Jumat, 05 Agustus 2011

Hubungan Antara Paritas dengan Kejadian Retensio Plasenta

BAB I
PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) dan angka kematian perinatal (AKP) yang masih tinggi telah lama mengundang perhatian pemerintah. Menurut hasil berbagai survei, AKI di Indonesia saat ini berkisar antara 300 dan 400 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKI di negara maju hanya sekitar 10 per 100.000 kelahiran hidup. AKI yang tinggi di Indonesia menunjukkan masih buruknya tingkat kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Pemerintah sejak kemerdekaan melakukan berbagai kebijakan perbaikan akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir, seperti pelatihan dukun bayi; pengembangan klinik Kesehatan Ibu dan Anak; pembangunan rumah sakit; pengembangan puskesmas, pondok bersalin desa, dan posyandu; pendidikan dan penempatan bidan di desa; dan penggerakan masyarakat untuk penyelamatan ibu hamil dan bersalin, namun demikian hasil berbagai upaya tersebut belum menggembirakan (www.ui.edu, 2005).

AKI di Indonesia bervariasi dari yang paling rendah, yaitu 130 per 100.000 kelahiran hidup di Yogyakarta, 490 per 100.000 kelahiran hidup di Jawa Barat, sampai yang paling tinggi, yaitu 1.340 per 100.000 kelahiran hidup di Nusa Tenggara Barat.  Variasi ini antara lain disebabkan oleh perbedaan norma, nilai, lingkungan, dan kepercayaan masyarakat, di samping infrastruktur yang ada.  Suatu hal yang penting lainnya adalah perbedaan kualitas pelayanan kesehatan pada setiap tingkat pelayanan.  Pelayanan kesehatan primer diprakirakan dapat menurunkan AKI sampai 20%, namun dengan sistim rujukan yang efektif, angka kematian dapat ditekan sampai 80%.  Menurut UNICEF, 80% kematian ibu dan perinatal terjadi di rumah sakit rujukan.  Walaupun kualitas pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan kesehatan maternal dan neonatal dipengaruhi oleh banyak faktor, namun kemampuan tenaga kesehatan (bidan, dokter, dokter spesialis) merupakan salah satu faktor utama (Hanifa, 2002).
Penyebab utama kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan 67% (atonia uteri; 23,88%, sisa plasenta; 19,40%, retensio plasenta; 40,30% dan persalinan dengan laserasi jalan lahir; 16,42%).  Perdarahan terjadi 10 kali lebih sering pada saat persalinan (Assesment Safe Motherhood, 1990).
Insidens perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta dilaporkan berkisar 16%-17% di RSUH. Damanhuri Barabai Kalimantan Selatan, selama 3 tahun (1997-1999) didapatkan 146 kasus rujukan perdarahan pasca persalinan akibat retensio plasenta.  Dari sejumlah kasus tersebut, terdapat satu kasus (0,68%) berakhir dengan kematian ibu (Pribakti, 2001).
Jumlah kematian akibat perdarahan di Propinsi Lampung tahun 2003 yaitu 98 kasus  dari 186.248 ibu bersalin dan meningkat menjadi 145 kasus pada tahun 2004 dan tetap sama pada tahun 2005 sebanyak 145 kasus dari 165.347 kelahiran hidup, jika dibandingkan antar kabupaten/kota, maka Kabupaten Lampung Selatan dengan kasus terbesar yaitu 43 kasus (2965%) dan Kota Metro dengan kasus terkecil yaitu 2 kasus (1,37%) (Dinkes Provinsi Lampung, 2005).
Pada tahun 2005 persalinan dengan retensio plasenta merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya perdarahan di Rumah Sakit Umum Dr. Abdul Moeloek (RSUDAM) Propinsi Lampung, dimana didapatkan sebanyak 57 kasus (24,57%) dari 2129 persalinan dan diketahui pula bahwa 46 kasus (80,70%) dialami oleh multiparitas dan sisanya 11 kasus (19,29%) dialami oleh primi dan grandeparitas.  Pada tahun 2006 kasus perdarahan post partum yang terjadi sebanyak 190 kasus (7,32%) dari 2593 persalinan (Suparti, 2007).
Dari hasil pre survey yang peneliti lakukan pada bulan Januari 2008 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) ZZZ diketahui bahwa angka kejadian retensio plasenta tergolong tinggi, salah satu alasan masih tingginya kasus retensio plasenta karena RSUD ZZZ merupakan rumah sakit rujukan yang ada di Kabupaten Lampung Selatan.  Selain itu data yang diperoleh dari hasil Laporan Rekam Medik RSUD ZZZ tahun 2005 bahwa kasus retensio plasenta sebanyak 11 kasus dimana 10 kasus diantaranya (90,90%) dialami oleh multigravida dan 1 kasus lainnya (9,09%) dialami oleh grandemulti, tahun 2006 terdapat 14  kasus retensio plasenta, dimana 13 kasus diantaranya (92,86%) dialami oleh multigravida dan 1 kasus lainnya (7,14%) dialami oleh primigravida.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena yang ada di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan antara paritas dengan kejadian retensio plasenta di RSUD ZZZ Tahun 2007”.

1.2    Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut:
1.2.1        Jumlah kematian akibat perdarahan di Propinsi Lampung tahun 2005 sebanyak 145 kasus dari 165.347 kelahiran hidup, jika dibandingkan antar kabupaten/kota, maka Kabupaten Lampung Selatan dengan kasus terbesar yaitu 43 kasus (2965%) dan Kota Metro dengan kasus terkecil yaitu 2 kasus (1,37%).
1.2.2        Persalinan dengan retensio plasenta di RSUDAM Propinsi Lampung tahun 2005 sebanyak 57 kasus (24,57%) dari 2129 persalinan dan pada tahun tahun 2006 kasus perdarahan post partum yang terjadi sebanyak 190 kasus (7,32%) dari 2593 persalinan.
1.2.3        Diketahui bahwa pada tahun 2005 bahwa kasus retensio plasenta sebanyak 11 kasus dimana 10 kasus diantaranya (90,90%) dialami oleh multipara dan 1 kasus lainnya (9,09%) dialami oleh grandemulti para, tahun 2006 terdapat 14  kasus retensio plasenta, dimana 13 kasus diantaranya (92,86%) dialami oleh multipara dan 1 kasus lainnya (7,14%) dialami oleh primipara.

1.3    Masalah dan Permasalahan

1.3.1        Masalah
Masalah dalam penelitian ini yaitu masih tingginya kejadian Retensio Plasenta di RSUD ZZZ tahun 2007 dan kejadian retensio plasenta ini bisa terjadi pada primipara, multipara dan grandemultipara.

1.3.2        Permasalahan
1.      Bagaimanakah distribusi frekuensi paritas di RSUD ZZZ tahun 2007?
2.      Bagaimanakah distribusi frekuensi kejadian retensio plasenta di RSUD ZZZ tahun 2007?
3.      Apakah terdapat hubungan antara kejadian retensio plasenta dengan paritas di RSUD ZZZ tahun 2007?

1.4    Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
            Untuk mengetahui hubungan antara paritas dengan kejadian Retensio Plasenta di RSUD ZZZ Tahun 2007.
1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Untuk mengetahui distribusi frekuensi paritas di RSUD ZZZ tahun 2007.
1.4.2.2  Untuk mengetahui distribusi frekuensi kejadian retensio plasenta di RSUD ZZZ tahun 2007.
1.4.2.3  Untuk mengetahui hubungan antara kejadian retensio plasenta dengan paritas di RSUD ZZZ tahun 2007.

1.5    Manfaat Penelitian
Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1        Peneliti
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan ilmu pengetahuan berupa literatur di perpustakaan khususnya mengenai hubungan antara paritas dengan kejadian retensio plasenta.

1.5.2        Instansi Tempat Penelitian
Sebagai masukan dalam upaya peningkatan keberhasilan penatalaksanaan manajemen aktif kala III dan IV khususnya mengenai Hubungan antara paritas dengan kejadian retensio plasenta.
1.5.3        Bagi Pembaca
Diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi tambahan serta informasi yang bermanfaat khususnya tentang Hubungan antara paritas dengan kejadian Retensio Plasenta.

1.6    Ruang Lingkup Penelitian

1.6.1   Jenis penelitian           :    Deskriptif Korelasi
1.6.2   Sasaran Penelitian       :    Semua ibu bersalin yang mengalami retensio plasenta di RSUD ZZZ Tahun 2007
1.6.3   Pokok penelitian         :    Hubungan antara paritas dengan kejadian Retensio Plasenta
1.6.4   Lokasi penelitian        :    RSUD ZZZ
1.6.5   Waktu Penelitian        :    April – Mei 2008

  Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg