Jumat, 06 Januari 2012

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keikutsertaan Pria Dalam Ber-KB (MOP)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.hal ini di selenggarakan melalui kuantitas dan peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia karakteristik pembangunan antara lain dilaksanakan melalui pengendalian pertumbuhan penduduk, keluarga berencana (KB), dan dengan cara pengembangan kualitas penduduk,melalui perwujudan keluarga kecil berkualitas (Depkes RI, 2005).

Program KB di Indonesia sebelum dan sesudah ICPD-1994 di Kairo mengalami perubahan secara nyata.  Pada kurun 70-an sampai 90-an awal, pelayanan KB sangat menekankan pada aspek demografis, yaitu pengendalian angka kelahiran.Paska ICPD-1994 kebijakan pelayanan KB lebih mengedepankan aspek hak azazi manusia (HAM) dalam arus pembangunan, sesuai dengan perkembangan mazhab pembangunan lainnya di tingkat global dan nasional (BKKBN, 2008).
Program KB mengutamakan arus gender,data berbagai survey menunjukan bahwa prevalensi pengguna kontrasepsi pria masih dibawah dua persen.meskipun rendahnya pengguna kontrasepsi berkaitan pula dengan keterbatasan tehnik kontrasepsi yang tersedia bagi pria,angka ini menunjukan bahwa kepedulian pria terhadap keluarga berencana masih rendah.mengingat upaya pengarusutaan gender (gender mainstrenaming) menjadi pendeketan umum pada setiap pembangunan nasional dan global.  Maka kesetaraan gender dalam pengaturan kelahiran adalah menjadi cirri pembaharuan program KB (BKKBN, 2008).
Sejak kesepakatan ICPD,1994 di Kairo, kesetaraan dan keadilan gender dalam keluarga berencana telah menjadi salah satu strategi utama dalam pelaksanaan program KB nasional.  Dengan di adopsinya MDG’s sebagai tujuan pembangunan global, maka masalah kesetaraan dan keadilan gender memperoleh prioritas yang lebih tinggi.  Adapun pencapaian MOP di dunia 3,4%, Negara maju 5,3%, Negara berkembang 3,0%, dan di Indonesia 0,4% (SDKI, 2007).
Pemakaian kontrasepsi di Indonesia dari tahun ketahun terus meningkat dari 57% pada tahun 1997 kini mancapai 61,4% (SDKI 2007).  Dengan meningkatnya Pemakaian kontrasepsi ini sekeligus meningkatkan derajat kesehatan ibu, bayi dan anak serta memberikan konstribusi terhadap panurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) sehingga membantu terwujudnya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
Masalah utama yang dihadapi saat ini adalah rendahnya partisipasi pria dalam pelaksanaan program KB,dimana kesertaan pria dalam ber KB baru mencapai 4,4% yang meliputi kondom 0,9%, senggama terputus 1,5% dan pantang berkala 1,6% (SDKI, 2002-2003).  Rendahnya keikutsertaan antara lain disebabkan oleh adanya pandangan adalah bahwa KB adalah urusan wanita atau istri; tingginya “unmeet need”yaitu (hamil, ingin anak segera, ingin anak tapi ditunda, tidak ingin anak lagi), yang disebabkan antara lain rendahnya kualitas dan aksesibilitas terhadap informasi dan pelayanan KB, serta kehilangan peluang (missed opportunity) pelayanan KB pada pasca persalinan; pilihan KB pria hanya dua,yang satu mempunyai stigma negatif (kondom) yang satu opersi (vasektomi).
Penelitian terhadap kontrasepsi baru pria (suntik KB pria) sampai saai ini belum menunjukan hasil, kurangnya dukungan dari para tokoh tentang KB pria, yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat setempat dan sebagian mengganggap vasektomi dengan dikebiri (BKKBN, 2006).
Program KB Nasional diatur di dalam Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera,dan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009.  Dalam Peraturan Presiden tersebut pembangunan keluarga berencana di arahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas.
Perilaku adalah hasil atau resultan antara stimulus (faktor eksternal) dengan respon (faktor internal) dalam subjek atau orang yang berperilaku tersebut.  Faktor perilaku sendiri ditentukan oleh 3 faktor utama, yaitu pertama adalah faktor predisposisi.  Dengan tingginya pengetahuan seseorang, maka orang itu akan dengan cepat mengubah perilakunya dari kebiasaan yang buruk ke kebiasaan yang baik.  Faktor kedua adalah faktor pemungkin, yaitu dengan tercukupi sarana dan prasarana, maka orang tersebut akan mengambil tindakan (keputusan) untuk melakukan sesuatu.  Faktor ketiga merupakan penguat, adalah dengan adanya peraturan-peraturan dan undang-undang yang ada, maka seseorang semakin mantap dalam memutuskan sesuatu (Green, 2005).
Apabila seseorang memiliki stimulus atau rangsangan yang telah diamatinya sebagai objek, maka akan timbul suatu proses atau reaksi di dalam diri seseorang.  Semakin proses itu berlangsung sempurna pada diri seseorang, maka orang tersebut semakin cepat bereaksi dan berbuat sesuatu pada objek tersebut (Notoatmodjo, 2003).
Hasil penelitian Israwati (2005) yang dilakukan di 31 Propinsi di Indonesia menyebutkan bahwa akseptor pengguna MOP sebanyak 2,6%,jumlah ini masih termasuk terendah dari jenis KB lainnya,j umlah prevalensi tertinggi di capai oleh Propinsi Bali, Bengkulu, DIY, Jambi, Sulut. sedangkan angka prevalensi terendah di tempati oleh Propinsi Papua, NTT dan Maluku Utara.   Hasil penelitian ini juga menyebutkan KIE dan pelayanan KB pria masih perlu di tingkatkan.
Hasil penelitian Winarni (2008) tentang pengetahuan dan sikap pria dalam menggunakan alat kontrasepsi KB terungkap bahwa hamper semua peria mengetahui salah satu jenis alat/cara KB (97%), pengetahuan tersebut di peroleh dari berbagai sumber diantaranya puskesmas, bidan praktek swasta, bidan desa, apotik. Selain itu rendahnya pengetahuan di nilai karena kurangnya pria mengakses informasi melalui media seperti TV, Koran/majalah, radio, poster dan pamphlet. Sedangkan secara umum di antara berbagai pernyataan pria tentang sikap dalam keluarga berencana, yang menonjol adalah KB merupakan urusan wanita (28%).
Sehubungan dengan hal tersebut, di perlukan terobosan baru dalam bentuk upaya untuk meningkatkan partisipasi pria dalam KB dan kesehatan reproduksi, diantaranya melalui pemberian informasi kepada calon pengantin, bahwa program KB tidak di peruntukkan bagi wanita saja, namun juga bagi pria, bagi dari segi kepedulian maupun dalam penggunaan kontrasepsi, karena hal ini merupakan kepentingan bersama suami isteri (BKKBN, 2008).
Sedangkan di Kecamatan Metro Barat MOP hanya 17 orang MOW 101 orang ekseptor, tingkat pendidikan SD : 522, SMP: 2063, SMA: 2056 dan PT: 623. Sementara jumlah bidan coordinator ada 3 orang. Adapun jumlah posyandu sebanyak 23 unit, Puskesmas induk, Pustu 1 unit, Poskesdes 3 unit dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) ada 4 orang untuk 4 Kelurahan. Kemudian jumlah PPKBD 4 orang, jumlah sub PPKBD 56 orang, kegiatan rutin yang dilakukan adalah bhakti IBI, Bhakti Bhayangkarai, TNI Manunggal KB kesehatan serta kesetuan gerakan PKK. Sejak tahun 2008 dilakukan pelayanan KB ditiap-tiap Kelurahan satu bulan satu kali yaitu  dalam kegiatan TKBK (Tim Keluarga Berencana Keliling). 
Berdasarkan BKKB dan PP tahun 2008 di Kota Metro kesertaan KB MOP sebanyak 72 orang dan MOW 626 orang, IUD 2760, kondom 202, implant 2771, suntik 7279, pil 5009 total akseptor KB semuanya 18719.
Dari hasil pre survey yang peneliti lakukan di Kecamatan Metro Barat Kota Metro pada bulan Maret 2009 terhadap 5 orang akseptor KB MOP yang memiliki anak lebih dari 2, didapatkan bahwa 3 orang (60%) tidak mengetahui manfaat KB MOP, 1 orang (20%) tahu manfaat KB MOP namun tidak mengetahui efek samping penggunaannya dan 1 orang lainnya (20%) mengetahui manfaat dan efek samping KB MOP namun tidak mendapatkan dukungan dari keluarga.
Berdasarkan data di atas karena masih sedikit pria (suami) yang menggunakan vasektomi, maka peneliti tertarik untuk mengetahui “faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pria (suami) memilih vasektomi (MOP) di Kecamatan ZZZ”.

1.2  Identifikasi dan Perumusan Masalah

1.2.1        Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1.2.1.1  Rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB vasektomi karena menganggap program KB hanya milik ibu-ibu, selain itu ibu yang khawatir suaminya berpeluang tidak setia jika ikut vasektomi atau sebaliknya takut kehilangan keperkasaan setelah ikut vasektomi.  Menurut Murtiningsih program KB juga menjadi tanggung jawab pria apalagi jika kesehatan istrinya tidak mendukung.
1.2.1.2  Pengetahuan, sikap dan motivasi mendukung seseorang untuk berfikir memilih salah satu kontrasepsi.
1.2.2        Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu belum diketahuinya apakah pengetahuan, sikap dan motivasi merupakan faktor yang berhubungan dengan dengan keikutsertaan pria dalam ber-KB (MOP) di Kecamatan ZZZ.

1.3  Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1        Tujuan Penelitian
1.3.1.1  Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pria (suami) memilih vasektomi (MOP) di Kecamatan ZZZ.
1.3.1.2  Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui persentase pria yang mengikuti kontrasepsi mantap di Kecamatan ZZZ.
2.      Untuk mengetahui persentase pengetahuan pria yang mengikuti kontrasepsi mantap di Kecamatan ZZZ.
3.      Untuk mengetahui persentase sikap pria yang mengikuti kontrasepsi mantap di Kecamatan ZZZ.
4.      Untuk mengetahui persentase motivasi pria yang mengikuti kontrasepsi mantap di Kecamatan ZZZ.
5.      Untuk mengetahui hubungan pengetahuan pria dengan keikutsertaan ber-KB (MOP) di Kecamatan ZZZ.
6.      Untuk mengetahui hubungan sikap pria dengan keikutsertaan ber-KB (MOP) di Kecamatan ZZZ.
7.      Untuk mengetahui hubungan motivasi pria dengan keikutsertaan ber-KB (MOP) di Kecamatan ZZZ.

1.3.2        Manfaat Penelitian

1.3.2.1  Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.

1.3.2.2  Bagi Petugas Kesehatan (PLKB)
Untuk menambah wawasan bagi petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan berupa informasi (KIE) kepada PUS/pria agar lebih memperhatikan tentang pentingnya manfaat melakukan KB.

1.3.2.3  Bagi Penulis
Sebagai penerapan dalam mata kuliah metode penelitian dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam penelitian.

1.3.2.4  Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan awal dalam melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan keikutsertaan pria dalam ber-KB, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam bidang penelitian serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama studi.

1.3.2.5  Peneliti Lain
Untuk dapat meneliti lebih jauh lagi khususnya tentang keikutsertaan pria dalam ber-KB.

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg