Jumat, 22 Juli 2011

Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian bendungan ASI pada ibu Post Partum

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Setiap tahun jumlah bayi dan balita akibat kekurangan gizi terus meningkat jumlahnya, dari hasil pemantauan asosiasi dokter anak resmi terkemuka di Amerika Serikat The American Academy of Pediatric yang bekerjasama dengan WHO, pada tahun 2000 hingga 2004 tercatat lebih dari 500.000 anak dengan usia di bawah satu tahun meninggal dunia setiap tahunnya akibat kekurangan gizi. Hal ini membuktikan bahwa masih kurangnya perhatian tentang gizi terhadap anak. Oleh karena itu, mereka merekomendasikan menyusui bayi sebagai sumber nutrisi tunggal bagi bayi selama sekitar enam bulan (Nichol, KP, 2005).

Sejak empat dekade yang lalu, jumlah wanita yang memilih menyusui sendiri bayinya mulai berkurang. Jumlah terendah terjadi di tahun-tahun awal 70an ketika kurang dari 40% yang memilih ASI, dan pada minggu keenam setelah melahirkan, kurang dari 20% memberikan ASI kepada bayinya. Sejak itu kemudian ada kecenderungan untuk kembali memberikan ASI, khususnya diantara wanita kelas menengah, dan sekarang 75% wanita mulai menyusui bayinya, dan 35% masih menyusui 3 bulan kemudian (Jones, Derek Llewellyn, 2005).
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics, menunjukkan bahwa Air Susu Ibu (ASI) dapat memberikan perlindungan bagi bayi dalam menurunkan risiko untuk terjadinya diare, infeksi telinga dan radang selaput otak (meningitis) bakteri. Juga mampu melindungi terhadap Diabetes, kegemukan dan asma. Pada penelitian sebelumnya, juga disebutkan manfaat ASI dalam mencegah terjadinya sepsis (infeksi berat) pada bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Bukan hanya itu saja, sang ibu juga memperoleh manfaat yang tidak kalah besarnya. Menyusui mampu untuk menurunkan risiko untuk menderita kanker indung telur dan kanker payudara, dan menurunkan risiko terjadinya patah tulang panggul dan osteoporosis (keropos tulang) saat menopause nantinya. Penelitian sebelumnya juga menyebutkan akan perlindungan pada ibu dalam menurunkan risiko untuk menderita Rematoid Arthritis hingga 30 persen (baby-kids.blogspot.com, 2005).
Hal tersebut didukung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta dimana pemberian ASI berarti memberikan makanan bernilai gizi tinggi untuk bayi secara tepat memenuhi kebutuhan bayi. Disamping itu dapat memberikan zat perlindungan terhadap penyakit, sehingga bayi jarang sakit. Menyusui sendiri memberikan kontak penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, kasih sayang antara ibu dengan bayinya serta memberikan ikatan psikologis yang juga dibutuhkan oleh bayi didalam tumbuh kembangnya (www.menegpp.go.id, 2005).
Menurut Roesli (2004) seharusnya proses pemberian susu pada bayi melibatkan tiga hubungan insani. Ibu yang memberikan ASI, si anak yang diberikan dan ayah sebagai penyeimbang hubungan. Namun pada kenyataannya banyak kaum ayah yang merasa tidak terlibat dalam proses sosial ini cenderung menyerahkan segala urusan pemberian ASI anak pada ibunya saja, dan merasa tidak perlu ikut campur dalam proses ini. “Padahal keterlibatan seorang ayah dalam proses ini akan memberi motivasi ibu untuk menyusui. Jika ibu sudah memiliki motivasi dan optimistis bisa menyusui, air susu-pun akan berhamburan”. Kemudian ia menambahkan, banyak kondisi produksi ASI seorang ibu dikarenakan oleh kondisi emosi seorang ibu. Pada tahap inilah keterlibatan seorang ayah berperan. Hingga apabila seorang ayah mampu memperlihatkan rasa sayang dan perhatian terhadap ibu dan anak, bisa mengakibatkan seorang ibu merasa lebih nyaman dan menghasilkan ASI yang berlimpah. Namun kenyataan yang ada sekarang ini justru malah kebalikannya. “Banyak ibu sekarang tidak menyusui bayinya karena merasa ASI yang diproduksinya tidak cukup banyak, encer, atau malah tidak merasa keluar sama sekali”. Padahal menurutnya, bila mengutip dari penelitian WHO (1999), hanya ada satu dari 1.000 orang ibu yang tidak menyusui.
Pada wanita yang sedang menyusui, bila terlambat memberikan ASI kepada bayinya maka akan terjadi bendungan ASI sehingga, banyak kelenjar ASI yang membengkak yang berisi ASI yg belum dikeluarkan.. Kelenjar ASI dapat juga membengkak oleh karena adanya Infeksi (biasanya disertai rasa nyeri, demam, lebih panas dari jaringan sekitarnya). Sebaiknya setiap benjolan pasa payudara segera ditindaklanjuti dan diberikan terapi yang tepat (www.crb.elga.net.id, 2005).
Selain itu sering juga ibu tidak menyusui bayinya karena terpaksa, baik karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa sakit sewaktu bayinya menyusu, luka-luka pada putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri, kelainan pada putting susu dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria yang merupakan alasan untuk tidak menganjurkan ibu menyusui bayinya, demikian juga ibu yang gizinya tidak baik akan menghasilkan ASI dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan ibu yang sehat dan gizinya baik. Disamping itu juga karena faktor dari pihak bayi seperti bayi lahir sebelum waktunya (prematur) atau bayi lahir dengan berat badan yang sangat rendah yang mungkin masih telalu lemah abaila mengisap ASI dari payudara ibunya, serta bayi yang dalam keadaan sakit (Arifin, 2004).
Menurut hasil Laporan Dinas Kesehatan Propinsi Lampung tahun 2005 bahwa salah satu manfaat ASI bagi sang bayi yang diberikan oleh ibu pada saat bayi berusia 0 – 2 tahun adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi khususnya infeksi gastro-intestinal, pernafasan dan virus.
Dari hasil survei awal yang penulis lakukan di Desa ZZZ pada minggu pertama hingga keempat diketahui bahwa jumlah ibu post partum pada tahun 2006 sebanyak 30 orang, dari jumlah tersebut 9 orang diantaranya (30%) langsung menyusui dini, 21 orang ibu (70%) tidak menyusui langsung, sedangkan keluhan yang dialami terdapat 19 orang (63,33%) mengalami bendungan ASI dan 11 orang (36,67%) tidak mengalami bendungan ASI.
Dari 19 orang ibu yang mengalami bendungan ASI 8 orang (42,10%) mengatakan penyebab terjadinya bendungan ASI dikarenakan terlambat memberikan ASI, 7 orang (36,84%) mengatakan terjadi infeksi pada payudara, dan sisanya 4 orang (21,05%) mengatakan bendungan ASI yang dialami karena adanya penyakit penyerta seperti tuberculose.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang “Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian bendungan ASI pada ibu Post Partum di Desa ZZZ tahun 2007”

1.2  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1.      Diketahui bahwa salah satu manfaat ASI bagi sang bayi yang diberikan oleh ibu pada saat bayi berusia 0 – 2 tahun adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi khususnya infeksi gastro-intestinal, pernafasan dan virus.
2.      Didapatkan jumlah ibu yang mengalami bendungan ASI di Desa Sukoharjo IV sebanyak 19 orang (63,33%).
3.      Diketahui bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya bendungan ASI adalah terlambat memberikan ASI.

1.3   Masalah dan Permasalahan

1.3.1        Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya Faktor-faktor apasajakah yang mempengaruhi kejadian bendungan ASI di Desa ZZZ.

1.3.2        Permasalahan
1.3.2.1  Apakah terlambat memberikan ASI merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya bendungan ASI di Desa ZZZ?
1.3.2.2  Apakah terjadinya infeksi merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian terjadinya ASI di Desa ZZZ?
1.3.2.3  Apakah adanya penyakit penyerta merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya bendungan ASI di Desa ZZZ?

1.4   Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui “Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian bendungan ASI pada ibu Post Partum di Desa ZZZ tahun 2007”

1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Untuk mengetahui faktor terlambat menyusui pada ibu postpartum di Desa ZZZ.
1.4.2.2  Untuk mengetahui faktor terjadinya infeksi pada ibu postpartum di Desa ZZZ.
1.4.2.3  Untuk mengetahui faktor penyakit penyerta pada ibu postpartum di Desa ZZZ.

1.5   Manfaat Penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1        Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
1.5.2        Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat mengenai pentingnya memberikan ASI pada saat setelah post partum.

1.5.3        Bagi Petugas Kesehatan
Diharapkan petugas kesehatan dapat lebih memberikan penyuluhan berupa pendidikan kesehatan kepada ibu-ibu hamil tentang manfaat dan keuntungan menyusui bagi bayinya saat baru melahirkan.
1.5.4        Bagi Penulis
Sebagai penerapan dalam mata kuliah metode penelitian dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam penelitian.

1.6   Ruang Lingkup Penelitian
1.6.1           Jenis Penelitian                   :    Deskriptif
1.6.2           Pokok Penelitian                 :    Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian bendungan ASI pada ibu Post Partum
1.6.3           Sasaran Penelitian               :    Ibu-ibu post partum yang mengalami bendungan ASI di Desa ZZZ
1.6.4           Lokasi Penelitian                :    Desa ZZZ
1.6.5           Waktu Penelitian                :    September – Oktober 2007

Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg