Minggu, 26 Juni 2011

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TINGGINYA AKSEPTOR KB SUNTIK DI BPS

 BAB I
PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Pada tahun 2004 perkiraan jumlah penduduk Indonesia adalah sebesar 216 juta jiwa, dengan tingkat kepadatan 112 jiwa per km2.  Dari jumlah penduduk tersebut diketahui bahwa angka fertilitas di Indonesia pada tahun 2003.sebesar 2,6% yang berarti masih rendahnya angka fertilitas di Indonesia Total Fertility Rate (TFR) jika dibandingkan pada tahun 1971 sebesar 5,6%.  Hal ini menunjukkan bahwa tingkat fertilitas Indonesia lebih rendah dari negara Asia Tenggara lainnya, seperti; Laos 4,7%, Kamboja 4,0%, Filipina 3,7%, Malaysia 2,9% dan Myanmar 2,8% walaupun tidak serendah Singapura 1,4%, Thailand 1,7% Vietnam 1,9% dan Brunei 2,5% (Badan Pusat Statistik, 2003).


Salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk adalah melalui program Keluarga Berencana (KB). Keluarga Berencana (KB) adalah salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan keluarga dalam memberikan nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan dan penjarangan kehamilan, pembinaan ketahanan keluarga, meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, serta untuk mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera (Depkes RI, 1997).
Keluarga kecil yang bahagia dicanangkan dengan adanya program KB pada awal 1970, tercatat angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR) turun dari 5,61 per Pasangan Usia Subur (PUS) pada tahun 1971 menjadi 2,78 per PUS pada tahun 1997. Demikian juga dengan jumlah peserta KB meningkat terus dari 53.000 pada awal program hingga 27 juta akseptor pada awal tahun 2000. Keberhasilan program KB di Indonesia tidak bisa lepas dari peran dan partisipasi perempuan dan ibu rumah tangga. Namun sangat disayangkan ketika melihat angka partisipasi pria, jumlahnya sangat minim (BKKBN, 2003).

Adanya program KB diharapkan ada keikutsertaan dari seluruh pihak dalam mewujudkan keberhasilan KB di Indonesia. Program KB yang didasarkan pada Undang-undang Nomor 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga kecil sejahtera yang serasi dan selaras dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kebijakan operasional dikembangkan berdasarkan empat misi gerakan KB Nasional yaitu pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteran keluarga, yang selanjutnya secara garis besar dapat diklasifikasi menjadi pelayanan kesehatan reproduksi, pemberdayaan ekonomi keluarga dan ketahanan keluarga gerakan KB Nasional (Depkes RI, 1999).

Ada beberapa hal yang dapat mendukung terwujudnya gerakan KB nasional. Pada tahun 2003 adalah bahwa lebih dari 198.012 orang wanita (67,53%) berstatus menikah pernah menggunakan salah satu alat kontrasepsi dan sekitar 1.782.108 orang wanita (51,66%) berstatus menikah sedang menjadi peserta KB aktif (Badan Pusat Statistik, 2003). Dalam pelaksanaannya, program KB nasional digunakan untuk menunda kehamilan, menjarangkan kehamilan dan menghentikan kehamilan atau kesuburan. Salah satu alat kontrasepsi yang efektif bisa menunda atau menjarangkan kehamilan adalah dengan menggunakan Suntik KB (Hartanto, 2003).

Penggunaan alat kontrasepsi merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan program KB. Menurut data Susenas (2001) yang menyatakan bahwa pada tahun 2001 persentase peserta KB aktif, yaitu pasangan usia 15 - 49 tahun yang berstatus kawin dan sedang menggunakan/memakai salah satu alat kontrasepsi adalah 52,54%. Di wilayah perkotaan prosentase mereka yang menggunakan alat-alat kontrasepsi (54,6%) sedikit lebih tinggi daripada di pedesaan (51,0%).       Dari mereka yang sedang menggunakan/memakai alat kontrasepsi, sebagian besar (47,36%) menggunakan alat/cara KB suntik 25,99% menggunakan pil KB, 11,31% menggunakan AKDR/IUD, dan sisanya 15,34% menggunakan alat/cara KB MOW, MOP, susuk, kondom dan lainnya (Depkes RI, 2002).

Menurut Analisis Hasil BKKBN Propinsi Lampung memiliki jumlah peserta KB baru (PB) tahun 2005 sebanyak 10.046 orang dengan rincian peserta KB secara non hormonal adalah AKDR yaitu berjumlah 7.971 orang (10.30%), Implant berjumlah 19.062 orang (19.46%), Suntik 26.792 orang (34.61%) dan jumlah peserta KB dengan PIL adalah 27.589 orang (35.64%) sedangkan pada tahun 2006 Propinsi Lampung telah dapat mencapai PB sebanyak 223.310 akseptor atau 95,60% dari Perkiraan Permintaan Masyarakat (PPM) tahun 2006 sebesar 232.550 akseptor. Sedangkan hasil pencapaian PB untuk Kota Bandar Lampung berjumlah 24.310 PPM dengan pencapaian sebanyak 24,431 PB (92,27%).  Secara keseluruhan jumlah akseptor KB suntik di Propinsi Lampung berjumlah 107.454 akseptor (48,33%).  Ini berarti terjadi peningkatan dari jumlah akseptor KB suntik pada akhir Nopember 2006 yang berjumlah 95.658 akseptor (89,02%).  Jadi selama tahun 2005 – 2006 terjadi peningkatan jumlah akseptor KB sebanyak 9,45%.

Dari hasil pre-survey yang peneliti lakukan pada minggu pertama bulan Mei 2007 di Kelurahan Kebon Jeruk Tanjung Karang Timur diperoleh jumlah akseptor KB sebanyak 580 orang akseptor pada tahun 2006 dengan rincian peserta KB non hormonal: IUD 83 akseptor (32,81%), MOW 69 akseptor (27,27%), MOP 36 akseptor (14,23%), kondom 65 akseptor (25,69%), sedangkan KB hormonal: implant 99 akseptor (30,28%), suntik 141 akseptor (43,12%) dan pil 87 akseptor (26,61%).  Sedangkan di BPS ZZZ jumlah akseptor KB suntik selama tahun 2006 berjumlah 274 orang dan pada tahun 2007 (Maret – April) meningkat menjadi 349 akseptor (78,52%).

Dari 10 orang akseptor KB yang peneliti temui 8 orang diantaranya (80%) mengatakan bahwa mereka memilih KB suntik dengan alasan praktis/mudah, dilakukan hanya 3 bulan sekali dan efek samping yang ditimbulkan sedikit.  Selain itu peneliti menanyakan alasan lain kepada 8 orang akseptor (80%) tentang alasan memilih alat kontrasepsi KB suntik, mereka mengatakan bahwa selain umur yang rata-rata masih produktif, juga lokasi tempat pelayanan kontrasepsi dekat dan biaya yang terjangkau.

Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti mengenai “Faktor-faktor penyebab tingginya akseptor KB suntik di ZZZ”.
1.2  Identifikasi Masalah

Dari latar belakang tersebut di atas, maka penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1.2.1        Terjadinya peningkatan jumlah peserta KB suntik di Propinsi Lampung tahun 2006 yaitu sebanyak 95.658 akseptor (89,02%) dari tahun 2005 yaitu sebesar 9,45%.
1.2.2        Tingginya jumlah peserta akseptor KB suntik di BPS ZZZ selama Maret hingga April 2007 yaitu sebanyak 349 akseptor (78,52%) dibandingkan dengan pada tahun 2006.
1.2.3        Delapan dari 10 orang akseptor mengatakan bahwa mereka memilih KB suntik dengan alasan praktis/mudah, dilakukan hanya 3 bulan sekali dan efek samping yang ditimbulkan sedikit selain itu umur akseptor yang rata-rata masih produktif, lokasi tempat pelayanan kontrasepsi dekat dan biaya yang terjangkau.

1.3   Masalah dan Permasalahan

1.3.1        Masalah: Tingginya jumlah peserta KB suntik di BPS ZZZ pada tahun 2007.
1.3.2        Permasalahan dari latar belakang di atas maka permasalahan yang perlu dikaji dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apa saja penyebab tingginya akseptor KB suntik di BPS ZZZ, yaitu:
1.      Apakah pengetahuan merupakan faktor penyebab tingginya akseptor KB suntik di BPS ZZZ
2.      Apakah lokasi merupakan faktor penyebab tingginya akseptor KB suntik di BPS ZZZ
3.      Apakah biaya merupakan faktor penyebab tingginya akseptor KB suntik di BPS ZZZ

1.4   Tujuan Penelitian

1.4.1        Tujuan Umum
Penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor penyebab tingginya akseptor KB suntik di ZZZ.

1.4.2        Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui pengetahuan merupakan faktor penyebab tingginya akseptor KB suntik di BPS ZZZ
2.      Untuk mengetahui apakah lokasi merupakan faktor penyebab tingginya akseptor KB suntik di BPS ZZZ
3.      Untuk mengetahui apakah biaya merupakan faktor penyebab tingginya akseptor KB suntik di BPS ZZZ


1.5   Manfaat Penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
1.5.1        Peneliti
Mengembangkan dan menerapkan pengetahuan serta kemampuan peneliti terhadap mata kuliah metodologi penelitian, statistik dan mata kuliah KB.
1.5.2        BPS ZZZ
Sebagai referensi atas data yang telah ada, untuk mengkaji dan mengembangkan informasi tentang KB suntik di BPS ZZZ.
1.5.3        Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bacaan di Institusi Pendidikan dan manjadi bahan atau data dasar bagi penelitian lebih lanjut

1.6  Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah tentang faktor-faktor penyebab tingginya akseptor KB suntik BPS ZZZ dengan jenis penelitian deskriptif, objek yang diteliti adalah akseptor KB Suntik yang ada di BPS ZZZ.

 Tersedia (Full Version): Pesan Sekarang

0 comments:

Poskan Komentar

ryan75800's Profile on Ping.sg