Sabtu, 17 September 2011

Karakteristik ibu yang menyapih anak pada usia Sebelum 2 tahun

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Sejak empat dekade yang lalu hingga saat ini jumlah wanita yang memilih menyusui sendiri bayinya mulai berkurang.  Jumlah terendah terjadi di tahun-tahun awal 70-an ketika kurang dari 40% yang memilih Air Susu Ibu (ASI), dan pada minggu keenam setelah melahirkan, kurang dari 20% memberikan ASI kepada bayinya.  Sejak itu kemudian ada kecenderungan untuk kembali memberikan ASI, khususnya diantara wanita kelas menengah, dan sekarang 75% wanita mulai menyusui bayinya, dan 35% masih menyusui 3 bulan kemudian (Jones, Derek Llewellyn, 2005).

Jumat, 16 September 2011

Gambaran Pengetahuan Ibu Terhadap Keputihan dan Penanganannya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Wanita sehat merupakan wanita yang sehat seutuhnya baik tubuh, jiwa dan perilakunya dalam lingkungan dan masyarakat yang sehat.  Sehat tidak saja terbebas dari sakit tetapi dalam lingkungan sehat seutuhnya seperti jasmani, rohani dan sosial (Astuti, 2006).  Untuk itu perhatian terhadap wanita diperlukan, hal ini sesuai dengan hasil Konferensi Dunia tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development/ICPD) yang diselenggarakan tahun 1994 di Cairo, Mesir, mengharapkan di akhir tahun 2015 nanti, 90 persen dari seluruh jumlah remaja dan wanita sudah mendapatkan informasi tentang status kesehatan reproduksi dan seksual serta hak-haknya.

Gambaran Pengetahuan Ibu Terhadap Keputihan dan Penanganannya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Wanita sehat merupakan wanita yang sehat seutuhnya baik tubuh, jiwa dan perilakunya dalam lingkungan dan masyarakat yang sehat.  Sehat tidak saja terbebas dari sakit tetapi dalam lingkungan sehat seutuhnya seperti jasmani, rohani dan sosial (Astuti, 2006).  Untuk itu perhatian terhadap wanita diperlukan, hal ini sesuai dengan hasil Konferensi Dunia tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development/ICPD) yang diselenggarakan tahun 1994 di Cairo, Mesir, mengharapkan di akhir tahun 2015 nanti, 90 persen dari seluruh jumlah remaja dan wanita sudah mendapatkan informasi tentang status kesehatan reproduksi dan seksual serta hak-haknya.

Kamis, 15 September 2011

Gambaran Penatalaksanaan Pemberian ASI 30 Menit Setelah Bayi Lahir Oleh Bidan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Pada tahun 2003 Universal Childern Foundation (UNICEF) menyatakan bahwa pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif sampai usia enam bulan dapat mencegah kematian 1,3 juta anak berusia di bawah lima tahun. Suatu penelitian di Ghana yang diterbitkan jurnal Pediatrics menunjukkan, 16% kematian bayi dapat dicegah melalui pemberian ASI pada bayi sejak hari pertama kelahirannya. Angka ini naik menjadi 22% jika pemberian ASI dimulai dalam satu jam pertama setelah kelahiran bayi (Kompas, 2007).

Rabu, 14 September 2011

Karakteristik Ibu Hamil Dengan Hiperemesis Gravidarum

BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                            
1.1   Latar Belakang
Negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, adalah negara dimana setiap warga perempuannya memiliki kemungkinan 20-60 kali lipat dibanding negara-negara Barat dalam hal kesakitan dan kematian ibu karena persalinan. Beberapa faktor penyebabnya adalah pertama berkaitan dengan faktor pelayanan kesehatan, termasuk fasilitas yang kurang baik dan ketidakmampuan untuk menerima perlakuan yang khusus seorang ahli medis.  Faktor kedua adalah faktor reproduksi perempuan sendiri, yaitu perempuan yang terlalu muda atau terlalu tua dimana badannya tidak kuat untuk menangani persalinan.

Selasa, 13 September 2011

Gambaran Pengetahuan Ibu Post Sectio Caesaria Tentang Pemberian Kolostrum

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1994-2004 dan Program Pembangunan Nasional (PROPERNAS) mengamanatkan bahwa pembangunan diarahkan untuk meningkatkan mutu sumberdaya manusia (SDM). Modal dasar pembentukan manusia berkualitas dimulai sejak bayi dalam kandungan disertai dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sejak usia dini, terutama pemberian ASI kepada bayi sejak lahir berusia empat bulan Universal Children Foundation (UNICEF), bahkan saat ini dianjurkan sampai usia 6 bulan.

Gambaran Pengetahuan Bidan Tentang Manajemen Aktif Kala III

BAB I
PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang
Negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, adalah negara dimana setiap warga perempuannya memiliki kemungkinan 20-60 kali lipat dibanding negara-negara Barat dalam hal kematian ibu karena persalinan. Beberapa faktor penyebabnya adalah pertama berkaitan dengan faktor pelayanan kesehatan, termasuk fasilitas yang kurang baik dan ketidakmampuan untuk menerima perlakukan yang khusus seorang ahli medis. Faktor kedua adalah faktor reproduksi perempuan sendiri,

Senin, 12 September 2011

Gambaran Keikutsertaan Suami Menjadi Akseptor KB Di Klinik

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Sesuai dengan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Tahun 2005, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2005 tercatat sebesar 218.868.791 jiwa. Tingkat kepadatan penduduk 2005 sebesar 117,6 jiwa per km2.  Provinsi-provinsi di Pulau Jawa memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dibandingkan di luar Jawa. Provinsi yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah DKI Jakarta, yaitu sebesar 11.968,8 jiwa per km2. Provinsi DI Yogyakarta merupakan wilayah yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi ke-2 dengan kepadatan 1.067,2 jiwa per km2. Provinsi dengan tingkat kepadatan tertinggi ke-3 masih berada di Pulau Jawa, yaitu Jawa Barat sebesar 1.055,3 jiwa per km2 (Depkes RI, 2007).

Karakteristik Penderita Diare Di Ruang Anak


BAB I

PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang
Diare diartikan sebagai pembuangan air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya. Sebagai akibat awal diare baik akut maupun kronis akan terjadi kehilangan cairan dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan asam basa yang berupa asidosis metabolit, hipokalemia dan sebagainya.  Jika keadaan dehidrasi tidak segera ditangani akan mengakibatkan kematian. Oleh karena itu diare memerlukan penatalaksanaan yang optimal berdasarkan standar pelayanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang sekaligus melindungi petugas karena penilaian terhadap proses dan hasil pelayanan yang dilakukan dengan dasar yang jelas (Hasan, 2002).
Diare dapat menyebabkan dehidrasi dan kekeringan yang merupakan faktor resiko terjadinya kerusakan integritas kulit. Menurut Ngastiyah (1996) kerusakan integritas kulit terjadi karena seringnya buang air besar encer yang akan menyebabkan kulit di sekitar anus menjadi lembab dan adanya asam laktat dalam tinja sehingga mempermudah terjadinya iritasi dan lecet, terutama pada bayi dan anak-anak yang tingkat ketergantungannya masih tinggi terhadap orang lain.  Di Indonesia pada tahun 2004  Insidence Rate (IR) untuk penyakit diare dengan dehidrasi ringan, sedang dan berat mencapai 23-30 per 1000 penduduk atau lebih dari 50% pertahunnya.
Pada tahun 2005, jumlah kasus kematian atau Case Fatality Rate (CFR) akibat diare sebesar 2,51% dengan 127 orang meninggal dari 5.051 kasus. Angka ini lebih tinggi jika kita bandingkan dengan tahun 2004, yaitu 1,6% dengan 23 orang meninggal dari 1.436 kasus. Namun demikian, CFR tahun 2005 tetap lebih rendah dibandingkan tahun 2003 yang sebesar 2,77% dengan 128 orang meninggal dari 4.622 kasus.
Kemudian diketahui pula bahwa dari 12 provinsi di Indonesia yang melaporkan adanya KLB, wilayah dengan tingkat kematian tertinggi akibat Diare adalah Sulawesi Tengah, yaitu 18,84% (13 meninggal dari 69 kasus), disusul oleh Papua dengan CFR sebesar 7,61% (37 kasus meninggal dari 486 kasus) dan Maluku Utara dengan CFR sebesar 5,26% (7 meninggal dari 133 kasus). Jumlah kasus, meninggal dan CFR Diare tiap provinsi dari tahun 2001-2005 (Hasan Sjafii, dkk, 2007).
Data dari Dinkes Provinsi Lampung tahun 2005 diketahui kasus kematian akibat diare mencapai 614 kasus (15%) dari 4.095 kasus.  Sementara di Kabupaten Tulang Bawang kasus bayi akibat diare mencapai 4 orang (3,07%) dari 130 bayi yang menderita diare yang dirawat di Ruang Anak RSUD Menggala.
Menurut Hasan Sjafii, dkk (2007) bahwa pada tahun 2005 diare menempati urutan kelima terbesar dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat jalan yang ada di Rumah Sakit di Indonesia dengan jumlah pasien sebanyak 370.479 pasien (8,10%) dari 4.571.996 kasus.              Jumlah tersebut terus mengalami peningkatan sebanyak 193.856 (29,44%) dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap yaitu 658.432 kasus.  Data tersebut di atas didukung dengan adanya data dari Ditjen PP-PL, Depkes RI, Profil PP-PL, 2005 yaitu tingkat kematian Diare pada tahun 2005 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Penyebaran serta pengawasan penyakit diare hingga saat ini belum maksimal, hal tersebut terbukti dari beberapa kasus yang ada di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada akhir tahun 2002, setidaknya hampir 1000 kasus diare akut dan kronis terjadi setiap tahunnya dan hanya 734 kasus (73,4%) yang tertangani  (Falina, 2003).
Dinas Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2005 menyebutkan bahwa penyakit diare menempati urutan kedua setelah ISPA yang terjadi pada hampir sebagian besar anak yang dirawat di Puskesmas dan rumah sakit yaitu sebanyak 4.095 kasus, berbeda dengan pada tahun 2004 yaitu hanya sebesar 3.887 kasus, yang berarti terjadi peningkatan angka pada penderita diare.
Pada tahun 2006 di temukan kasus diare di Kabupaten Tulang Bawang sebanyak 30,6% dengan 15,4% bayi yang menderita dirawat di Ruang Anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Menggala.  Kemudian pada tahun 2007 diketahui bahwa diare menempati urutan pertama dari 10 penyakit terbesar yaitu sebanyak 20.314 kasus (42,39%), dari jumlah tersebut diketahui bahwa 3.147 kasus (15,5%) dialami oleh bayi, balita 4.442 kasus (21,9%) dan pada anak lebih dari 5 tahun berjumlah 12.725 kasus (62,74%).
Dari hasil pre survey yang peneliti lakukan pada minggu pertama dan kedua bulan Januari 2008 di Ruang Anak RSUD Menggala ditemukan bahwa masih terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya diare seperti faktor infeksi dan makanan, kemudian diketahui pula bahwa rata-rata lama perawatan pasien diare antara 1-2 hari.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena yang ada, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang karakteristik penderita diare di ZZZ.

1.2           Identifikasi Masalah

1.2.1        Masih tingginya jumlah penderita diare di Kabupaten Tulang Bawang tahun 2007 yaitu berjumlah 20.314 kasus (42,39%).
1.2.2        Pada tahun 2007 diare menempati urutan pertama dari 10 besar penyakit terbanyak yang ada Kabupaten Tulang Bawang pada tahun 2007 20.314 kasus (42,39%) dari 211.344 kasus.
1.2.3        Di Kabupaten Tulang Bawang tahun 2007 terjadi 3.147 kasus diare (15,5%) dialami oleh bayi, balita 4.442 kasus (21,9%) dan pada anak lebih dari 5 tahun berjumlah 12.725 kasus (62,74%).
1.2.4        Di RSUD Menggala tahun 2007 terdapat 4 orang yang meninggal dunia (3,07%) dari 130 bayi yang dirawat.

1.3           Masalah dan Permasalah

1.3.1        Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah masih banyaknya kasus diare (43%) di RSUD Menggala dan belum diketahuinya bagaimanakah karakteristik pasien diare yang dirawat di ZZZ.

1.3.2        Permasalahan
1.      Bagaimanakah karakteristik pasien diare berdasarkan usia yang ada di ZZZ?
2.      Bagaimanakah karakteristik pasien diare berdasarkan faktor penyebab infeksi, makan dan malnutrisi yang ada di ZZZ?
3.      Bagaimanakah karakteristik pasien diare berdasarkan lama perawatan yang ada di ZZZ?
4.      Bagaimanakah karakteristik pasien diare berdasarkan derajat dehidrasi yang ada di ZZZ?

1.4           Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui karakteristik pasien diare yang dirawat di ZZZ.

1.4.2        Tujuan khusus
1.      Untuk mengetahui karakteristik pasien diare berdasarkan usia orangtua (ibu) yang ada di ZZZ.
2.      Untuk mengetahui karakteristik pasien diare berdasarkan faktor penyebab yang ada di ZZZ.
3.      Untuk mengetahui karakteristik pasien diare berdasarkan lama perawatan yang ada di ZZZ.
4.      Untuk mengetahui karakteristik pasien diare berdasarkan derajat dehidrasi yang ada di ZZZ.

1.5           Manfaat Penelitian

1.5.1        Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
1.5.2        Bagi Petugas Kesehatan
Untuk menambah wawasan bagi petugas kesehatan, khususnya bidan sebagai penolong persalinan dalam meningkatkan penatalaksanaan terhadap penderita diare.
1.5.3        Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan awal dalam melakukan penelitian selanjutnya dalam mengetahui sikap petugas dengan penatalaksanaan diare, sehingga pengetahuan dan wawasan dalam bidang penelitian serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama studi.

1.6           Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini adalah deskriptif yang dilakukan terhadap pasien diare yang ada di ZZZ.  Adapun yang diteliti adalah karakteristik pasien diare.  Penelitian ini dilaksanakan di ZZZ dan pelaksanaan penelitian yaitu pada bulan Mei sampai dengan Juni 2008. 

Minggu, 11 September 2011

Gambaran Penatalaksanaan Pre dan Post SC Oleh Tenaga Kesehatan

BAB  I
PENDAHULUAN


1.1            Latar Belakang
Make Every Mother And Child Count sebagai satu slogan dari Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO) dalam menyambut hari kesehatan se-dunia tanggal 7 April 2005. Slogan ini menunjukkan betapa sudah mendesaknya penanganan masalah kesehatan ibu dan anak di banyak negara di dunia. Meskipun kehamilan dan persalinan sebagai salah satu penyebab utama kematian perempuan usia reproduktif, sebagian besar negara berkembang belum menganggap masalah kesehatan ibu hamil dan bersalin sebagai masalah prioritas. Mulai tahun ini, Badan Kesehatan Dunia mengajak semua negara memberikan prioritas terhadap penanganan masalah kesehatan ibu dan anak (Universitas Indonesia, 2005).
ryan75800's Profile on Ping.sg