Kamis, 12 Januari 2012

Gambaran Penatalaksanaan Abortus Inkomplit

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Pada dasawarsa terakhir ini, dunia Internasional nampaknya benar-benar terguncang. Jika setiap tahun hampir sekitar setengah juta warga dunia harus menemui ajalnya karena persalinan. Dan nampaknya hal ini menarik perhatian yang cukup besar sehingga dilakukannya berbagai usaha untuk menanggulangi masalah kematian ibu ini. Usaha tersebut terlihat dari beberapa program yang dilaksanakan oleh organisasi Internasional misalnya program menciptakan kehamilan yang lebih aman (making pregnancy safer program) yang dilaksanakan oleh World Health Organization (WHO), atau program gerakan sayang ibu (safe motherhood program) yang dilaksanakan oleh Indonesia sebagai salah satu rekomendasi dari konferensi Internasional di Mesir, Kairo tahun 1994. Selain usaha-usaha tersebut, ada pula beberapa konferensi Internasional yang juga bertujuan untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) seperti International Conference on Population and Development, di Kairo, 1994 dan The World Conference on Women, di Beijing, 1995 (www.rahima.or.id, 2003).

Masalah abortus berkaitan dengan tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan. Indonesia berada di peringkat tertinggi di negara-negara di Asia Tenggara (ASEAN). Sewaktu AKI di Indonesia mencapai 400/100.000 kelahiran hidup, tahun 1992 di Singapura hanya 6/100.000, Malaysia 39/100.000, Thailand 44/100.000 dan Philipina 170/100.000  (www.lomboknews.com, 2007).
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan 4,2 juta abortus dilakukan setiap tahun di Asia Tenggara, dengan perincian 1,3 juta dilakukan di Vietnam dan Singapura, antara 750 ribu sampai 1,5 juta di Indonesia, antara 155 ribu sampai 750 ribu di Filipina dan antara 300 ribu sampai 900 ribu di Thailand.  Di perkotaan abortus dilakukan 24-57% oleh dokter,16-28% oleh bidan/ perawat, 19-25% oleh dukun dan 18-24% dilakukan sendiri. Sedangkan di pedesaan abortus dilakukan 13-26% oleh dokter, 18-26% oleh bidan atau perawat, 31-47% oleh dukun dan 17-22% dilakukan sendiri (Azhari, 2002).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2002/2003 adalah sebesar 307/100 ribu kelahiran hidup (SDKI, 2002/2003).  Angka tersebut telah mengalami penurunan pada tahun 2005 menjadi 290,8/ 100 ribu kelahiran hidup (Departemen Kesehatan RI, 2005). Target yang diharapkan pada tahun 2010 adalah Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 125/100 ribu kelahiran hidup melalui pelaksanaan MPS (Making Pregnancy Safer) dengan salah satu pesan kunci yaitu setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat (Depkes RI, 2007). Sementara hasil SDKI tahun 2008 menyebutkan AKI di Indonesia sebesar 307/100.000 kelahiran hidup dimana setiap 7 jam 2 orang ibu meninggal karena kelahiran yang berarti setiap hari 38 orang ibu meninggal karena persalinan atau setiap bulan 20.000 nyawa ibu melayang karena melahirkan.
Komplikasi kehamilan yang paling sering terjadi dalam kehamilan khususnya pada trimester I adalah abortus (James R. Scott, dkk, 2002).  Abortus umumnya ditandai dengan perdarahan yang biasanya sedikit, namun lama kelamaan perdarahan menjadi cukup banyak seperti haid.  Namun bisa saja perdarahan yang banyak itu justru terjadi di awal dan mungkin diikuti dengan kram, menyerupai sakit sewaktu haid (Derek Llewellyn-Jones, 1997).
Berjuta-juta wanita setiap tahunnya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa kehamilan berakhir dengan kelahiran tetapi beberapa diantaranya diakhiri dengan abortus. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sedangkan menurut WHO batasan usia kehamilan adalah sebelum 22 minggu (Rieuwpassa, dkk, 2003).
Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2003 menghasilkan AKI 307/100.000 kelahiran hidup.  Selain itu jumlah abortus di Indonesia cukup tinggi. Menurut survey SKRT tahun 1995 menunjukkan bahwa aborsi memberikan kontribusi 11 persen terhadap Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. Angka itu bisa lebih besar karena lebih banyak perempuan yang meninggal tidak dilaporkan apalagi yang meninggal karena aborsi tidak aman. Diperkirakan bahwa kontribusi aborsi terhadap AKI bisa mencapai 30-50 persen (www.lomboknews.com, 2007).
Cara abortus yang dilakukan oleh dokter dan bidan/perawat adalah berturut-turut: kuret isap (91%), dilatasi dan kuretase (30%) sertas prostaglandin / suntikan (4%). Abortus yang dilakukan sendiri atau dukun memakai obat/hormon (8%), jamu/obat tradisional (33%), alat lain (17%) dan pemijatan (79%) (Hakimi, 1996). 
Survei yang dilakukan di beberapa klinik di Jakarta, Medan, Surabaya dan Denpasar menunjukkan bahwa abortus dilakukan 89% pada wanita yang sudah menikah, 11% pada wanita yang belum menikah dengan perincian: 45% akan menikah kemudian, 55% belum ada rencana menikah. Sedangkan golongan umur mereka yang melakukan abortus: 34% berusia antara 30-46 tahun, 51% berusia antara 20-29 tahun dan sisanya 15% berusia di bawah 20 tahun.
Penelitian Rusni (2008) mengenai karakteristik ibu hamil dengan abortus yang dilakukan terhadap 72 orang responden di Rumah Sakit Umum Daerah Kalianda Lampung Selatan terungkap bahwa sebagian besar usia responden adalah 20-35 tahun yaitu 47 orang (65,3%), berdasarkan paritas yaitu multigravida 32 orang (44,4%), berdasarkan usia kehamilan yaitu usia kehamilan Trimester I berjumlah 52 orang (72,2%), berdasarkan pekerjaan yaitu IRT berjumlah 35 orang (48,6%) dan berdasarkan pendidikan sebagian besar adalah SD yang berjumlah 38 orang (52,8%).
Pada tahun 2005 abortus merupakan salah satu penyebab kematian maternal di Propinsi Lampung yaitu sebanyak 4.457 kasus dari 142.216 persalinan (3,13%), dimana jumlah kasus abortus terbanyak yaitu di Kabupaten Tulang Bawang yang berjumlah 495 kasus (11,11%) jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan dengan Kabupaten Tanggamus yaitu 197 kasus (4,42%) dan Bandar Lampung 137 kasus (3,07%).  Sementara pada tahun 2006 jumlah kasus abortus di Bandar Lampung berjumlah 161 kasus, sehingga terlihat ada peningkatan dari tahun 2005 ke 2006 sebanyak 5,03%.   Pada tahun 2007 jumlah abortus di Bandar Lampung 198 kasus dari 342 persalinan (57,98%).  Dari hal tersebut terlihat bahwa ada peningkatan kejadian abortus, sedangkan abortus adalah salah satu penyebab kematian ibu, sehingga harapan ke depan agar penanganan lebih baik lagi dan angka kematian ibu tidak meningkat (Dinkes Provinsi Lampung, 2007).
Dari data Rekam Medis Rumah Sakit Denkesyah 02 04 03 Bandar Lampung tahun 2009, diketahui bahwa pada tahun 2006 kasus abortus sebanyak 39 kasus dari 142 persalinan (24,76%), kemudian pada tahun 2007 menurun menjadi 26 kasus dari 168 persalinan (15,47%) dan pada tahun 2008 kasus abortus kembali meningkat menjadi 57 kasus dari 229 persalinan (24,89%).  Secara keseluruhan dari tahun 2006 hingga 2008 sebagian besar jenis abortus yang ada adalah abortus inkomplit.
Dalam pelaksanaannya jenis abortus inkomplit dapat dilakukan yang pertama persetujuan tindakan medik, persiapan sebelum tindakan kemudian pengeluaran plasenta secara manual serta pemberian antibiotik.  Namun yang terlihat dari hasil survey awal di Rumah Sakit Denkesyah 02 04 03 Bandar Lampung belum tampak sebagaimana seharusnya penatalaksanaan abortus inkomplit (parsial), yang cenderung dilakukan hanya sebatas kuret dan belum adanya Prosedur Tetap (PROTAP) tertulis yang dapat digunakan sebagai tatalaksana tetap abortus inkomplit sehingga pelaksanaan abortus inkomplit lebih cenderung menunggu saran atau advise dokter.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang Gambaran Penatalaksanaan Abortus Inkomplit di Ruang ZZZ.

1.2   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1.2.1        Diketahui bahwa pada tahun 2006 jumlah kasus abortus di Bandar Lampung berjumlah 161 kasus yang meningkat dari tahun sebelumnya menjadi 5,03%.   Kemudian pada tahun 2007 jumlah abortus di Bandar Lampung 198 kasus dari 342 persalinan (57,98%).  
1.2.2        Diketahui  dari data rekam medik Rumah Sakit Denkesyah 02 04 03 bahwa pada tahun 2006 kasus abortus sebanyak 39 kasus dari 142 persalinan (24,76%), kemudian pada tahun 2007 menurun menjadi 26 kasus dari 168 persalinan (15,47%) dan pada tahun 2008 kasus abortus kembali meningkat menjadi 57 kasus dari 229 persalinan (24,89%).
1.2.3        Belum tampak sebagaimana seharusnya penatalaksanaan abortus inkomplit (parsial) di Rumah Sakit Denkesyah 02 04 03 Bandar Lampung, yang cenderung dilakukan hanya sebatas kuret dan lebih cenderung menunggu saran atau advise dokter.  

1.3   Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya bagaimanakah penatalaksanaan abortus inkomplit di Ruang ZZZ.

1.4  Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Penatalaksanaan Abortus Inkomplit di Ruang ZZZ.



1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Untuk mengetahui proses pelaksanaan persetujuan medik pada pasien abortus inkomplit di Ruang ZZZ.
1.4.2.2  Untuk mengetahui proses pelaksanaan persiapan sebelum tindakan pada pasien abortus inkomplit di Ruang ZZZ.
1.4.2.3  Untuk mengetahui proses pelaksanaan pengeluaran plasenta pada pasien abortus inkomplit di Ruang ZZZ.
1.4.2.4  Untuk mengetahui proses pelaksanaan pemberian antibiotik pada pasien abortus inkomplit di Ruang ZZZ.

1.5  Manfaat Penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1        Peneliti
Diharapkan dengan adanya penelitian ini, dapat menambah wawasan serta menambah informasi dan pengetahuan bagi peneliti khususnya mengenai abortus inkomplit.
1.5.2        Bidang Keilmuan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan untuk ilmu pengetahuan tentang kehamilan yang berkaitan dengan penatalaksanaan abortus inkomplit.
1.5.3        Lahan Penelitian (RS ZZZ )
Diharapkan dapat dijadikan masukan dalam upaya peningkatan penyuluhan kesehatan terhadap ibu hamil khususnya mengenai dampak/akibat yang ditimbulkan akibat abortus.
1.5.4        Bagi Tenaga Kesehatan
Dapat memaksimalkan upaya pelayanan kesehatan pada maternal khususnya dalam menghindari kejadian abortus pada ibu hamil.

1.6  Ruang Lingkup Penelitian

1.6.1           Jenis penelitian                    :    Deskriptif
1.6.2         Subyek yang akan diteliti   :    Semua bidan dan perawat yang bertugas di  Ruang ZZZ
1.6.3           Obyek penelitian                 :    Penatalaksanaan Abortus Inkomplit
1.6.4           Lokasi penelitian                 :    Rumah Sakit ZZZ
1.6.5           Waktu                                 :  Mei 2009


 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg