Kamis, 21 Juli 2011

Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas di Puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Setiap tahun 500.000 wanita di negara berkembang meninggal akibat kehamilannya, di samping berjuta-juta wanita hamil mengalami komplikasi kehamilan yang berat.  Selain itu terjadi 7 juta kematian perinatal sebagai akibat gangguan kesehatan ibu pada masa kehamilannya atau akibat proses persalinan (Depkes RI, 1999).

Angka anemia pada kehamilan di Indonesia cukup tinggi, sekitar 67% dari semua ibu hamil.  Sekitar 10 – 15% tergolong anemia berat yang sudah tentu akan mempengaruhi tumbuh kembang janin dalam rahim dan sebagian besar anemia ibu hamil tergolong kekurangan nilai gizi (Manuaba, 2002).  Seorang wanita hamil yang memiliki Hb kurang dari 10 g% barulah disebut anemia dalam kehamilan (Sarwono, 1999).
Di Indonesia penyakit gangguan gizi yang masih sering ditemukan dan merupakan masalah gizi utama adalah: a) gangguan gizi akibat kekurangan kalori dan protein (KKAP), b) gangguan gizi akibat kekurangan vitamin A (KVA), c) gangguan gizi akibat kekurangan iodium (GAKI), d) gangguan gizi akibat kekurangan zat besi (Anemia gizi) (Rasmaliah, 2004).
Sementara studi yang dilakukan Nutrition and Health Surveillance System (NHSS), dan Departemen Kesehatan (2001) menunjukkan sekitar 50% wanita yang baru saja melahirkan di Indonesia yaitu antara kelahiran 1-3 hari tidak mengkonsumsi vitamin A dengan cukup dari makanan sehari-hari. Siti Halati, Manajer Lapangan Operasional HKI, mengatakan angka kecukupan gizi (AKG) pada ibu nifas sekitar 350 Retinol Ekvivalen (RE). Angka ini dihitung dari kandungan vitamin A dalam makanan nabati atau hewani yang dikonsumsi. Hasil studi tentang efektivitas vitamin A yang dilakukan di beberapa kota di Indonesia menunjukkan kesamaan dengan studi serupa di India, Afrika Selatan, dan sejumlah negara lain. Studi juga menunjukkan efektivitas vitamin A bukan hanya teruji pada wanita melahirkan yang ada di pelosok pedesaan, yang diasumsikan lebih banyak mengkonsumsi makanan dengan kandungan vitamin A tinggi, tapi juga wanita hamil di kawasan perkotaan.
Departemen Kesehatan sendiri gencar melakukan program penanggulangan kekurangan vitamin A sejak tahun 1970-an. Menurut catatan Depkes, tahun 1992 bahaya kebutaan terhadap bayi yang baru dilahirkan akibat kekurangan vitamin A pada ibu nifas mampu diturunkan secara signifikan.  Namun sebanyak 50,2% balita masih menderita kekurangan vitamin A sub-klinis yang juga sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup anak. Guna menanggulangi hal ini, Depkes menggandeng HKI untuk program pemberian kapsul vitamin A bagi anak usia 6-59 bulan di Indonesia. Vitamin A dosis tinggi diberikan pada balita dan ibu nifas. Pada balita diberikan dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Agustus dengan dosis 100.000 IU untuk anak 6-12 bulan dan 200.000 IU untuk anak 12-59 bulan dan ibu nifas (Prasetyo, Sulung, 2005).
Salah satu bentuk program penanggulangan kekurangan vitamin A yang dilaksanakan oleh Depkes saat ini yaitu Depkes bekerja sama dengan HKI melaksanakan kegiatan Capacity Building untuk Program Vitamin A di 20 Kabupaten di 9 Provinsi. Di samping itu Depkes bekerja sama dengan UNICEF pernah melaksanakan uji coba pemberian 2 kapsul vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas di 5 provinsi binaan UNICEF dengan harapan dapat dijadikan salah satu program nasional (Depkes RI, 2004).
Di Indonesia cakupan distribusi vitamin A pada tahun 2001 baru mencapai 1.932.332(51,65%) dari target yang diharapkan 90%.  Jumlah tersebut merupakan penurunan dari jumlah pada tahun sebelumnya yang mencapai 52,17%.  Ini berarti target yang diharapkan masih belum terlaksana secara keseluruhan. Beberapa alasan terhambatnya pendistribusian/penyaluran cakupan vitamin di Indonesia yaitu masih minimnya sarana transportasi yang ada serta tenaga kesehatan yang belum mensosialisasikan secara umum kepada masyarakat (Depkes RI, 2002).
Menurut data cakupan ibu nifas yang mendapatkan vitamin A di Kabupaten Tanggamus tahun 2004 sebanyak 18.000 orang dari target yang diharapkan sebanyak 18117 orang (99,35%) dimana pada tahun 2005 menurun menjadi 14.796 (82,2%). (Profil Kesehatan Kabupaten Tanggamus 2006).
Sementara data cakupan ibu nifas yang mendapatkan vitamin A di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ pada tahun 2005 sebanyak 41,42% dan tahun 2006 berjumlah 49,34%. 
Dari hasil pre-survey yang peneliti lakukan pada minggu pertama bulan Juli 2007 di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ diketahui bahwa rendahnya jumlah cakupan vitamin A pada ibu nifas disebabkan oleh beberapa faktor seperti jalur terhambatnya jalur pendistribusian, kurang adanya dukungan dari sarana transportasi  yang memadai serta petugas/bidan yang kurang memberikan informasi tentang vitamin A itu sendiri.
Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas di Puskesmas ZZZ”

1.2   Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mendeskripsikan data yang merupakan identifikasi masalah, yaitu:
1.      Di Indonesia penyakit gangguan gizi yang masih sering ditemukan dan merupakan masalah gizi utama salah satunya adalah gangguan gizi akibat kekurangan vitamin A (KVA)
2.      Diketahui terjadi penurunan jumlah cakupan ibu nifas yang mendapatkan vitamin A pada tahun 2005 di Kabupaten Tanggamus yaitu sebanyak 14.796 (82,2%) dari target yang diharapkan 18.000 orang.
3.      Didapatkan peningkatan jumlah cakupan bufas yang mendapatkan vitamin A di Puskesmas ZZZ tahun 2005 dan 2006.
4.      Diketahui bahwa terdapat beberapa faktor penyebab rendahnya cakupan vitamin A ibu nifas di Wilayah Kerja Puskesmas ZZZ yaitu tenaga kesehatan, jalur distribusi dan sarana transportasi.

1.3    Masalah dan Permasalahan

1.3.1        Masalah
Masalah dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas di Puskesmas ZZZ?

1.3.2        Permasalahan
1.3.2.1  Apakah petugas/bidan merupakan faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas
1.3.2.2  Apakah jalur distribusi/penyaluran merupakan faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas
1.3.2.3  Apakah transportasi merupakan faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas

1.4   Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas di Puskesmas ZZZ.

1.4.2        Tujuan Khusus
1.4.2.1  Untuk mengidentifikasi hubungan antara petugas/bidan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas
1.4.2.2  Untuk mengidentifikasi hubungan antara distribusi/penyaluran dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas
1.4.2.3  Untuk mengidentifikasi hubungan antara transportasi dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas

1.5   Manfaat Penelitian

1.5.1        Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai dokumen dan bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya.
1.5.2        Bagi Petugas Kesehatan
            Untuk menambah wawasan bagi petugas kesehatan, khususnya bidan sebagai penolong persalinan dalam meningkatkan status gizi dan kesehatan ibu nifas.
1.5.3        Bagi Ibu Nifas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan pada ibu nifas tentang pentingnya mendapatkan kapsul vitamin A.
1.5.4        Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai bahan awal dalam melakukan penelitian selanjutnya dalam mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas, sehingga pengetahuan dan wawasan dalam bidang penelitian serta sebagai penerapan ilmu yang telah didapat selama studi.


1.6    Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah korelasi yang dilakukan terhadap ibu nifas yang ada di wilayah kerja Puskesmas ZZZ.  Adapun yang diteliti adalah Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian vitamin A pada ibu nifas. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan September sampai dengan Oktober 2007.

Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

1 comments:

Analis Muslim mengatakan...

Hmm . . .boleh nih sebagai inspirasi

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg