Rabu, 07 September 2011

Hubungan Usia Ibu dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
BBLR adalah bayi yang pada waktu lahir beratnya kurang dari 2.500 gram Bayi berat lahir rendah diketahui dengan menimbang bayi setelah bayi lahir. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan penyumbang utama kematian neonatal (Sari Pediatri, Vol. 2 No 1, Juni 2000:29-35). Di negara-negara berkembang seperti Indonesia morbiditas dan mortalitas BBLR masih tinggi. Masalah BBLR merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian khusus, karena BBLR dapat menyebabkan gangguan perkembangan fisik, pertumbuhan terhambat dan gangguan perkembangan mental pada masa mendatang (Depkes RI, 2001).

Selain itu masalah yang sering terjadi pada BBLR adalah sindrom gangguan pernafasan idiopatik, pneumonia aspirasi, hiperbilirubinemia, hipotermia dan pneumonia aspirasi (JNPKKR-POGI, 2005). Alat tubuh bayi BBLR (prematur) belum berfungsi seperti pada bayi matur, oleh sebab itu ia mengalami kesulitan untuk hidup diluar uterus ibunya. Makin pendek masa kehamilannya makin kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya, dengan akibat makin mudahnya terjadi komplikasi dan makin tingginya angka kematiannya. Dalam hubungan ini sebagian besar kematian perinatal terjadi pada bayi-bayi prematur (Sarwono, 1992).
Prognosis akan lebih buruk lagi bila berat badan makin rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan karena adanya komplikasi yang menyertai seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intrakranial dan hipoglikemia.
Bila bayi hidup kadang-kadang terdapat kerusakan pada syaraf dan akan terjadi gangguan bicara dan IQ yang rendah (Mochtar Rustam, 1998)
Di propinsi Lampung pada tahun 2006 terdapat 158.354 jumlah kelahiran dan dari jumlah tersebut terdapat 571 bayi lahir mati karena BBLR (Dinkes Propinsi Lampung, 2006).
Di Kota Bandar Lampung dari 19.578 jumlah kelahiran terdapat 35 bayi lahir mati karena BBLR. Dan di ruang bersalin RSUD Menggala pada tahun 2007 dari 421 jumlah kelahiran terdapat 97 bayi lahir dengan BBLR dan 5 diantaranya, meninggal dunia (Unit Medical Record RSUD Menggala, 2007).
Angka kejadian. BBLR di Indonesia masih relatif tinggi yaitu sekitar 14%. Di RS Dr. Cipto Mangunkusumo pada tahun 1996 terdapat 13,8% angka kejadian BBLR (Sari Pediatri, 2000). Di pusat rujukan RS Hasan Sadikin Bandung tercatat angka kejadian 21,7% (1994) dan pada tahun 1998 dilaporkan 20,23% kejadian (FKUP/RSHS-Bandung, 2000). Di pusat rujukan RSUD Dr. Hi. Abdoel Moeloek pada tahun 2005 terdapat 37 kejadian (0,7%) angka kejadian BBLR dari 530 persalinan dan 571 kejadian dari 158.345 persalinan pada tahun 2006. Di ruang bersalin RSUD Menggala pada tahun 2007 terdapat 97 bayi lahir dengan BBLR dari 421 jumlah kelahiran.
Banyak hal yang berkaitan dengan kejadian bayi lahir dengan BBLR antara lain karena faktor usia, paritas, status gizi ibu hamil sosial ekonomi dan faktor pendukung lain seperti faktor kehamilan dan faktor janin.
Berdasarkan uraian diatas penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan usia ibu dengan kejadian BBLR di ZZZ, tahun 2007.
1.2    Identifikasi Masalah
            Dari latar belakang tersebut di atas, maka penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1.2.1        Di Kabupaten Tulang Bawang pada tahun 2007 terdapat 37 (0,7%) dari 530 kejadian  bayi lahir dengan BBLR dari seluruh jumlah kelahiran hidup.
1.2.2        Di ruang bersalin RSUD Menggala pada tahun 2007 dari 421 jumlah kelahiran terdapat 97 bayi lahir dengan BBLR dan 5 diantaranya meninggal dunia dengan rata-rata usia ibu saat melahirkan mempunyai resiko tinggi.

1.3    Masalah dan Permasalahan

1.3.1        Masalah Penelitian
Dari uraian identifikasi masalah diatas dapat disimpulkan suatu masalah tingginya angka kelahiran BBLR, yaitu 97 (23%) dari 421 kelahiran di ZZZ tahun 2007 dan belum diketahui apakah ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian BBLR di ZZZ kabupaten Tulang Bawang.

1.3.2        Permasalahan
1.3.3        Berapa usia ibu yang melahirkan bayi di ZZZ?
1.3.4        Berapa kejadian bayi yang lahir dengan BBLR di ZZZ?
1.3.5        Apakah terdapat hubungan antara usia ibu dengan kejadian BBLR di ZZZ?

1.4    Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian BBLR di ZZZ tahun 2007.

1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Untuk mengetahui usia ibu yang melahirkan bayi di ZZZ.
1.4.2.2  Untuk mengetahui kejadian bayi yang lahir dengan BBLR di ZZZ.
1.4.2.3  Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian BBLR di ZZZ tahun 2007.

1.5    Manfaat Penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1        Peneliti
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang adanya hubungan antara usia ibu dengan kejadian BBLR di ZZZ

1.5.2        Bagi Instansi Tempat Penelitian
Setelah dilakukan penelitian ini diharapkan hasil penelitian dapat dijadikan masukan untuk mengetahui adanya hubungan usia ibu dengan kejadian BBLR sehingga dapat meningkatkan pelayanan dalam menangani kasus-kasus ibu hamil yang melahirkan BBLR dan untuk menekan seminimal mungkin angka kematian bayi yang disebabkan oleh kelahiran dengan BBLR.

1.5.3        Bagi Instansi Pendidikan
Diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi mahasiswa dan instansi pendidikan.

1.5.4        Bagi tenaga kesehatan lain
Sebagai masukan dalam rangka meningkatkan deteksi dini kelahiran BBLR sehingga dapat melakukan rujukan medis secara cepat dan tepat.

1.5.5        Bagi peneliti lain
Diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dan acuan dalam melakukan penelitian terkait.

1.6    Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah deskriptif analitik yang dilakukan terhadap ibu yang melahirkan dan bayinya di ZZZ. Adapun yang akan diteliti adalah usia ibu dan kejadian BBLR. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2008. 
Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg