Jumat, 16 September 2011

Gambaran Pengetahuan Ibu Terhadap Keputihan dan Penanganannya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Wanita sehat merupakan wanita yang sehat seutuhnya baik tubuh, jiwa dan perilakunya dalam lingkungan dan masyarakat yang sehat.  Sehat tidak saja terbebas dari sakit tetapi dalam lingkungan sehat seutuhnya seperti jasmani, rohani dan sosial (Astuti, 2006).  Untuk itu perhatian terhadap wanita diperlukan, hal ini sesuai dengan hasil Konferensi Dunia tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development/ICPD) yang diselenggarakan tahun 1994 di Cairo, Mesir, mengharapkan di akhir tahun 2015 nanti, 90 persen dari seluruh jumlah remaja dan wanita sudah mendapatkan informasi tentang status kesehatan reproduksi dan seksual serta hak-haknya.

Pendidikan kesehatan reproduksi bagi wanita sangat penting untuk dipahami, hal tersebut dapat dilihat dari berbagai penelitian yang telah dilakukan tentang kesehatan reproduksi pada wanita di berbagai negara maju dan berkembang seperti China, Thailand dan Malayasia serta Indonesia.  Di Indonesia masih banyak kaum wanita yang belum mengerti tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi baik sejak pada remaja hingga dewasa dan melahirkan. Ini dilihat dari usaha pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi ini masih belum mencapai tujuan yang diinginkan. Salah satunya yaitu masih ditemukannya penyakit keputihan.
Keputihan merupakan masalah yang tidak pernah terselesaikan. Walaupun bukan termasuk penyakit yang berat atau berbahaya, tetapi sangat mengganggu kepercayaan diri tidak hanya pada remaja, namun juga terhadap wanita usia subur (WUS) pada khususnya.
Handari (2002) memaparkan bahwa kejadian keputihan yang dialami oleh sebagian wanita yang ada di kota cenderung dapat lebih diperhatikan baik perawatan maupun penanganannya dengan persentase sebesar 74,24%, dibandingkan wanita yang ada di daerah pedesaan (49,56%).  
Wanita yang mengalami keputihan serta mengeluh gatal-gatal pada vagina dan cairannya bau, dapat disebabkan karena kombinasi jamur dan bakteri dan higenis sanitasi kurang. Dan bisa juga karena ulah mereka sendiri.
Menurut Winarno, SB (2005) kelembaban di daerah vagina merupakan faktor penting yang memungkinkan suburnya pertumbuhan jamur seperti keputihan yang disebabkan faktor non fisiologis.  Khususnya bagi wanita di Indonesia karena kelembaban udaranya mencapai 75% - 90%.  
Hasil penelitian Vinky (2007) menyebutkan bahwa pengetahuan remaja putri tentang keputihan sebagian besar cukup (54%), dimana pengetahuan yang diperoleh berasal dari informasi-informasi yang beredar di majalah-majalah, televisi dan sumber lainnya. 
Jika seorang wanita mengalami keputihan secara terus menerus dapat berpengaruh terhadap leher rahim, sehingga akan terjadi erosi (sariawan) pada leher rahim. Akibat erosi akan merubah bentuk epithil leher rahim. Perubahan epithil tingkat tinggi (displasia).  Displasia, terbagi tiga, ringan, sedang dan berat. Jika masih pada tingkat ringan dan sedang bisa diobati melalui terapi. Bila sudah ditingkat berat, rahim harus terapi serius, jika tidak beberapa tahun kemudian akan terjadi kanker leher rahim.
Dari hasil pre survey awal yang peneliti lakukan pada minggu ketiga dan keempat bulan Desember 2007 di Desa Gunung Menanti Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang didapatkan wanita-wanita yang ada sebagian besar berpendidikan rendah dengan kesibukan bekerja yang sangat menyita waktu, sehingga kurang memperhatikan kesehatan terutama kebersihan diri.  Fenomana lain yang tampak pada saat peneliti melakukan pre survey adalah ditemukan sebanyak 25 orang ibu-ibu yang mengeluhkan tentang keputihan dari jumlah tersebut 13 orang diantaranya (52%) mengatakan pernah mengalami keputihan dan kebanyakan mereka menganggapnya sebagai hal yang biasa dan tidak memerlukan penanganan/ pengobatan khusus dan sisanya 12 orang (48%) mengatakan tidak mengetahui tentang keputihan yang terjadi pada dirinya.  Selain itu diketahui pula bahwa sebagian besar wanita yang mengalami keputihan disebabkan karena rendahnya pengetahuan terhadap perawatan didaerah vagina, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor penyebab salah satunya merupakan perilaku dalam menjaga kesehatan perorangan (personal hygiene) yang masih kurang diperhatikan (Indarti Junita, 2004). 
Hal lain yang ditemukan peneliti pada saat peneliti melakukan pre survey terhadap ibu-ibu yang ada di Desa ZZZ bahwa masih belum diketahuinya pengetahuan mereka tentang pengetahuan tentang keputihan.  Hal tersebut didasarkan atas wawancara peneliti terhadap 12 orang ibu.  Kemudian diketahui pula bahwa 90% wanita hamil mengalami keputihan (Mansjoer, 2000).
Berdasarkan latar belakang dan fenomena di atas, maka peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang “Gambaran pengetahuan ibu terhadap keputihan dan penanganannya di Desa ZZZ”.
1.2  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1.2.1        Diketahui bahwa lebih dari 90% wanita hamil yang mengalami keputihan
1.2.2        Diketahui sebanyak 25 orang ibu-ibu yang mengeluhkan tentang keputihan dari jumlah tersebut 13 orang diantaranya (52%) mengatakan pernah mengalami keputihan dan kebanyakan mereka menganggapnya hal yang biasa dan tidak memerlukan penanganan/pengobatan khusus
1.2.3        Didapatkan dari 25 orang ibu-ibu yang ada di desa Gunung Menanti 12 orang diantaranya (48%) mengatakan tidak mengetahui tentang keputihan yang terjadi pada dirinya. 

1.3   Masalah dan Permasalahan

1.3.1        Masalah
Masalah dalam penelitian ini yaitu banyaknya masalah keputihan yang ditemukan di Desa ZZZ.

1.3.2        Permasalahan
1.3.2.1  Bagaimanakah pengetahuan ibu-ibu tentang keputihan berdasarkan pengertian di Desa ZZZ?
1.3.2.2  Bagaimanakah pengetahuan ibu-ibu tentang keputihan berdasarkan penyebab di Desa ZZZ?
1.3.2.3  Bagaimanakah pengetahuan ibu-ibu tentang keputihan berdasarkan jenis keputihan di Desa ZZZ?
1.3.2.4  Bagaimanakah pengetahuan ibu-ibu tentang keputihan berdasarkan efek samping keputihan di Desa ZZZ?
1.3.2.5  Bagaimanakah pengetahuan ibu-ibu tentang keputihan berdasarkan pencegahan keputihan di Desa ZZZ?
1.3.2.6  Bagaimanakah pengetahuan ibu-ibu tentang keputihan berdasarkan penanganan keputihan di Desa ZZZ?

1.4  Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Mengetahui gambaran pengetahuan tentang keputihan pada ibu-ibu di Desa ZZZ.

1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Untuk mengidentifikasi pengetahuan tentang keputihan pada ibu-ibu di Desa ZZZ berdasarkan pengertian.
1.4.2.2  Untuk mengidentifikasi pengetahuan tentang keputihan pada ibu-ibu di Desa ZZZ berdasarkan penyebab.
1.4.2.3  Untuk mengidentifikasi pengetahuan tentang keputihan pada ibu-ibu di Desa ZZZ berdasarkan jenis keputihan.
1.4.2.4  Untuk mengidentifikasi pengetahuan tentang keputihan pada ibu-ibu di Desa ZZZ berdasarkan efek samping keputihan.
1.4.2.5  Untuk mengidentifikasi pengetahuan tentang keputihan pada ibu-ibu di Desa ZZZ berdasarkan pencegahan keputihan.
1.4.2.6  Untuk mengidentifikasi pengetahuan tentang keputihan pada ibu-ibu keputihan di Desa ZZZ berdasarkan penanganan.

1.5  Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1        Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan ilmu pengetahuan tentang kesehatan reproduksi khususnya mengenai keputihan.

1.5.2        Ibu-ibu di Desa ZZZ
Menambah pengetahuan khususnya tentang keputihan, sehingga diharapkan dapat lebih mengerti tentang dampak dan akibat yang ditimbulkan dari keputihan.

1.5.3        Institusi Pendidikan
Dapat menjadi bahan masukan berupa referensi dalam melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi.

1.6    Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah deskriptif, adapun yang diteliti adalah pengetahuan ibu terhadap keputihan dan penanganannya, objek dan tempat yang akan diteliti adalah ibu-ibu yang ada di Desa ZZZ.  Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan April 2008.

Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg