oleh ibu pada saat bayi berusia 0-2
tahun adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi terutama infeksi
Gastrointestinal, pernapasan dan virus. Di Lampung persentasi jumlah bayi yang
diberi ASI eksklusif sudah cukup tinggi yaitu 70,33% atau 2.190 bayi dari
jumlah bayi keseluruhan yaitu berjumlah 3.114 bayi (Profil Kesehatan Propinsi
Lampung, 2005).
1.2.2
Penyebab
utama ibu-ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya yang pertama karena ibu
sakit mencapai 18,6% di kota, sedangkan di desa mencapai hingga 46,7%; ASI
tidak keluar juga menjadi penyebab bahkan mencapai 49,6% di kota, 40% di desa,
dan berubahnya bentuk tubuh ibu yaitu 17,34%. Kemudian dari ibu bekerja di kota
mencapai 19,5% sedang didesa 33,3% (G.J Ebrahim. 1986).
1.2.3
Hasil
prasurvei dari 42 ibu menyusui di Desa ZZZ, terdapat 28(66,6%) ibu menyusui
yang memberikan kolostrum segera setelah lahir dan 14(33,3%) ibu menyusui yang
tidak memberikan kolostrum. Dan dari 42 ibu menyusui ada 30(71,4%) ibu menyusui
yang tidak mengerti tentang manfaat dan kandungan kolostrum, dan 12(28,6%) ibu
menyusui yang mengerti tentang manfaat dan kandungan kolostrum.
1.3
Rumusan Masalah dan Permasalahan
1.3.1 Masalah
Berdasarkan uraian latar
belakang masalah, maka diperoleh rumusan masalah dalam penelitian yaitu
“Bagaimanakah pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum di Desa ZZZ
Kabupaten Pesawaran?”.
1.3.2 Permasalahan
1.3.2.1
Bagamana
pengetahuan ibu menyusui tentang pengertian kolostrum?
1.3.2.2
Bagaimana
pengetahuan ibu menyusui tentang manfaat kolostrum?
1.3.2.3
Bagaimana
pengetahuan ibu menyusui tentang waktu pemberian kolostrum?
1.4
Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum adalah untuk memperoleh
gambaran tentang pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum di Desa
ZZZ.
1.3.1 Tujuan khusus
1.3.1.1
Distribusi
frekwensi gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang pengertian kolostrum di
desa Mada Jaya.
1.3.1.2
Distribusi
frekwensi gambaran bagaimana pengetahuan ibu menyusui tentang manfaat kolostrum di desa Mada
Jaya.
1.3.1.3
Distribusi
frekwensi gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang waktu pemberian kolostrum
di desa Mada Jaya
1.3.1.4
Distribusi
frekwensi gambaran pemberian kolostrum oleh ibu menyusui di Desa Mada Jaya.
1.5
Manfaat Penelitian
Bagi ibu menyusui di Desa ZZZ
Penelitian
ini diharapkan sebagai bahan evaluasi dalam pengetahuan ibu menyusui tentang
manfaat dan pemberian kolostrum.
1.5.1
Bagi
Desa Mada Jaya
sebagai bahan
masukan tentang pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum di Desa
ZZZ.
1.5.2
Bagi
peneliti
Sebagai
penerapan dan perkuliahan yang telah didapat di Prodi Kebidanan ZZZ, serta untuk mendapat informasi yang
jelas mengenai penetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum sehingga dapat
memberikan informasi untuk penelitian lebih lanjut.
1.5.3
Bagi
peneliti selanjutnya
Sebagai bahan
awal dalam melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan pengetahuan
ibu menyusui tentang pemberian kolostrum, sehingga pengetahuan dan wawasan
dalam bidang penelitian serta sebagai penerapan ilmu yang didapat selama studi.
1.5.4
Bagi
tenaga kesehatan
Sebagai bahan
masukan bagi tenaga kesehatan, sehingga dapat membantu meningkatkan pengetahuan
ibu menyusui tentang pemberian kolostrum.
Bagi
Prodi Kebidanan Adila Bandar Lampung
Sebagai
dokumen dan bahan tambahan sumber bacaan bagi mahasiswi Prodi Kebidanan ZZZ.
1.4
Ruang Lingkup Penelitian
Adapun yang menjadi ruang
lingkup dari penelitian tentang pengetahuan ibu menyusui tentang pemberian kolostrum
ini adalah :
1.4.1 Jenis
Penelitian : Deskriptif
1.4.2 Objek
Penelitian : Pengetahuan
ibu menyusui tentang pengetahuan pemberian kolostrum
1.4.3 Subjek
Penelitian : Ibu menyusui
di Desa ZZZ
1.4.4 Lokasi
Penelitian : Desa ZZZ
1.4.5 Waktu
Penelitian : 27 April
– 30 Mei 2009







1 comments:
This is very fine blog. I got meaningful information from this. Keep it up.
nursing agency
Poskan Komentar