Jumat, 02 September 2011

Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dampak Pernikahan Dini Pada Kesehatan Reproduksi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Perkawinan merupakan peristiwa yang sakral dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yang masih tetap menjunjung tinggi nilai adat dan agama yang beraneka ragam.  Situasi demikian makin dipertegas lagi dengan diberlakukannya undang-undang perkawinan.  Melalui perkawinan diharapkan dapat membangun keluarga yang aman, damai, sejahtera, dan bahagia, sehingga pertumbuhan dan perkembangan generasi penerus dengan kualitas sumberdaya manusia yang andal, untuk mampu berkompetisi diantara bangsa di Indonesia (Manuaba, 1998).
Remaja sebagai salah satu proses kedewasaan merupakan awal dalam mengenal dan mengerti bahkan tidak jarang menyelami proses kedewasaan itu sendiri, akhirnya tidak sedikit saat ini remaja wanita khususnya menjalani perkawinan hanya karena tuntutan orangtua atau bahkan akibat pergaulan yang terlampau bebas yang mengakibatkan remaja wanita harus hamil pada masa sebelum saatnya ia mengerti tentang arti dari perkawinan (Handari, 2002).
Perkawinan atau pernikahan dini lebih dikenal dengan istilah “kawin muda” dimana pernikahan dini tersebut umumnya terjadi pada usia antara 15 – 20 tahun.  Satu kasus di India istilah kawin muda atau pernikahan dini hampir tidak pernah dipermasalahkan, meskipun sebagian besar dijodohkan, ini terjadi karena kedua pasangan meskipun tidak saling mengenal, namun  justru mereka saling mengerti dan memahami tugas masing-masing.  Berbeda dengan daerah lain di dunia lainnya dimana sebagian besar keputusan diambil oleh pasangan yang akan menikah (Pradasetyo, 2004).
Pernikahan yang umumnya dilandasi rasa cinta dapat berdampak baik, bila dilakukan oleh remaja. Pernikahan dini atau menikah dalam usia muda, menurut Edi Nur Hasmi, psikolog yang juga Direktur Remaja dan Kesehatan Reproduksi BKKBN, memiliki dua dampak cukup berat. "Dari segi fisik, remaja itu belum kuat, tulang panggulnya masih terlalu kecil sehingga bisa membahayakan proses persalinan. Oleh karena itu pemerintah mendorong masa hamil sebaiknya dilakukan pada usia 20 - 30 tahun. Dari segi mental pun, emosi remaja belum stabil (BKKBN, 2002).
Kestabilan emosi umumnya terjadi pada usia 24 tahun, karena pada saat itulah orang mulai memasuki usia dewasa. Masa remaja, boleh di bilang baru berhenti pada usia 19 tahun. Dan pada usia 20 - 24 tahun dalam psikologi, dikatakan sebagai usia dewasa muda atau lead edolesen. Pada masa ini, biasanya mulai timbul transisi dari gejolak remaja ke masa dewasa yang lebih stabil. Maka, jika pernikahan dilakukan di bawah 20 tahun secara emosi si remaja masih ingin bertualang menemukan jati dirinya. Dalam pernikahan dini sulit membedakan apakah remaja laki-laki atau remaja perempuan yang biasanya mudah mengendalikan emosi. Situasi emosi mereka jelas labil, sulit kembali pada situasi normal terlebih setelah hamil dan menjadi ibu dari anak yang dikandungnya.
Hasil survey tentang pernikahan dini di beberapa negara menunjukkan bahwa pernikahan dini menjadi kecenderungan di berbagai negara berkembang, setidaknya dari perempuan muda di negara Afrika sub Sahara mulai hidup bersama pertama kali sebelum usia 18 tahun, sementara di kawasan Asia sebanyak 37% wanita di Banglades memiliki kehidupan bersama sebelum usia 18 tahun.  Sementara di Indonesia pernikahan dini 15-20% dilakukan oleh pasangan baru, sedangkan di Propinsi Lampung jumlah pernikahan yang dilakukan saat usia muda mencapai 20-22%.  Secara nasional pernikahan dini usia pengantin di bawah usia 16 tahun sebanyak 26,9% (Depkes RI, 2005).
Dari hasil pre survey yang peneliti lakukan di ZZZ pada minggu kedua dan ketiga bulan Oktober 2007 didapatkan data dari Kantor Urusan Agama (KUA) yang ada di ZZZ bahwa pada tahun 2006 terdapat 20 perkawinan, dari jumlah tersebut 7 diantaranya (35%) adalah pernikahan dini.  Kemudian perolehan data periode Januari – September 2007 didapatkan sebanyak 18 perkawinan dan 7 diantaranya (38,8%) merupakan pernikahan dini, selain itu diketahui pula bahwa rata-rata pernikahan dilakukan pada usia 16 tahun.  Hal lain yang mengejutkan peneliti bahwa ditemukan ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun sebanyak 12 orang, dimana 3 diantaranya (25%) mengalami masalah kehamilan dan persalinan seperti hipertensi, kelahiran prematur dan persalinan dengan vakum.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dampak Pernikahan Dini Pada Kesehatan Reproduksi Di ZZZ tahun 2008”.


1.2   Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1.2.1        Dari 20 perkawinan yang ada di ZZZ pada tahun 2006, 7 diantaranya (35%) adalah pernikahan dini dan pada tahun 2007 (Januari – September) didapatkan 7 pernikahan dini dari 18 perkawinan (38,8%).
1.2.2        Dari 12 orang ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun, 3 diantaranya (25%) mengalami masalah kehamilan dan persalinan seperti hipertensi, kelahiran prematur dan persalinan dengan vakum

1.3   Masalah dan Permasalahan

1.3.1        Masalah
Masalah dalam penelitian ini yaitu masih tinggi pernikahan dini di ZZZ.

1.3.2        Permasalahan
1.3.2.1  Bagaimanakah pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini terhadap kehamilan?
1.3.2.2  Bagaimanakah pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini terhadap persalinan?
1.3.2.3  Bagaimanakah pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini terhadap bayi yang dilahirkan?
1.3.2.4  Bagaimanakah pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini terhadap organ reproduksi?

1.4  Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Ingin mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini pada kesehatan reproduksi di ZZZ tahun 2008.

1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Untuk mengidentifikasi pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini terhadap kehamilan.
1.4.2.2  Untuk mengidentifikasi pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini terhadap persalinan.
1.4.2.3  Untuk mengidentifikasi pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini terhadap bayi yang dilahirkan.
1.4.2.4  Untuk mengidentifikasi pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini terhadap organ reproduksi.

1.5  Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1        Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan ilmu pengetahuan tentang kesehatan reproduksi khususnya mengenai pernikahan dini.
1.5.2        Remaja Putri
Dapat mengetahui dampak apa saja yang timbul akibat pernikahan dini, khususnya untuk kesehatan reproduksi, agar remaja putri sedapat mungkin menghindari pernikahan yang terjadi di usia dini.
1.5.3        Masyarakat
Sebagai masukan bagi masyarakat khusunya orangtua yang memiliki remaja putri, agar dapat memberikan informasi mengenai dampak yang dapat terjadi pada pernikahan dini.
1.5.3.1  Institusi Pendidikan
Dapat menjadi bahan masukan berupa referensi dalam melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi remaja.

1.6    Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini adalah deskriptif yang dilakukan terhadap remaja putri yang ada di ZZZ.  Adapun yang diteliti adalah pengetahuan remaja putri tentang dampak pernikahan dini terhadap kesehatan reproduksi yang mencakup terhadap kesehatan reproduks, terhadap kehamilan, terhadap persalinan, terhadap bayi yang dilahirkan, organ reproduksi.  Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2008.
 
Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

2 comments:

Hanifatun N mengatakan...

.ijin copy.. untuk bahan tugas.. syukron..

Mike Deyn mengatakan...

untuk tahun di atas 2007 ada gak yang sama judulnya seperti ini?

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg