Rabu, 09 November 2011

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA GIZI KURANG PADA BALITA

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi disamping merupakan sindroma kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga juga menyangkut aspek pengetahuan dan perilaku yang kurang mendukung pola hidup sehat. Keadaan gizi masyarakat akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan umur harapan hidup yang merupakan salah satu unsur utama dalam penentuan keberhasilan pembangunan negara yang dikenal dengan istilah Human Development Index (HDI).


Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah gizi utama yaitu kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Kurang gizi makro pada dasarnya merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kekurangan asupan energi dan protein. Masalah gizi makro adalah masalah gizi yang utamanya disebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan energi dan protein. Kekurangan zat gizi makro umumnya disertai dengan kekurangan zat gizi mikro. Data Univercal Children Foundation (UNICEF) pada tahun 2005 terdapat 1,8 juta balita menderita gizi buruk, dan meningkat tajam di tahun 2006 yaitu 2,3 juta balita.

Hasil pemantauan Status Gizi (PGS) tahun 2005 di Propinsi Lampung sedikitnya 6 dari 10 balita menderita kurang gizi. Dari sekitar 200.000 balita pada tahun 2004, sebanyak 69,7 % di antaranya menderita kurang gizi, akibat kekurangan asupan zat gizi ke dalam tubuh.

Menurut Budianto (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita adalah program pemberian makanan tambahan, tingkat pendapatan keluarga, pemeliharaan kesehatan, pola asuh keluarga dan kesehatan lingkungan.

Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) telah merumuskan faktor-faktor yang menyebabkan gizi kurang yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung. Penyebab langsung berupa asupan makanan yang kurang dan penyakit infeksi. Penyebab tidak langsung terdiri dari: Persediaan makanan dirumah/ketahanan pangan keluarga, Perawatan anak/pola asuh anak, Pelayanan kesehatan.
 
Di Kabupaten Tanggamus sendiri dari hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan setiap tahun prevalensi gizi kurang ringan meningkat terus yaitu dari 1,10% (2001), 1,56% (2002), 1,51% (2003), dan 2,18% (2004). Sedangkan prevalensi gizi kurang ringan 12,66% (2001), 16,32% (2002), 14,28% (2003) dan 14,33% (2004).

Untuk Puskesmas Adiluwih prevalen gizi kurang ringan (BGT) mengalami penurunan yaitu 22,8% (2005), 13,9% (2006) dan 12,2% (2007). Sedangkan prevalensi gizi kurang sedang (BGM) mengalami peningkatan yaitu 3,55% (2005), 4,1% (2006) dan 4,2% (2007).

Kurang gizi menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental, mengurangi tingkat kecerdasan, kreatifitas dan produktifitas penduduk. Timbulnya krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan penurunan kegiatan produksi yang drastis akibatnya lapangan kerja berkurang dan pendapatan perkapita turun. Hal ini jelas berdampak terhadap status gizi dan kesehatan masyarakat karena tidak terpenuhinya kecukupan konsumsi makanan dan timbulnya berbagai penyakit menular akibat lingkungan hidup yang tidak sehat.

Mulai tahun 1998 upaya penanggulangan balita gizi buruk mulai ditingkatkan dengan penjaringan kasus, rujukan dan perawatan gratis di Puskesmas maupun Rumah Sakit, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) serta upaya-upaya lain yang bersifat rescue. Bantuan pangan (Beras Gakin dan lain-lain) juga diberikan kepada keluarga miskin oleh sektor lain untuk menghindarkan masyarakat dari ancaman kelaparan. Namun semua upaya tersebut nampaknya belum juga dapat mengatasi masalah dan meningkatkan kembali status gizi masyarakat, khususnya pada balita. Balita gizi buruk dan gizi kurang yang mendapat bantuan dapat disembuhkan, tetapi kasus-kasus baru muncul yang terkadang malah lebih banyak sehingga terkesan penanggulangan yang dilakukan tidak banyak artinya, sebab angka balita gizi buruk belum dapat ditekan secara bermakna.

Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Gizi Kurang pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ”.

1.2  Identifikasi Masalah
1.2.1        Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah gizi utama yaitu kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Kurang gizi makro pada dasarnya merupakan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kekurangan asupan energi dan protein. Data Unicef pada tahun 2005 terdapat 1,8 juta balita menderita gizi buruk, dan meningkat tajam di tahun 2006 yaitu 2,3 juta balita.
1.2.2        Di Kabupaten Tanggamus sendiri dari hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan setiap tahun prevalensi gizi kurang sedang meningkat terus yaitu dari 1,10% (2001), 1,56% (2002), 1,51% (2003), dan 2,18% (2004). Sedangkan prevalensi gizi kurang ringan 12,66% (2001), 16,32% (2002), 14,28% (2003) dan 14,33% (2004).
1.2.3        Di Puskesmas Adiluwih prevalensi gizi kurang ringan (BGT) mengalami penurunan yaitu 22,8% (2005), 13,9% (2006) dan 12,2% (2007). Sedangkan prevalensi gizi kurang sedang (BGM) mengalami peningkatan yaitu 3,55% (2005), 4,1% (2006) dan 4,2% (2007).

1.3  Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah yaitu: Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya gizi kurang pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ?

1.4  Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi kurang pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
1.4.2        Tujuan Khusus
1.      Mengetahui Asupan  makanan anak terhadap terjadinya gizi kurang pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
2.      Mengetahui pengaruh penyakit infeksi pada anak terhadap terjadinya gizi kurang pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
3.      Mengetahui pengaruh ketahanan pangan keluarga terhadap terjadinya gizi kurang pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
4.      Mengetahui pengaruh pola pengasuhan anak yang diterima terhadap terjadinya gizi kurang pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.
5.      Mengetahui pengaruh pelayanan kesehatan terhadap terjadinya gizi kurang pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ.

1.5  Manfaat Penelitian

  1. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan sebagai pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
2        Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan sumbangan dalam bidang ilmu pengetahuan di bidang kesehatan khususnya dalam konteks keperawatan komunitas.
3        Bagi Objek Penelitian
Menambah bahan informasi tentang faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya gizi kurang pada balita.
4        Bagi Peneliti                                                     
Hasil penelitian ini sangat bermanfaat bagi penulis dalam menambah wawasan, menerapkan dan mengembangkan ilmu yang didapat dari bangku kuliah ke dalam situasi yang nyata yaitu masyarakat.

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

2 comments:

disave mengatakan...

Nice Info Mas Bro..

ditunggu kunjungan dan komentar baliknya ke blog saya.THKS

katils mengatakan...

hehe...kea gw neh kurang gizi

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg