Kamis, 12 Januari 2012

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pasangan Usia Subur Memilih Kontrasepsi Tubektomi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Hal ini diselenggarakan melalui kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia.  Karakteristik pembangunan antara lain dilaksanakan melalui pengendalian pertumbuhan penduduk, Keluarga Berencana (KB), dan dengan cara pengembangan kualitas penduduk, melalui perwujudan keluarga kecil berkualitas (Depkes RI, 2005).

Keluarga kecil bahagia sejahtera secara nyata telah berhasil ditanamkan selama 30 tahun program KB berada di tengah-tengah masyarakat dan secara kuantitatif rata-rata jumlah anak yang dimiliki masing-masing keluarga semakin sedikit.  Indikatornya adalah menurunnya Total Fertility Rate (TFR) dari 5,6 per perempuan usia subur pada tahun 1970 menjadi 2,6 anak per perempuan (SDKI, 200-2003) serta angka kematian ibu dan bayi mengalami penurunan yang signifikan (BKKBN, 2008).

Menurut BKKBN (2008) tingkat pemakaian alat kontrasepsi atau Contraceptive  Prevalence Rate (CPR) di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat dari 57% pada tahun 1997 kini mencapai 61,4% (SDKI, 2007) maka sudah sepantasnya jika kontrasepsi ditempatkan sebagai suatu kebutuhan krusial bagi pasangan usia subur sekaligus dapat meningkatkan derajat kesehatan ibu, bayi dan anak serta memberikan kontribusi terhadap penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) sehingga membantu terwujudnya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.  Pasangan usia subur yang menggunakan metode kontrasepsi terus meningkat dari tahun ke tahun dan saat ini mencapai 61,4%.  Kecenderungan pola pemakaian kontrasepsi terbesar adalah suntik sebesar 31,6%, pil 13,2%, IUD 4,8%, implant 2,8%, kondom 1,3%, kontap wanita (MOW) 3,1% dan kontap pria (MOP) 0,2%, pantang berkala 1,5%, senggama terputus 2,2% dan metode lainnya 0,4%.

Hasil sementara SDKI tahun 2007 menyebutkan bahwa saat ini sebanyak 39% wanita Indonesia usia produktif tidak menggunakan kontrasepsi dengan sebaran 40% di pedesaan dan 37% di perkotaan. Di sisi lain kebutuhan pasangan usia subur (PUS) untuk ikut KB yang saat ini sebesar 70,6% tapi masih ada kebutuhan PUS untuk KB belum dapat terpenuhi (unmeet need) sebesar 9,1% yang terdiri dari kebutuhan untuk spacing (jarak) sebesar 4,3% dan untuk limiting (batas)sebesar 4,7% (BKKBN, 2008).

Rendahnya pemakaian Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti IUD, implant, Metode Operasional Wanita (MOW)/Tubektomi dan Metode Operasional Pria (MOP)/Vasektomi dikarenakan kurangnya pengetahuan serta kesadaran pasangan usia subur untuk menggunakan metode kontrasepsi ini, lemahnya ekonomi juga mempengaruhi partisipasi masyarakat terhadap pemakaian metode kontrasepsi tubektomi (Bappenas, 2006).

Minimnya jumlah akseptor tubektomi karena terdapat beberapa alasan diantaranya perasaan dan kepercayaan wanita mengenai tubuh dan seksualitasnya tidak dapat dikesampingkan dalam pengambilan keputusan dalam menggunakan kontrasepsi. Banyak wanita takut siklus menstruasi normalnya berubah, karena mereka takut perdarahan yang lama dapat mengubah pola hubungan seksual dan juga dapat membatasi aktifitas keagamaan maupun budaya. Dinamika seksual dan kekuasaan antara pria dan wanita dapat menyebabkan penggunaan kontrasepsi terasa canggung bagi wanita. Dukungan suami mengenai keluarga berencana cukup kuat pengaruhnya untuk menentukan penggunaan metode keluarga berencana oleh istri. Berbagai budaya mendukung kepercayaan bahwa pria mempunyai hak akan fertilitas istri mereka, seperti di Papua Nugini dan Nigeria wanita tidak dapat memiliki kontrasepsi tanpa persetujuan suami (Klobinsky, 2004).

Pada tahun 2007 jumlah akseptor KB tubektomi sebanyak 198 akseptor kemudian tahun 2008 meningkat menjadi 785 akseptor, artinya terdapat peningkatan sebesar 25,22%, diketahui pula bahwa pada tahun 2009 jumlah target/sasaran pengguna tubektomi sebanyak 8.349 akseptor, dimana 2.572 (30,80%) merupakan akseptor KB tubektomi di Bandar Lampung.   Sedangkan Pada tahun 2008 jumlah PUS Peserta Aktif (PA) KB di Provinsi Lampung sebanyak 1.463.942 orang dan Peserta Baru (PB) berjumlah 342.261 orang, sedangkan pada tahun 2009 jumlah Peserta Aktif (PA) KB sebanyak 1.049.033 orang dan Peserta Baru (PB) berjumlah 333.975 orang dari jumlah tersebut akseptor KB yang menggunakan tubektomi sebanyak 14.882 orang (4,45%), jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 29,22%. (BKKBN Provinsi Lampung, 2009).

Untuk mendukung upaya peningkatan target tersebut perlu adanya pengawasan secara ketat berupa kegiatan yang setidaknya dilaksanakan secara berkala baik penyuluh KB yang ada di setiap Kabupaten hingga Kecamatan.  Untuk Kecamatan Teluk Betung Barat cakupan akseptor pengguna metode tubektomi sebanyak 170 akseptor, terlihat pada tahun 2007 jumlah akseptor KB tubektomi sebanyak 68 akseptor dari 132 PB (51,51%) kemudian pada tahun 2008 meningkat menjadi 85 akseptor (62,04%) dari 137 PB (Laporan PLKB Puskesmas Sukamaju, 2009)

Berdasarkan dari hasil pemantauan dan pre survey yang peneliti lakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Sukamaju Kecamatan Teluk Betung Barat, diketahui bahwa hampir sebagian besar Pasangan Usia Subur (PUS) khususnya wanita belum mengetahui dan mengerti tentang manfaat tubektomi.

Hasil pre survey ditemukan pula bahwa dari 5 orang wanita pasangan usia subur yang sudah berkeluarga, 4 diantaranya (80%) mengatakan bahwa dukungan suami terhadap penggunaan alat kontrasepsi tubektomi sangat kurang, pengetahuan dan kesadaran akseptor dan suami dalam ber-KB rendah serta keterbatasan penerimaan dan aksesibilitas pelayanan KIP/konseling kontrasepsi PUS masih terbatas (Laporan PKMD, 2009).

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pasangan usia subur memilih kontrasepsi tubektomi di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.2   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1.2.1        Diketahui bahwa kebutuhan PUS untuk KB di Indonesia belum dapat terpenuhi (unmeet need) sebesar 9,1% yang terdiri dari kebutuhan untuk spacing sebesar 4,3% dan untuk limiting sebesar 4,7%.
1.2.2        Pada tahun 2008 jumlah Peserta Aktif (PA) KB di Provinsi Lampung sebanyak 1.049.033 orang dan yang menggunakan tubektomi sebanyak 785 orang, sedangkan pengguna KB Tubektomi di Bandar Lampung pada tahun 2008 sebanyak 2.572 orang.
1.2.3        Ditemukan bahwa dari 5 orang wanita pasangan usia subur yang sudah berkeluarga, 4 diantaranya (80%) mengatakan bahwa dukungan suami terhadap penggunaan alat kontrasepsi tubektomi sangat kurang, pengetahuan dan kesadaran akseptor dan suami dalam ber-KB rendah serta keterbatasan penerimaan dan aksesibilitas pelayanan KIP/konseling kontrasepsi PUS masih terbatas.

1.3  Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini adalah Faktor-faktor apakah yang berhubungan dengan pasangan usia subur memilih kontrasepsi tubektomi di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.4  Tujuan Penelitian
1.4.1        Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pasangan usia subur memilih kontrasepsi tubektomi di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Diketahuinya distribusi faktor-faktor yang berhubungan dengan pasangan usia subur memilih kontrasepsi tubektomi di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
1.4.2.2  Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dengan pasangan usia subur memilih kontrasepsi tubektomi di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
1.4.2.3  Diketahuinya hubungan antara dukungan suami dengan pasangan usia subur memilih kontrasepsi tubektomi di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
1.4.2.4  Diketahuinya hubungan antara ekonomi dengan pasangan usia subur memilih kontrasepsi tubektomi di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.5  Manfaat Penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1        Bidang Keilmuan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan untuk ilmu pengetahuan tentang KB yang berkaitan dengan kontrasepsi Tubektomi.
1.5.2        Bagi Kantor KB (BKKBN Provinsi ZZZ)
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam meningkatkan jumlah akseptor pengguna tubektomi khususnya di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.5.3        Bagi Tenaga Kesehatan (Bidan)
Diharapkan dapat dijadikan masukan dalam upaya peningkatan penyuluhan kesehatan terhadap akseptor KB yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.6  Ruang Lingkup Penelitian

1.6.1           Jenis penelitian                    :    Deskriptif Korelasi
1.6.2           Subyek yang akan diteliti   :    Pasangan usia subur
1.6.3           Obyek penelitian                 :    Faktor-faktor yang berhubungan dengan PUS memilih kontrasepsi tubektomi.
1.6.4           Lokasi penelitian                 :    Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ
1.6.5           Waktu                                 :    April – Mei 2009

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg