Rabu, 09 November 2011

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB. PARU

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Visi Pembangunan Kesehatan Nasional dalam Indonesia Sehat 2010 merupakan gambaran masyarakat Indonesia pada masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan sehat dan perilaku sehat yang diharapkan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.  Perilaku sehat adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.  Salah satu perilaku sehat yang harus diciptakan untuk menuju Indonesia Sehat 2010 adalah perilaku pencegahan dan penanggulangan (Tuberculosis Paru) TB paru (Depkes RI, 2000).


World Health Organization (WHO) pada tahun 2003 memperkirakan setiap tahun terjadi 583.000 kasus baru TB paru dengan kematian sekitar 140.000 orang.  Secara kasar diperkirakan dalam setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 orang penderita baru TB Paru BTA positif dan penyakit TB Paru ini menyerang sebagian kelompok usia yang merupakan sumber daya manusia yang penting dalam pembangunan bangsa (Depkes RI, 2004).

Hasil penelitian Sudira (2005), menunjukan bahwa TB paru adalah sebagai penyebab kematian ketiga terbesar sesudah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan serta menduduki urutan pertama pada kelompok penyakit infeksi.
Program pemberantasan penyakit TB paru bertujuan untuk menurunkan insiden dan prevalensi penyakit/penderita TB paru dengan jalan memutuskan rantai penularan.  Tujuan tersebut dapat dicapai dengan penerapan teknologi kesehatan secara tepat oleh petugas-petugas kesehatan yang didukung peran serta aktif masyarakat.  Peran serta masyarakat dapat dicapai apabila masyarakat memahami tindakan pencegahan yang perlu mereka lakukan di dalam penanggulangan TB paru. Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penyakit TB paru perlu dilakukan upaya penyuluhan.

Selain dalam bentuk penyuluhan pemerintah pusat dalam hal ini telah berupaya keras memenuhi sarana dan prasarana seperti sarana diagnosis, sarana pengobatan dan pengawasan serta pengendalian pengobatan dalam penanggulangan TB paru.  Sejak tahun 1995/1996 setelah dilakukan evaluasi bersama WHO, Indonesia mulai melaksanakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short) melalui pola operasional baru dengan pembentukan Kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) dan Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM), meskipun demikian cakupan pengobatan masih rendah salah satu alasan masih rendahnya cakupan pengobatan TB adalah ketidak teraturan pada saat minum obat (Depkes RI, 2000).

Menurut beberapa ahli Ellis et all (2000) ketidakteraturan waktu minum obat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pendidikan, pekerjaan, usia, motivasi dan komunikasi atau informasi. 

Tambayong (2002) menyimpulkan bahwa faktor ketidakpatuhan terhadap pengobatan diantaranya adalah kurang pahamnya tujuan pengobatan dan tidak mengertinya pasien tentang pentingnya mengikuti aturan pengobatan yang ditetapkan sehubungan dengan prognosisnya.
Fenomena yang ada di Propinsi Lampung, didapatkan angka kekambuhan penderita TB masih cukup tinggi.  Hal ini dapat dilihat bahwa dari 100.000 penduduk, 161 orang diantaranya diperkirakan menderita TB paru (Kompas, 2005) dengan angka kekambuhan 34,24%. Di Kotamadya Metro sendiri pada tahun 2003 – 2006 ditemukan jumlah penderita TB paru sebanyak 161 orang, angka kekambuhan mencapai 11,73% (Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2006).  

Dari hasil pra survey yang peneliti lakukan pada minggu pertama bulan Juli 2007 di Puskesmas ZZZ Kotamadya Metro, pada tahun 2003 jumlah penderita TB paru sebanyak 37 orang, 11 diantaranya (29,72%) merupakan pasien ulang, tahun 2004 jumlah penderita TB paru sebanyak 23 orang, 3 diantaranya (13,04%) merupakan pasien ulang, tahun 2005 didapatkan 25 orang penderita TB paru, 2 diantaranya (8%) merupakan pasien ulang, tahun 2006 jumlah penderita TB paru sebanyak 18 orang yang sebagian besar disebabkan oleh rokok dan polusi udara, kemudian pada tahun 2007 yaitu antara bulan Januari hingga Juni didapatkan jumlah penderita TB paru sebanyak 25 orang, dimana 10 orang diantaranya (40%) merupakan penderita lanjutan dari tahun 2006.  Adapun data pasien TB paru di Puskesmas ZZZ pada tahun 2004 – 2007 dapat lebih jelas dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1.1
Jumlah Cakupan Penderita TB Paru di Puskesmas ZZZ
Kecamatan ZZZ tahun 2004-2007

No.
Tahun
Jumlah Penderita
Pasien Kunjungan Ulang
Persentase (%)
1.
2004
23
3
13,04
2.
2005
25
2
8
3.
2006
18
-
-
4.
2007 (Januari – Juni)
25
10
40
Sumber: Data POA Puskesmas ZZZ, 2007.

Melihat masih tingginya angka kekambuhan pada klien TB dan beberapa kendala yang terkait dengan pengobatan klien TB tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti tentang “Faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan minum obat pada pasien TB. Paru di Puskesmas ZZZ Kotamadya Metro Tahun 2007”.

1.2   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, dapat diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut:
1.2.1        Sebagian besar masyarakat masih belum memahami atau mengetahui tentang berbagai macam aturan waktu minum obat yang benar.
1.2.2        Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakteraturan seseorang dalam mengkonsumsi obat seperti; pendidikan, pekerjan, usia, motivasi dan komunikasi dan atau informasi.
1.2.3        Ditemukan jumlah penderita TB paru di Kotamadya Metro sebanyak 161 orang pada tahun 2003 – 2006 yang sebagian besar disebabkan oleh rokok dan polusi udara.
1.2.4        Didapatkan 25 orang penderita TB paru yang mengalami kendala dalam mengikuti pengobatan yang diberikan oleh petugas kesehatan di Puskesmas ZZZ.

1.3   Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi di atas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian ini tentang “Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan minum obat pada pasien TB. Paru di Puskesmas ZZZ”.
1.4   Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan umum
Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan minum obat pada pasien TB. Paru di Puskesmas ZZZ.
1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Untuk mengetahui hubungan usia dengan ketidakpatuhan minum obat pada pasien di Puskesmas ZZZ
1.4.2.2  Untuk mengetahui hubungan pendidikan dengan ketidakpatuhan minum obat pada pasien di Puskesmas ZZZ
1.4.2.3  Untuk mengetahui hubungan pekerjaan dengan ketidakpatuhan minum obat pada pasien di Puskesmas ZZZ
1.4.2.4  Untuk mengetahui hubungan informasi dengan ketidakpatuhan minum obat pada pasien di Puskesmas ZZZ
1.4.2.5  Untuk mengetahui hubungan motivasi dengan ketidakpatuhan minum obat pada pasien di Puskesmas ZZZ

1.5  Manfaat Penelitian

1.5.1        Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini agar dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi Puskesmas ZZZ untuk mengoptimalkan pelayanan yang diberikan khususnya dalam peningkatan pengetahuan aturan waktu minum obat pada masyarakat di sekitar wilayah kerja puskesmas ZZZ.

1.5.2        Bagi Program Studi Keperawatan
Dapat memberikan masukan bagi institusi Fakultas Kedokteran Universitas ZZZ khususnya Program Studi Ilmu Keperawatan sebagai data awal melakukan penelitian selanjutnya.

1.5.3        Bagi Peneliti
Dapat menambah pengetahuan peneliti tentang aturan waktu minum obat  yang tepat dan menyelesaikan salah satu tugas akhir pendidikan berupa penelitian riset keperawatan.

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg